BerandaDaerahPesan Inspiratif Gubernur Koster untuk Generasi Muda: Lebih Penting Jadi Orang Baik...

Pesan Inspiratif Gubernur Koster untuk Generasi Muda: Lebih Penting Jadi Orang Baik daripada Orang Penting

Tekankan SDM Bali Tak Cukup Pintar! Harus Berintegritas, Beretika, dan Berkarakter Kuat

Foto: Gubernur Bali Wayan Koster memberikan pesan khusus untuk generasi muda.

Denpasar, KabarBaliSatu

Pembangunan sumber daya manusia (SDM) Bali tidak boleh berhenti pada kemampuan akademik. Bagi Gubernur Bali Wayan Koster, generasi unggul juga harus memiliki integritas, moral, etika, serta karakter yang kuat.

Pesan itu bahkan diarahkan secara tegas kepada jajaran kepala dinas di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali. Koster mengingatkan para pejabat agar tidak menyalahgunakan kewenangan maupun anggaran untuk kepentingan pribadi.

Pernyataan tersebut disampaikan Koster saat membuka Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 bertema “Dharmagita Atmanam Dharma” di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar, Jumat (11/9/2026).

Dalam kesempatan itu, Koster menyoroti karakter masyarakat Bali yang sejak dahulu lekat dengan berbagai nilai luhur. Di antaranya luwih, jemet, jujur, undagi, satya, lascarya, rendah hati bukan rendah diri, toleran, respek, serta menghormati pemerintah dan sesama.

Menurut Koster, nilai-nilai tersebut merupakan bagian dari kesejatian manusia Bali yang harus tetap dipertahankan di tengah perubahan zaman.

Namun, ia mengakui perkembangan zaman juga membawa tantangan terhadap karakter masyarakat. Koster menyebut mulai terjadi degradasi terhadap kesejatian manusia Bali, yang antara lain ditandai dengan munculnya perilaku korupsi, kesombongan, kenakalan hingga tindakan yang tidak baik.

“Mulai ada yang korupsi, mulai ada yang sombong-sombong, mulai ada yang nakal-nakal, gitu. Mulai ada yang jahat-jahat,” kata Koster.

Meski demikian, Koster menegaskan perilaku tersebut bukan gambaran mayoritas masyarakat Bali. Ia meyakini masyarakat yang menjunjung budi pekerti, sopan santun, moral dan integritas masih jauh lebih banyak.

“Astungkara, meskipun begitu, yang begitu enggak banyak. Tetap yang banyak itu, jauh lebih banyak adalah yang baiknya, luwih-nya. Budi pekertinya, sopan santunnya, moralnya, integritasnya. Itu masih menjadi ciri orang Bali,” tuturnya.

Pendidikan Tak Cukup Hanya Pintar

Penguatan karakter tersebut menjadi bagian dari desain pembangunan SDM Bali dalam Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru. Koster menilai sistem pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada kemampuan kognitif. Penguasaan matematika, fisika, kimia, biologi maupun ilmu pengetahuan lainnya memang penting, tetapi belum cukup untuk membentuk manusia Bali yang unggul.

Ia menekankan sedikitnya tiga kompetensi yang harus dibangun secara seimbang, yakni kognitif, afektif dan psikomotor.

Aspek afektif, yang berkaitan dengan rasa, sikap dan keadaban dalam kehidupan, menurut Koster masih perlu mendapatkan perhatian lebih besar.

Karena itu, Pemprov Bali mulai memberlakukan Peraturan Gubernur Bali Nomor 7 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Mata Pelajaran Muatan Lokal pada Pendidikan Formal dan Pendidikan Berbasis Masyarakat.

Kebijakan tersebut menjadi salah satu instrumen untuk memasukkan nilai-nilai kearifan lokal Bali ke dalam proses pendidikan. Tujuannya bukan sekadar mencetak generasi yang cerdas, tetapi juga membentuk anak muda yang memiliki karakter, identitas dan jati diri sebagai orang Bali.

Ingatkan Kepala Dinas Jangan Korupsi

Konsep pembangunan SDM tersebut, kata Koster, juga harus tercermin dalam kehidupan pemerintahan. Karena itu, ia meminta seluruh kepala dinas memahami dan menjalankan arah pembangunan yang telah dirancang.

Koster menegaskan pembangunan SDM Bali tidak dirancang untuk menghasilkan manusia yang biasa-biasa saja. “Ini yang kita rancang. Jadi bukan sesuatu yang biasa, tapi adalah luar biasa. Ini tolong nih para Kadis, itu simak apa yang saya sampaikan dan dijalankan, diimplementasikan,” tegasnya.

Ia kemudian menyampaikan pesan yang lebih spesifik mengenai integritas dalam pengelolaan pemerintahan. Koster meminta para pejabat tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya dan menggunakan anggaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Pak Kadis ini gak ada yang korupsi, jangan korupsi. Pakai uang yang formal-formal aja, haknya aja,” tegasnya.

Menurut Koster, penguatan kualitas SDM menjadi semakin penting karena Bali memiliki wilayah yang terbatas, sementara jumlah penduduk terus bertambah. Pertumbuhan penduduk tersebut, kata dia, harus diimbangi dengan peningkatan kualitas manusia. Jika tidak, pertambahan penduduk justru berpotensi menjadi beban pembangunan.

Karena itu, pembangunan manusia Bali diarahkan agar tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan profesional, tetapi juga mempunyai karakter yang kuat serta mampu menjaga nilai-nilai kehidupan masyarakat Bali.

Lebih Penting Jadi Orang Baik daripada Orang Penting

Pada akhirnya, Koster menempatkan pembangunan karakter sebagai bagian penting dari visi besar pembangunan Bali. Ia ingin generasi muda Bali tumbuh sebagai manusia yang cerdas sekaligus santun, beretika, bermoral dan berintegritas.

Koster pun berpesan agar generasi muda tidak semata-mata mengejar posisi, jabatan atau status sebagai orang penting. Menurutnya, menjadi orang penting memang merupakan sesuatu yang baik. Namun, menjadi orang baik jauh lebih penting.

“It is good to be an important person, but it’s more important to be a good person,” ujar Koster.

“Jadilah orang baik, bukan sekadar menjadi orang penting. Bagus menjadi orang penting, tapi lebih penting lagi menjadi orang baik,” tandasnya. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini