BerandaDaerahUtsawa Dharma Gita Bali 2026 Dimulai, Gubernur Koster Dorong Orang Bali Kembali...

Utsawa Dharma Gita Bali 2026 Dimulai, Gubernur Koster Dorong Orang Bali Kembali ke Jati Diri

Foto: Pembukaan Utsawa Dharmagita XXXIII Provinsi Bali Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar, Jumat (11/9/2026).

Denpasar, KabarBaliSatu

Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 resmi dimulai. Ajang seni dan sastra keagamaan Hindu ini dibuka langsung Gubernur Bali Wayan Koster dengan pemukulan kulkul di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Jumat (11/9/2026).

UDG XXXIII tidak sekadar menjadi ruang pelestarian seni keagamaan. Kegiatan yang diikuti peserta dari sembilan kabupaten/kota se-Bali ini juga menjadi bagian penting dalam menyeleksi kontingen terbaik yang akan mewakili Bali pada UDG Tingkat Nasional 2027 di Sulawesi Tengah.

Mengusung tema “Dharmagita Atmanam Dharma”, UDG tahun ini diarahkan menjadi momentum memperkuat nilai-nilai dharma sekaligus membangun kualitas sumber daya manusia Bali.

Dalam sambutannya, Koster menegaskan, UDG memiliki posisi strategis dalam membangun manusia Bali yang unggul. Hal tersebut sejalan dengan salah satu arah utama Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun 2025–2125, yakni mewujudkan sumber daya manusia (SDM) Bali yang unggul.

“Utsawa Dharma Gita ini merupakan salah satu wahana membangun sumber daya manusia unggul, SDM Bali unggul, sesuai Haluan Bali 100 Tahun. Salah satu poin dari Haluan Bali 100 Tahun itu adalah mewujudkan SDM Bali unggul,” ujar Koster.

Menurutnya, keunggulan manusia Bali sejatinya bukan sesuatu yang baru. Nilai tersebut telah menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan masyarakat Bali sejak lama.

Koster menyebut sejumlah karakter yang menjadi nature atau sifat dasar orang Bali, di antaranya luwih, jemet, jujur, undagi, satya, lascarya, rendah hati, toleran, respek, serta hormat kepada pemerintah dan sesama.

“Nature-nya orang Bali itu adalah orang-orang unggul. Unggul dalam bidang-bidang tertentu: luwih, jemet, jujur, undagi, satya, lascarya, rendah hati—bukan rendah diri—toleran, respek, hormat dengan pemerintah dan sesama. Itu nature-nya orang Bali,” tegasnya.

Karena itu, Koster mendorong masyarakat Bali untuk kembali pada nature dan kesejatian sebagai Nak Bali di tengah derasnya perubahan zaman. Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang pintar dan memiliki kompetensi akademik.

Yang tidak kalah penting adalah membangun kembali integritas, karakter, jati diri, dan identitas orang Bali secara menyeluruh.

Koster mengakui perkembangan zaman membawa banyak kemajuan. Pertumbuhan ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan dan berbagai sektor lainnya terus bergerak. Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul pula persoalan baru yang dapat memengaruhi karakter manusia.

Ia menilai sebagian kecil masyarakat Bali mulai mengalami degradasi dari kesejatiannya sebagai orang Bali. Fenomena seperti korupsi, kesombongan, perilaku nakal hingga tindakan yang merugikan orang lain menjadi tantangan yang harus dihadapi.

“Perkembangan zaman membawa perubahan. Ada berupa kemajuan, ekonominya tumbuh, semuanya baik. Tapi ada juga yang muncul menjadi masalah baru. Kalau berkaitan dengan manusia Bali, ada yang dinamakan mengalami degradasi, penurunan dari kesejatiannya sebagai orang Bali,” katanya.

Meski demikian, Koster menekankan bahwa perilaku tersebut bukan gambaran mayoritas masyarakat Bali. Ia meyakini karakter baik, budi pekerti, sopan santun, moral dan integritas masih menjadi ciri utama orang Bali.

“Yang begitu tidak banyak. Tetap yang banyak, jauh lebih banyak adalah yang baiknya, luwih-nya, budi pekertinya, sopan santunnya, moralnya, integritasnya. Itu masih menjadi ciri orang Bali,” ujarnya.

Menurut Koster, berbagai kasus negatif yang dilakukan sebagian orang Bali merupakan pengecualian, bukan representasi keseluruhan masyarakat. Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga citra Bali sebagai daerah yang dikenal memiliki masyarakat dengan karakter baik dan berbudaya.

Persoalannya, kata Koster, sistem kehidupan modern yang berkembang saat ini belum sepenuhnya mengakomodasi kepentingan lokal, termasuk upaya menjaga dan mengembalikan masyarakat Bali pada jati dirinya.

“Kita terbawa arus oleh perkembangan yang didesain oleh sistem. Sistem ini tidak mengakomodasi kepentingan yang berkaitan dengan kelokalan. Tertinggal bagaimana mengembalikan agar orang Bali ini kembali pada jati dirinya, kembali pada nature-nya, kembali pada kesujatiannya sebagai Nak Bali,” katanya.

Koster menilai pendidikan menjadi salah satu ruang penting untuk menjawab persoalan tersebut. Selama ini, pendidikan formal telah berjalan baik dalam membangun kompetensi intelektual peserta didik melalui matematika, fisika, kimia, biologi dan berbagai bidang sains lainnya.

Namun, pembangunan manusia tidak boleh berhenti pada kemampuan kognitif.

“Pintarnya iya, tapi ada yang kurang,” kata Koster.

Karena itu, melalui Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun, ia mendorong penguatan kompetensi afektif sebagai bagian integral dari pembangunan SDM Bali.

Menurut Koster, penguatan tersebut diperlukan agar generasi Bali tidak tercerabut dari sistem nilai yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

“Supaya dia kembali pada sistem nilai yang pernah dia hidup dalam kehidupannya sehari-hari,” pungkasnya.

Melalui UDG XXXIII Tahun 2026, nilai-nilai tersebut diharapkan tidak hanya tampil dalam bentuk lantunan Dharma Gita, tetapi juga tumbuh menjadi karakter yang hidup dalam diri generasi Bali. Ajang ini pun menjadi momentum untuk mempertemukan seni, spiritualitas, pendidikan karakter, sekaligus upaya menyiapkan SDM Bali yang unggul dan tetap berakar pada jati dirinya.

Berita Lainnya

Berita Terkini