Foto: Ilustrasi UMKM Bali go digital.
Denpasar, KabarBaliSatu
Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Bali diminta segera beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen di era digital. Selain menjaga kualitas produk dan pelayanan, UMKM juga didorong memanfaatkan media sosial sebagai sarana utama pemasaran agar mampu bersaing di tengah tren pasar yang terus berkembang.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah Provinsi Bali, Tri Arya Dhyana Kubontubuh, S.E., M.Si., mengatakan pola belanja masyarakat saat ini telah berubah. Jika sebelumnya keputusan membeli lebih banyak dipengaruhi oleh harga dan kualitas produk, kini tingkat popularitas atau viralnya sebuah produk di media sosial turut menjadi faktor penting.
“Pelaku UMKM tidak cukup hanya mengandalkan toko fisik. Mereka juga harus memiliki toko virtual dan aktif memasarkan produknya melalui media sosial. Perubahan tren pasar ini harus direspons dengan cepat,” ujarnya.
Menurut Tri Arya, fondasi utama yang harus dimiliki UMKM tetap berada pada kualitas produk. Produk yang dihasilkan harus mampu mencerminkan identitas lokal Bali sehingga memiliki nilai tambah dan daya saing, baik di pasar domestik maupun internasional.
Ia menjelaskan, untuk menghasilkan produk berkualitas, pelaku UMKM membutuhkan dukungan permodalan yang memadai. Karena itu, akses pembiayaan menjadi salah satu aspek penting yang terus didorong oleh pemerintah agar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para pelaku usaha.
Selain permodalan, pemerintah juga rutin menyelenggarakan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM. Pelatihan tersebut mencakup pengemasan produk, branding, hingga strategi pemasaran digital agar produk lebih menarik dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
“Branding, kemasan, hingga strategi promosi terus kami tingkatkan melalui berbagai pelatihan. Namun yang tidak kalah penting adalah bagaimana produk tersebut dipasarkan sesuai dengan tren pasar saat ini,” jelasnya.
Tri Arya menilai media sosial kini memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan sebuah produk. Produk yang mampu menarik perhatian publik di platform digital berpotensi memperoleh pasar yang jauh lebih luas dibandingkan hanya mengandalkan penjualan secara konvensional.
Meski demikian, ia menegaskan keberadaan toko fisik tetap penting, terutama bagi sektor kuliner dan usaha yang membutuhkan interaksi langsung dengan konsumen. Oleh sebab itu, pelaku UMKM diharapkan mampu menggabungkan kekuatan toko fisik dengan pemasaran digital agar dapat menjangkau lebih banyak pelanggan.
“Kami berharap pelaku UMKM Bali terus beradaptasi dan berinovasi mengikuti perkembangan teknologi. Toko fisik tetap diperlukan, tetapi kini harus dilengkapi dengan toko virtual yang aktif sehingga mampu mengikuti perubahan perilaku pasar,” pungkasnya. (kbs)

