Bagi masyarakat Bali, hidup adalah upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan duniawi dan nilai spiritual. Salah satu wujud keseimbangan itu tampak dalam tradisi mepatung, praktik gotong royong yang digelar menjelang Hari Raya Galungan. Sekilas, tradisi ini tampak sederhana: warga berkumpul, mengumpulkan dana bersama untuk membeli babi, lalu bergotong royong menyembelih, memotong, dan membagikan daging kepada seluruh peserta. Namun di balik kesederhanaannya, mepatung menyimpan makna ekonomi dan moral yang mendalam.
Tradisi ini menunjukkan bahwa akuntansi tidak selalu hadir di ruang berpendingin atau dibalut jargon teknis. Di tengah masyarakat, prinsip dasar akuntansi transparansi, akuntabilitas, dan keadilan hidup dalam bentuk gotong royong yang tulus. Dana urunan dikelola secara terbuka, keputusan diambil bersama, dan hasilnya dibagi secara adil. Tidak ada laporan keuangan formal, tetapi kejujuran sosial menjadi jaminan utama. Dalam mepatung, akuntabilitas bukan lahir dari aturan tertulis, melainkan dari rasa tanggung jawab moral kepada sesama.
Praktik ini sekaligus menunjukkan kecerdasan finansial kolektif. Warga menyadari bahwa harga kebutuhan pokok akan melonjak menjelang Galungan. Dengan berinisiatif melakukan urunan lebih awal, mereka menekan biaya dan menghindari beban ekonomi individu. Tanpa disadari, masyarakat telah menerapkan prinsip literasi keuangan modern, perencanaan, efisiensi, dan mitigasi risiko, namun dilakukan melalui kebiasaan sosial, bukan pelatihan formal. Pengetahuan finansial tumbuh dari pengalaman gotong royong, bukan dari buku teori.
Nilai sosial menjadi inti mepatung. Setiap orang memiliki peran dari pengumpul dana hingga pembagi hasil. Hubungan antarwarga diperkuat oleh semangat menyama braya, persaudaraan yang menempatkan kebersamaan di atas kepentingan pribadi. Tradisi ini mengingatkan kita pada konsep modal sosial yang dikemukakan James Coleman: kepercayaan dan norma bersama menjadi fondasi keberlanjutan komunitas. Dalam mepatung, kepercayaan jauh lebih kuat dibanding pengawasan formal; kebersamaan menjadi mekanisme kontrol yang efektif.
Bagi masyarakat Bali, kegiatan ekonomi tidak pernah terlepas dari nilai spiritual. Mepatung bukan sekadar urusan konsumsi menjelang hari raya, tetapi bagian dari yadnya persembahan tulus kepada Tuhan, sesama manusia, dan alam. Di sinilah harmoni Tri Hita Karana menemukan wujudnya: keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), sesama (pawongan), dan alam (palemahan). Aktivitas ekonomi menjadi suci karena dijalankan dengan niat menjaga harmoni, bukan sekadar mencari untung.
Dari tradisi inilah kita belajar bahwa akuntansi sejati hidup di tengah masyarakat, dijalankan dengan kejujuran dan dijiwai nilai kemanusiaan. Jika akuntansi modern menekankan objektivitas angka, maka mepatung menekankan kejujuran dan keterbukaan. Jika sistem keuangan korporasi mengandalkan kontrol dan audit, masyarakat Bali mengandalkan kepercayaan sosial dan solidaritas. Di sini, akuntansi bukan lagi sekadar laporan, melainkan bahasa moral yang menjaga keseimbangan antara ekonomi dan nurani.
Mepatung adalah bentuk akuntansi humanis sebuah pendekatan yang menempatkan manusia dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai pusatnya. Uang tidak lagi dipandang sebagai tujuan, melainkan sebagai amanah untuk dikelola dengan rasa tanggung jawab. Manusia Bali, melalui tradisi ini, menunjukkan bahwa mereka bukan hanya homo economicus yang rasional, tetapi juga homo socius yang menjunjung solidaritas, sekaligus homo religiosus yang menyadari dimensi spiritual dalam setiap tindakan ekonomi.
Di tengah krisis kepercayaan terhadap sistem ekonomi modern yang sering diwarnai korupsi dan penyalahgunaan dana publik, tradisi seperti mepatung memberi pelajaran berharga. Tradisi ini menegaskan bahwa pertanggungjawaban sejati lahir dari kepercayaan dan kesadaran moral, bukan dari ketakutan terhadap sanksi. Transparansi yang lahir dari keikhlasan jauh lebih kokoh dibanding laporan yang sekadar memenuhi kewajiban administratif.
Kesederhanaan mepatung mengandung kedalaman filosofi ekonomi yang berimbang: bekerja dengan efisiensi, berbagi dengan keadilan, dan menghargai hasil dengan rasa syukur. Kesejahteraan tidak lahir dari persaingan, tetapi dari kolaborasi yang dijalankan dengan hati. Di tengah dunia yang kian menilai segalanya lewat angka, masyarakat Bali mengingatkan kita bahwa ekonomi tanpa nilai kemanusiaan hanya akan melahirkan kehampaan.
Mepatung adalah cermin bahwa praktik akuntansi sejati berakar pada nilai sosial dan spiritual. Dalam budaya Bali, angka bukanlah tujuan, melainkan sarana menjaga harmoni. Akuntabilitas bukan sekadar konsep dalam teori, tetapi wujud nyata dari kejujuran dan tanggung jawab bersama. Kearifan lokal ini memberi pesan sederhana: sistem ekonomi yang berkelanjutan hanya dapat tumbuh bila dijalankan dengan nurani dan dijiwai oleh nilai kemanusiaan.
Penulis:
I Made Agus Putrayasa
Mahasiswa PDIA, Universitas Pendidikan Ganesha

