BerandaDaerahPerkuat Kedaulatan Pangan Bali, Gubernur Koster Dukung Penuh Pengembangan Cabai Super Pedas,...

Perkuat Kedaulatan Pangan Bali, Gubernur Koster Dukung Penuh Pengembangan Cabai Super Pedas, Tabia Sala 1 Diklaim Terpedas di Indonesia

Foto: Ilustrasi pengembangan cabai super pedas Tabia Sala 1 hasil riset Pemerintah Provinsi Bali bersama IPB dan Universitas Udayana. Varietas ini dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, menjaga pasokan cabai, serta mendukung ketahanan pangan dan stabilitas harga di Bali.

Denpasar, KabarBaliSatu

Pemerintah Provinsi Bali terus memperkuat sektor pertanian sebagai bagian dari upaya mewujudkan kedaulatan pangan. Salah satu langkah yang kini mendapat perhatian serius adalah pengembangan varietas cabai lokal unggulan Tabia Sala 1 dan Tabia Sala 2 melalui kolaborasi riset bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Udayana (Unud).

Gubernur Bali Wayan Koster memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan kedua varietas tersebut. Bahkan, Tabia Sala 1 disebut memiliki tingkat kepedasan yang berlipat-lipat dibandingkan cabai biasa dan diklaim sebagai cabai terpedas di Indonesia saat ini.

Koster mengatakan pengembangan varietas cabai tersebut merupakan bagian dari keseriusan Pemprov Bali dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat secara mandiri.

“Semeton Bali yang tiang hormati, hari ini tiang menerima Profesor Syukur dari Institut Pertanian Bogor yang diajak bekerja sama Pemerintah Provinsi Bali dengan IPB dalam mengembangkan varietas cabai,” ujar Koster.

Menurutnya, penelitian pengembangan cabai tersebut telah dilakukan selama tiga tahun. Hasil riset itu kemudian menghasilkan dua varietas, yakni Tabia Sala 1 dan Tabia Sala 2.

Tingkat kepedasan Tabia Sala 1 menjadi salah satu keunggulan utama varietas tersebut. Koster menggambarkan, penggunaan seperempat bagian cabai ini disebut sudah memiliki tingkat kepedasan yang setara dengan sekitar 10 cabai rawit biasa.

“Perlu diketahui bahwa kepedasannya ini berlipat-lipat kali dari kepedasan cabai biasa. Jadi kalau ini makainya motongnya cuma seperempat, itu sudah sama pedasnya dengan 10 cabai rawit. Bayangkan pedasnya seperti apa,” katanya.

Setelah melalui tahap riset, kedua varietas tersebut kini memasuki tahap uji coba di tingkat petani. Uji coba awal akan dilakukan di Luwus dan sejumlah desa lainnya di Kabupaten Tabanan.

Hasil uji coba tersebut nantinya menjadi bahan evaluasi sebelum varietas cabai dikembangkan lebih luas dan diberikan kepada petani di Bali. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas cabai sekaligus memperkuat ketersediaan pasokan di daerah.

Koster menilai cabai bukan sekadar komoditas pelengkap dalam kebutuhan rumah tangga. Komoditas tersebut menjadi salah satu kebutuhan penting masyarakat sekaligus memiliki pengaruh terhadap inflasi.

“Cabai merupakan kebutuhan dasar kita untuk kehidupan memasak, karena masak tanpa cabai itu kurang mantap. Dan cabai juga salah satu faktor yang membuat angka inflasi,” ujarnya.

Karena itu, menurut Koster, kemampuan Bali memenuhi kebutuhan cabai dari produksi sendiri akan memberikan dampak strategis terhadap kestabilan harga pangan.

“Kalau cabainya bisa kita atasi sendiri, maka kestabilan harga itu bisa dijaga,” tegasnya.

Pengembangan Tabia Sala 1 dan Tabia Sala 2 sekaligus menunjukkan arah baru pembangunan pertanian Bali yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga berbasis riset dan inovasi. Kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan peneliti diharapkan mampu melahirkan varietas lokal yang memiliki produktivitas serta daya saing tinggi.

Koster juga menyampaikan apresiasi kepada Profesor Syukur beserta tim peneliti atas riset yang telah dilakukan selama tiga tahun tersebut.

Kerja sama penelitian antara Pemprov Bali, IPB, dan Unud pun tidak berhenti pada pengembangan cabai. Ke depan, kolaborasi tersebut akan dilanjutkan untuk mengembangkan varietas pangan strategis lainnya, salah satunya bawang putih Bali.

Langkah tersebut menjadi bagian dari agenda besar Bali dalam memperkuat ketahanan sekaligus kedaulatan pangan melalui pengembangan komoditas lokal berbasis riset, teknologi, dan kebutuhan masyarakat. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini