BerandaDaerahPunya Aset Iklim Berlimpah, Bali Bidik Pembangunan PLTS hingga 1.200 MWp dan...

Punya Aset Iklim Berlimpah, Bali Bidik Pembangunan PLTS hingga 1.200 MWp dan Blue Carbon Credit

Dari Ratusan Hektare Mangrove hingga Puluhan Ribu Hektare Sawah Organik, Pemprov Bali Siap Pimpin Transisi Energi Hijau

Foto: Gubernur Koster dalam acara Indonesia Carbon and Biodiversity Summit 2026 di Nusa Dua, Badung, Selasa (8/9/2026.

Badung, KabarBaliSatu

Provinsi Bali memaparkan kesiapannya menjadi pemain utama dalam ekosistem ekonomi hijau melalui penguatan aset iklim di sektor energi terbarukan, blue carbon, pertanian organik, hingga kehutanan.

Dalam penjelasannya pada Indonesia Carbon and Biodiversity Summit 2026 di Nusa Dua, Badung, Selasa (8/9/2026), Gubernur Bali Wayan Koster merinci keunggulan aset iklim daerahnya. Di sektor energi terbarukan, Bali saat ini telah mengoperasikan sekitar 45 MWp Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terpasang, didukung 17.225 unit kendaraan listrik roda dua dan roda empat, serta 302 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di sembilan kabupaten/kota.

Ke depan, Bali menargetkan pengembangan PLTS skala besar tahap pertama sebesar 300 MWp, yang berpotensi ditingkatkan hingga kisaran 700 hingga 1.200 MWp. Langkah ini dirancang untuk mempercepat transisi energi sekaligus membuka peluang Renewable Energy Certificate (REC) dan carbon credit.

Selain energi, kekayaan ekosistem pesisir Bali menjadi modal utama pada sektor blue carbon. Bali tercatat memiliki sekitar 2.330 hektare kawasan mangrove—dengan 88 persen di antaranya masuk kategori lebat—serta 1.307 hektare padang lamun yang berpotensi besar dikembangkan menjadi blue carbon credit demi kesejahteraan warga lokal.

Di Sektor Pertanian dan Kehutanan, Bali juga mengantongi aset karbon yang solid.

Pertanian Organik: Luasan sawah organik mencapai 52.909 hektare (sekitar 82 persen dari total luas sawah di Bali), berpotensi tinggi untuk pengembangan soil carbon dan biodiversity credits.

Kawasan Hutan: Memiliki total 131.171 hektare kawasan hutan, terdiri atas 96.688 hektare hutan lindung dan 26.396 hektare kawasan konservasi sebagai penyerap karbon sekaligus penjaga keanekaragaman hayati.

Gubernur Koster menegaskan, Bali membutuhkan sinergi multipihak—mulai dari investor, pengembang proyek, lembaga standar internasional, akademisi, hingga komunitas—guna mengelola aset ekologis tersebut secara optimal. Menurutnya, seluruh kolaborasi ini tidak hanya bertujuan mengurangi emisi, tetapi juga memperkuat ketahanan lingkungan serta meningkatkan daya saing global Bali. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini