BerandaDaerahMenuju Usia Emas HIPPI Terus Menebarkan Kekuatan Sinergi Pang Pade Payu! HIPPI...

Menuju Usia Emas HIPPI Terus Menebarkan Kekuatan Sinergi Pang Pade Payu! HIPPI Bali Gelar Festival Permainan Tradisional Pribumi di TK Kumara Satya Dharma

Foto: Suasana keseruan dan kebersamaan di Festival Permainan Tradisional Pribumi di TK Kumara Satya Dharma Singaraja, Kabupaten Buleleng pada 14 Februari 2026 yang digelar DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Provinsi Bali serangkaian menyambut HUT Emas DPP HIPPI.

Singaraja, KabarBaliSatu

DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Provinsi Bali kembali menegaskan komitmennya menghadirkan program nyata yang menyentuh langsung masyarakat. Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 atau HUT Emas DPP HIPPI, momentum setengah abad organisasi pengusaha pribumi ini dimaknai dengan aksi kolaboratif yang berdampak hingga ke akar rumput.

Mengusung semangat Sinergi Pang Pade Payu, DPD HIPPI Bali menggelar Festival Permainan Tradisional Pribumi di TK Kumara Satya Dharma Singaraja, Kabupaten Buleleng, bertepatan dengan Hari Kasih Sayang (Valentine), 14 Februari 2026. Kegiatan ini terselenggara berkat sinergi DPC HIPPI Buleleng selaku tuan rumah, bersama BEM STIE Satya Dharma Singaraja, TK Kumara Satya Dharma, serta dukungan Rotary Club of Bali Bersinar dan sejumlah organisasi lainnya.

Dalam festival tersebut, anak-anak diajak kembali mengenal permainan tradisional, salah satunya dengkleng—permainan melompat dengan satu kaki pada petak-petak yang digambar di tanah, yang juga dikenal sebagai engklek, taplak gunung, atau cak ingkling. Permainan ini melatih keseimbangan, koordinasi, dan gerak kinestetik anak melalui penggunaan batu atau gaco sebagai penanda sasaran. Selain dengkleng, anak-anak juga mengikuti permainan menyusun bola warna di atas gelas yang melatih konsentrasi dan kerja sama.

Keceriaan dan tawa pun mewarnai suasana sekolah. Raut wajah polos penuh antusias tampak ketika anak-anak bermain bersama, menikmati kebersamaan tanpa gawai di tangan.

Ketua Umum DPD HIPPI Bali, Dr. Gung Tini Gorda, menegaskan bahwa festival ini menjadi upaya membumikan kembali permainan tradisional di tengah derasnya arus digitalisasi. Menurutnya, pengenalan sejak dini penting untuk menanamkan nilai interaksi sosial, kebersamaan, sekaligus mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai.

“Sedini mungkin anak-anak perlu memahami arti interaksi sosial dan kebersamaan. Ini juga menjadi cara sederhana untuk mengurangi ketergantungan pada gadget,” ujarnya.

Ia menambahkan, permainan tradisional dapat diterapkan secara rutin di sekolah tanpa biaya besar. Selain efisien, aktivitas ini memberikan pembelajaran bermakna tentang pentingnya berinteraksi dan membangun empati sejak usia dini.

Ketua Panitia Festival Permainan Tradisional Pribumi, Ni Made Septia Kusuma Dewi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan HUT ke-50 DPP HIPPI. Ia berharap pengenalan permainan tradisional tidak berhenti pada momen seremonial, melainkan terus dikembangkan di kalangan anak-anak dan masyarakat luas.

“Masih banyak yang belum tahu cara bermain dengkleng, bahkan di usia dewasa. Ke depan, kami akan terus mendukung agar permainan tradisional semakin sering dimainkan dan lestari,” katanya.

Dukungan juga datang dari kalangan mahasiswa dan perguruan tinggi. Ketua BEM STIE Satya Dharma Singaraja, Kadek Danuarta, menyatakan bahwa kampus sejak awal terlibat dalam perancangan festival ini. Menurutnya, kegiatan semacam ini berpotensi berlanjut dengan skala yang lebih luas.

Sementara itu, pihak sekolah menyambut positif kegiatan tersebut. Putu Suantini dari TK Kumara Satya Dharma menilai festival ini sangat bermanfaat bagi anak-anak dan guru, terlebih karena dirangkaikan dengan peringatan HUT sekolah.

“Di era sekarang, banyak anak tidak lagi mengenal permainan tradisional. Kegiatan ini membantu menumbuhkan kebersamaan sekaligus meningkatkan perkembangan fisik motorik anak,” ungkapnya.

Dari sisi organisasi sosial, Immediate Past President Rotary Club of Bali Bersinar, Tiwi Tjandra, menilai festival ini selaras dengan salah satu dari tujuh area fokus Rotary, yakni peace building and conflict prevention. Nilai-nilai perdamaian, kata dia, dapat ditanamkan sejak dini melalui aktivitas sederhana dan menyenangkan.

“Melalui permainan tradisional, anak-anak belajar nilai kebersamaan dan perdamaian. Harapannya, nilai-nilai ini tertanam sejak usia dini,” ujarnya.

Koordinator DPC HIPPI Buleleng, Ayu Wina, menyebut usia 50 tahun sebagai usia emas bagi HIPPI. Meski diibaratkan usia matang, semangat organisasi justru tetap muda dan penuh energi.

“HIPPI di usia 50 tahun tetap greget berkarya. Festival permainan tradisional ini menjadi wujud semangat melestarikan budaya sekaligus mengajak anak-anak mengurangi ketergantungan pada gadget,” katanya.

Ia pun berharap generasi muda ke depan tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara, serta terus bersinergi dalam berbagai kegiatan positif.

Melalui Festival Permainan Tradisional Pribumi ini, DPD HIPPI Bali menegaskan bahwa perayaan usia emas bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk menghadirkan dampak nyata—menghubungkan kembali generasi muda dengan akar budaya, nilai kebersamaan, dan semangat gotong royong. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini