Foto: Koordinator Dewan Penasihat Menteri Kebudayaan, Putu Supadma Rudana (PSR) yang juga merupakan sosok Inisiator RUU Permuseuman yang kini telah menjadi inisiatif Pemerintah untuk diajukan ke DPR RI.
Gianyar, KabarBaliSatu
Koordinator Dewan Penasihat Menteri Kebudayaan, Putu Supadma Rudana (PSR) menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dengan pendekatan pentahelix dalam memperkenalkan dan menguatkan budaya Indonesia di tengah arus globalisasi.
Pernyataan itu disampaikan di Gianyar belum lama ini. Mantan Anggota DPR RI Dapil Bali dua periode tersebut menilai, tanpa sinergi yang kuat, kebudayaan Indonesia berisiko kalah gaung dibanding produk dan budaya asing yang terus membanjiri pasar domestik.
“Kolaborasi antara kreator, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan media menjadi kunci. Jika semua memahami esensi budaya, maka pesan yang disampaikan akan utuh dan berdampak,” ujar tokoh Bali yang juga Anggota Tim Repatriasi Pemulangan Artefak Indonesia dari luar negeri khususnya pada era kolonialisasi ini.
Supadma Rudana menekankan, pemahaman budaya harus dimulai dari para pencipta karya. Seniman, pelaku seni, hingga kreator muda perlu menjiwai karya yang dihasilkan, sehingga mampu menghargai dan menjelaskan nilai di baliknya kepada publik.
Ia menilai, selama ini masih ada celah dalam membangun pemahaman tersebut. Padahal, ketika rantai komunikasi antara kreator, regulator, pelaku usaha, dan media terbangun dengan baik, maka budaya dapat menjadi kekuatan besar bangsa.
Sebagai contoh, ia menyoroti Bali yang dikenal sebagai destinasi pariwisata berbasis budaya dan spiritual. Namun, menurutnya, edukasi terhadap wisatawan mancanegara masih perlu diperkuat agar mereka memahami nilai-nilai lokal seperti Tri Hita Karana, kesakralan pura, serta etika berkunjung ke ruang-ruang suci.
“Jangan sampai wisatawan datang tanpa pemahaman, lalu justru merusak nilai dan kesucian tempat,” tegas President of The Rudana Art Institution sekaligus Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia itu.
Selain itu, Supadma Rudana juga menyoroti fenomena menurunnya kebanggaan sebagian generasi muda terhadap identitas nasional. Ia menilai, pendidikan berbasis kebudayaan harus diperkuat agar tidak muncul lagi anggapan bahwa menjadi warga negara asing lebih membanggakan.
Di sisi lain, ia menegaskan pentingnya pemulangan artefak budaya Indonesia dari luar negeri. Menurutnya, warisan leluhur tidak seharusnya hanya dinikmati oleh publik internasional, sementara generasi muda di dalam negeri justru tidak memiliki akses.
“Apakah adil jika jutaan anak bangsa tidak bisa melihat langsung warisan leluhurnya?” ujar Supadma Rudana yang juga merupakan sosok Inisiator RUU Permuseuman yang kini telah menjadi inisiatif Pemerintah untuk diajukan ke DPR RI.
Ia menyebut, Indonesia memiliki kekayaan sejarah panjang—mulai dari era Sriwijaya, Tarumanegara, Kutai, hingga Majapahit—yang harus terus digaungkan sebagai identitas bangsa.
Lebih jauh, Supadma Rudana mengingatkan bahwa nilai budaya tidak bisa semata diukur secara ekonomi, berbeda dengan produk industri global seperti otomotif atau hiburan populer dunia. Budaya, menurutnya, memiliki nilai tak ternilai yang justru menjadi fondasi peradaban.
Karena itu, ia mendorong adanya transformasi besar melalui sinergi dan kolaborasi nasional untuk mengangkat budaya sebagai kekuatan utama bangsa—baik dalam diplomasi, ekonomi, maupun pembangunan karakter.
“Ini bukan sekadar pelestarian, tapi gerakan bersama untuk menjadikan kebudayaan sebagai way of life bangsa Indonesia,” pungkas Supadma Rudana yang dijuluki “Mr. Sinergi” dan “Mr. Excellence” oleh sejumlah tokoh ini. (kbs)

