BerandaDaerahNCPI Bali Dorong Solusi Nyata Pengelolaan Sampah, Tekankan Kolaborasi dan Teknologi

NCPI Bali Dorong Solusi Nyata Pengelolaan Sampah, Tekankan Kolaborasi dan Teknologi

Tak Cukup Regulasi, Bali Butuh Aksi Nyata Atasi Persoalan Sampah

Foto: Kegiatan sarasehan bertajuk “Pengolahan Sampah antara Solusi dan Polusi” di kawasan Kuta, Senin (20/4/2026).

Badung, KabarBaliSatu

Persoalan sampah di Bali kembali menjadi sorotan. Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nawacita Pariwisata Indonesia (NCPI) Provinsi Bali bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung menggelar sarasehan bertajuk “Pengolahan Sampah antara Solusi dan Polusi” di kawasan Kuta, Senin (20/4/2026).

Forum ini mempertemukan sejumlah pakar, akademisi, dan pemangku kebijakan untuk merumuskan langkah konkret dalam menghadapi krisis sampah yang kian mendesak, terutama di daerah pariwisata.

Ketua NCPI Bali, Agus Maha Usadha, menegaskan bahwa kondisi pengelolaan sampah saat ini sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan dan berpotensi mengganggu keberlanjutan pariwisata Bali sebagai destinasi global.

“Masalah sampah bukan lagi isu biasa. Ini sudah menyentuh kenyamanan wisatawan dan citra Bali di mata dunia,” ujarnya.

Ia mengingatkan, sektor pariwisata menyumbang sekitar 66 persen terhadap perekonomian Bali dan lebih dari separuh devisa pariwisata nasional. Di Kabupaten Badung sendiri, kontribusinya bahkan mencapai sekitar 87 persen terhadap APBD. Namun di sisi lain, pesatnya pertumbuhan industri hospitality justru memperbesar volume sampah yang dihasilkan.

Meski berbagai regulasi telah diterbitkan, mulai dari undang-undang hingga peraturan daerah, implementasinya dinilai belum berjalan optimal. Hambatan di lapangan, mulai dari lemahnya koordinasi hingga rendahnya kesadaran pemilahan sampah, menjadi persoalan utama.

Dalam diskusi tersebut, pakar lingkungan I KG Dharma Putra menekankan pentingnya pembenahan tata kelola secara menyeluruh. Ia mengusulkan peningkatan anggaran persampahan, penguatan operasional TPS3R berbasis komunitas, serta edukasi berkelanjutan terkait pemilahan sampah sejak dari sumber.

“Setiap daerah harus memiliki sistem pengelolaan yang representatif, tidak lagi mengandalkan open dumping, dan berbasis partisipasi masyarakat,” jelasnya.

Senada dengan itu, Agus Maha Usadha menilai kunci utama penyelesaian masalah sampah terletak pada perencanaan strategis yang dieksekusi secara transparan dan konsisten. Ia juga menyoroti pentingnya pembagian peran yang jelas antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Menurutnya, penguatan sosialisasi pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga menjadi langkah paling mendasar. Hal ini penting mengingat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung kini tidak lagi dapat menerima sampah campuran tanpa proses pemilahan.

“Pemilahan harus dimulai dari sumber—organik, anorganik, dan residu. Ini tidak bisa ditawar lagi,” tegasnya.

Selain itu, pemanfaatan teknologi dinilai menjadi solusi krusial untuk meningkatkan efisiensi pengolahan sampah. Dalam forum tersebut, disebutkan bahwa satu unit teknologi mampu mengolah hingga 60 ton sampah per hari, dan diharapkan dapat diperbanyak guna mengurangi beban TPA.

Namun demikian, Agus menekankan bahwa teknologi bukan satu-satunya jawaban. Keberhasilan tetap bergantung pada kesiapan sumber daya manusia, kebijakan yang tepat, serta dukungan pembiayaan yang berkelanjutan.

Di sisi lain, Ketua PHRI Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga berkaitan dengan pola pikir dan perilaku.

“Regulasi sudah banyak, tapi implementasi di lapangan masih menghadapi tantangan. Ini soal konsistensi dan perubahan budaya,” ujarnya.

Ia menilai sektor hospitality memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai penghasil sampah, tetapi juga sebagai bagian dari solusi. Hotel, restoran, dan usaha pariwisata diharapkan mampu menjadi contoh dalam pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.

PHRI, lanjutnya, mendorong sejumlah langkah konkret, mulai dari pemilahan sampah secara konsisten di lingkungan usaha, pengurangan plastik sekali pakai, hingga edukasi kepada karyawan dan tamu.

Sarasehan ini diharapkan tidak berhenti pada tataran diskusi, tetapi berlanjut pada aksi nyata yang terukur dan berkelanjutan.

“Keberlanjutan pariwisata Bali sangat ditentukan oleh bagaimana kita menjaga lingkungan hari ini. Pengelolaan sampah harus menjadi prioritas bersama,” pungkasnya. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini