BerandaDaerahMenanam Kelapa Genjah, Menyuling Peradaban! Gubernur Koster Kuatkan Strategi dari Hulu ke...

Menanam Kelapa Genjah, Menyuling Peradaban! Gubernur Koster Kuatkan Strategi dari Hulu ke Hilir Jadikan Arak Bali Spirit Ketujuh Dunia

Foto: Ilustrasi penanaman kelapa genjah skala luas di Bali menjadi salah satu langkah strategis Gubernur Bali Wayan Koster membawa Arak Bali menjadi spirit ketujuh dunia. 

Denpasar, KabarBaliSatu

Gubernur Bali Wayan Koster terus melangkah mantap mengangkat arak Bali ke panggung dunia. Dengan strategi yang terukur dan konsisten, ia menyiapkan fondasi kuat agar arak Bali tak sekadar bertahan sebagai produk tradisi, tetapi naik kelas sebagai minuman spirit ketujuh dunia yang mampu bersaing di pasar ekspor.

Regulasi dan perizinan kini telah lengkap. Dari hulu hingga hilir, penguatan dilakukan tanpa jeda, menandai arak Bali tancap gas sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.

Di balik botol arak yang kelak beredar di pasar global, Gubernur Koster memulai dari akar paling dasar: bahan baku. Salah satu langkah konkret yang segera digerakkan secara masif adalah memperkuat ekosistem nira dengan penanaman kelapa genjah.

Dari pohon inilah nira dihasilkan, diolah menjadi tuak, lalu disuling dengan kearifan lokal menjadi arak Bali yang berkarakter dan bernilai tinggi.

“Kami akan tanam kelapa genjah maksimal empat meter. Tiga sampai empat tahun sudah panen. Ini bagian dari memperkuat ekosistem Arak Bali,” ujar Gubernur Koster saat memberikan sambutan dalam Peringatan Hari Arak Bali Tahun 2026 yang digelar khidmat di The Westin Resort Nusa Dua, Mangupura Hall, Kabupaten Badung, Kamis (29/1/2026).

Pemilihan kelapa genjah bukan tanpa alasan. Dibandingkan kelapa dalam, varietas ini memiliki sejumlah keunggulan: tumbuh lambat meninggi, cepat berbuah—mulai usia tiga hingga empat tahun—dan produktivitas buah yang lebih tinggi.

Karakter ini membuat kelapa genjah menjadi pilihan ideal bagi petani, sekaligus menjamin ketersediaan nira yang berkelanjutan bagi industri arak Bali.

Penanaman kelapa genjah dalam skala luas di Bali diyakini membawa manfaat berlapis. Tak hanya memastikan pasokan bahan baku arak, tetapi juga mempercepat peningkatan kesejahteraan petani.

Dari satu pohon, petani dapat memetik berbagai nilai ekonomi—mulai dari nira untuk arak, janur untuk upacara, hingga bungkak, kelapa muda berukuran kecil yang menjadi bagian penting sarana upakara umat Hindu di Bali.

Dengan bahan baku yang memadai, produksi arak Bali dapat terus digenjot secara berkesinambungan. Rantai nilai pun bergerak utuh: petani kelapa, pengrajin arak, perusahaan produsen, hingga jaringan pemasaran.

Dari desa ke kota, dari dapur tradisional ke etalase dunia, arak Bali hadir sebagai simpul yang mengikat ekonomi dan budaya.

Gubernur Koster pun mengajak petani dan masyarakat luas untuk ikut ambil bagian dalam gerakan menanam kelapa genjah. Partisipasi ini tidak mensyaratkan lahan luas—pekarangan rumah pun bisa menjadi titik awal.

Dengan cara itu, ekosistem arak Bali tumbuh kuat dan inklusif, melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam ikhtiar menjadikan arak Bali—kearifan lokal warisan leluhur—sebagai spirit ketujuh dunia.

Di ujung langkah strategis ini, penanaman kelapa genjah ibarat menanam cahaya di tanah Bali. Dari benih yang dititipkan pada bumi, tumbuh batang-batang harapan yang mengalirkan nira kehidupan.

Ia menghidupi tradisi, memutar mesin ekonomi kerakyatan, dan merawat warisan budaya agar tak lekang oleh zaman.

Ketika waktunya tiba, arak Bali akan mengalir seperti doa yang disuling—jernih, berkarakter, dan berani berdiri sejajar di antara spirit dunia, membawa nama Bali ke pentas global dengan kepala tegak dan akar yang kokoh. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini