Foto: Gubernur Bali, Wayan Koster didampingi Dandrem163/Wirasatya, Birgjen Ida I Dewa Agung Hadisaputra, saat menyakasikan langsung lomba baleganjur pada PKB Ke-47, pada Jumat malam, 27 Juni 2025 di panggung terbuka Ardha Candra Taman Budaya Denpasar.
Denpasar, KabarBaliSatu
Di bawah langit Bali yang harum oleh dupa dan semarak suara gamelan, panggung Ardha Candra di Taman Budaya Denpasar kembali menjadi saksi cinta tak terbantahkan generasi muda terhadap seni dan budaya leluhurnya. Tempat ini juga menjadi saksi kecintaan luar biasa anak muda kepada pemimpinnya Gubernur Bali Wayan Koster.
Kehadiran Wayan Koster disambut dengan sangat meriah dan antusias oleh anak muda ketika sampai di Ardha Candra, Taman Budaya (Art Center) Denpasar menyaksikan lomba Balaganjur pada Jumat 27 Juni 2025. Para generasi muda rebutan ingin foto bersama pemimpin mereka yang merakyat dan menyatu dengan anak-anak muda.
Malam itu, semesta seperti membuka tabir perayaan yang lebih dari sekadar kompetisi: Wimbakara Baleganjur—suatu wujud ekspresi kolektif jiwa Bali yang menyala di tangan-tangan muda. Mereka datang dari Karangasem, Gianyar, Klungkung, hingga Bangli. Empat duta seni tampil, membawa denyut desa dan derap semangat muda ke tengah gemuruh gong dan ceng-ceng.
Namun bukan hanya denting Baleganjur yang memikat hati malam itu. Seorang sosok yang tak asing berjalan perlahan menuju tribun penonton: Gubernur Bali, Wayan Koster, didampingi Dandrem 163/Wirasatya, Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra. Begitu langkahnya menapak di pelataran Ardha Candra, riuh sorak menyeruak seperti ombak yang menyapa karang—bukan untuk menggugat, melainkan menyambut dengan cinta.
Para remaja, anak-anak, bahkan orang tua—semuanya berdiri, berebut ingin mengabadikan momen. Mereka tak sekadar melihat seorang pemimpin, tapi menyapa sosok yang mereka anggap sebagai pelindung budaya, penjaga warisan Bali.
Koster tak berjarak. Ia tak berlindung di balik ajudan atau protokol. Dengan senyum yang tulus dan lambaian tangan yang hangat, ia menyalami, memeluk, dan melayani satu per satu permintaan foto. Dari selfie remaja hingga pelukan anak-anak yang memeluknya seperti seorang ayah. Sesekali ia berjongkok, merendahkan tubuh agar sejajar dengan anak kecil yang malu-malu namun ingin menyapa.
“Jagat Kerthi bukan sekadar tema, tapi napas yang kami jaga,” bisik seorang seniman muda dari Klungkung yang malam itu ikut tampil.
Festival ini memang bukan sekadar pesta seni, tapi cermin semangat Bali menjaga marwahnya di tengah arus zaman. Lomba Baleganjur yang selama ini digandrungi kaum muda menjadi bukti bahwa warisan budaya tidak redup—ia justru menyala lebih terang di dada para pewarisnya.
Gubernur Koster, dalam diam dan senyum-senyumnya, seolah berbicara: seni adalah jembatan paling manusiawi antara pemimpin dan rakyatnya. Tak ada panggung istimewa baginya, karena baginya panggung yang sesungguhnya adalah di hati krama Bali.
Dan di malam itu, di bawah sinar lampu panggung dan gamelan yang menggema, terasa benar bahwa Bali masih terjaga. Oleh semangat muda, oleh panggilan tradisi, dan oleh pemimpin yang memilih hadir bersama rakyatnya, bukan di atas mereka.
“Nangun Sat Kerthi Loka Bali” bukan sekadar visi di atas kertas. Ia hidup—di tangan yang menabuh, di senyum anak-anak, dan di pelukan yang tak dibuat-buat. (kbs)

