Foto: Gubernur Bali, Wayan Koster secara resmi memulai tahap program restorasi Parahyangan atau bangunan pura di kawasan suci Besakih melalui prosesi groundbreaking yang disertai upacara ngeruwak dan mulang dasar pada Jumat (1/5/2026) bertepatan dengan hari suci Purnama Jiyestha.
Karangasem, KabarBaliSatu
Gubernur Bali, Wayan Koster, mengingatkan para kontraktor yang terlibat dalam program restorasi Parahyangan atau bangunan pura di kawasan suci Besakih agar bekerja dengan penuh kesadaran spiritual, dengan spirit ngayah Ide Betare tidak semata mengejar keuntungan.
Pesan itu disampaikan saat prosesi groundbreaking yang dirangkai dengan upacara ngeruwak dan mulang dasar di Pura Banua Kawan, Jumat (1/5/2026). Progam restorasi Parahyangan atau bangunan pura di kawasan suci Besakih merupakan bagian dari progam penataan kawasan suci Besakih tahap kedua.
“Titiang berharap yang mendapat tugas untuk mengerjakan ini para kontraktornya harus mengerjakannya dengan penuh dedikasi,” pesan Gubernur Koster.
“Ini merestorasi pelinggih, tempat suci ini, tidak membangun GOR, tetapi membangun pelinggih pelinggih Ide Betara ini. Jadi harus penuh dedikasi niskala sekala, keterlibatan,rasa spiritual menyatu supaya apa yang dibangun itu betul-betul hidup, lancar, mulus, ” tegasnya.
Gubernur Koster secara khusus menyinggung kontraktor yang dipercaya menggarap proyek ini—termasuk Tunas Jaya dan Bianglala—agar bekerja dengan kesungguhan total. Koster menekankan pentingnya keseimbangan sekala dan niskala dalam setiap proses pembangunan.
Menurutnya, setiap pekerjaan harus diawali dan diakhiri dengan doa. Bukan sekadar formalitas, tetapi sebagai bentuk permohonan izin dan penyelarasan energi spiritual.
“Jangan asal ketok-ketok. Mulai kerja doa dulu, selesai kerja doa lagi. Ini tempat suci, harus diniatkan tulus. Jangan berpikir bagaimana untungnya diperbesar dengan mengurangi kualitas,” ujarnya.
Gubernur Koster bahkan mengingatkan secara lugas: praktik mengurangi kualitas demi keuntungan justru akan berujung buruk. Ia menekankan prinsip karma, bahwa setiap perbuatan akan kembali kepada pelakunya.
Lebih jauh, Gubernur Koster menegaskan kebijakan strategisnya untuk mendorong kontraktor lokal Bali dalam proyek ini. Baginya, keterlibatan masyarakat lokal penting untuk menjaga harmoni antara bhuana agung dan bhuana alit.
“Astungkara, tahun 2027 saat Karya Ida Bhatara Turun Kabeh, kawasan parahyangan sudah tertata baru dan pemedek semakin nyaman,” katanya optimistis.
Tak hanya fokus pada pembangunan fisik pura, Koster juga mengarahkan penataan lanjutan, termasuk taman, akses jalan, dan lingkungan sekitar yang dinilai masih belum tertata optimal.
Sebanyak 30 pura akan direstorasi dengan pendekatan pelestarian yang ketat, mencakup struktur utama hingga pura penyangga kosmologi Besakih. Dari jumlah tersebut, 26 merupakan pelinggih utama di kawasan Pura Agung Besakih, sementara empat lainnya adalah pura pesemeton yang juga memiliki nilai sakral penting.
Dalam tatanan Catur Lokapala, restorasi dilakukan di Pura Gelap (timur), Pura Kiduling Kreteg (selatan), Pura Ulun Kulkul (barat), dan Pura Batu Madeg (utara).
Pada struktur Catur Eswarya, penataan menyasar Pura Pasimpangan dan Pura Paninjoan. Sementara lapisan Pura Catur Lawa mencakup Pura Ratu Dukuh, Pura Ratu Pasek, Pura Ratu Panyarikan, Pura Ratu Pandhe, serta Pura Ida Ratu Pesimpenan.
Penataan juga menjangkau Huluning Pura dan Kahyangan Jagat lainnya seperti Pura Basukian Puseh Jagat, Pura Goa Raja, Pura Dalem Prajapati Hyang Aluh, Pura Bangun Sakti, hingga Pura Tirta Wasuki dan Pura Tirta Pengayu-ayu.
Memasuki tahap ketiga, Pemprov Bali telah merancang pembangunan akses jalan baru menuju Besakih dari berbagai arah, termasuk jalur Bangli yang akan memangkas kemacetan dan risiko kecelakaan akibat jalan berkelok.
“Targetnya, 2028 mulai pembangunan dan 2029 selesai. Nantinya umat dari seluruh Bali bisa datang dengan nyaman, aman, dan tanpa macet,” jelasnya.
Dalam upaya menjaga tata kelola kawasan, Gubernur Koster juga telah membentuk Badan Pengelola Kawasan Suci Besakih yang kini dinilai berhasil menata sistem keuangan dan operasional secara profesional.
Jika sebelumnya kawasan ini disebut “kacau balau”, kini pengelolaannya disebut lebih tertib, transparan, dan bahkan mampu menghasilkan pendapatan dari parkir dan tiket wisata yang dibagikan ke berbagai pihak, termasuk desa adat.
“Sekarang sudah rapi. Tidak perlu lagi bergantung pada APBD. Semua bisa dikelola mandiri,” ujarnya.
Gubernur Koster menegaskan, pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator, sementara urusan niskala tetap menjadi ranah spiritual yang tidak boleh diintervensi.
Dengan target dan misi mulia menuntaskan seluruh penataan sebelum akhir masa jabatan periode keduanya, Gubernur Koster menempatkan Besakih sebagai prioritas utama.
“Besakih ini hulunya Bali. Sudah sepatutnya ditangani dengan penuh tanggung jawab, sekala dan niskala,” tutupnya. (kbs)

