BerandaDaerahKasus DBD di Bali Turun Drastis, Dinkes Ingatkan Warga Tetap Waspada

Kasus DBD di Bali Turun Drastis, Dinkes Ingatkan Warga Tetap Waspada

Foto: Ilustrasi pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Bali. Kasus DBD sepanjang Januari–Juli 2026 tercatat turun 82,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Masyarakat tetap diimbau menerapkan 3M Plus dan mewaspadai gejala DBD.

Denpasar, KabarBaliSatu

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Bali menunjukkan tren penurunan tajam sepanjang Januari hingga Juli 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali mencatat 1.588 kasus DBD selama periode tersebut, turun drastis dibandingkan 9.116 kasus pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara tahunan, angka tersebut menunjukkan penurunan sekitar 82,6 persen. Tren ini menjadi kabar positif dalam upaya pengendalian penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Meski demikian, Dinkes Bali mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Perubahan pola cuaca tetap dapat memengaruhi perkembangan kasus DBD, sehingga upaya pencegahan harus terus dilakukan, termasuk saat memasuki musim kemarau.

Penurunan kasus juga diikuti dengan berkurangnya angka kematian. Sepanjang 2025, tercatat 13 kematian akibat DBD di Bali. Sementara hingga Juli 2026, jumlah kematian tercatat dua kasus.

Dua kasus fatal tersebut terjadi di Kabupaten Buleleng dan Kota Denpasar.

Kasus di Buleleng menimpa seorang balita yang meninggal pada Maret 2026, ketika Bali masih berada dalam periode musim hujan yang umumnya diikuti peningkatan kasus DBD. Sementara kasus di Denpasar terjadi pada kelompok dewasa muda berusia di bawah 30 tahun.

Kedua pasien diketahui memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Faktor tersebut menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian dalam penanganan DBD, selain kecepatan mengenali gejala, diagnosis, serta pemberian pelayanan medis.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi Bali, dr. I Gusti Ayu Raka Susanti, mengatakan penurunan kasus mulai terlihat seiring perubahan kondisi cuaca dari musim hujan menuju musim kemarau.

“Jadi sampai di Juli itu kalau kita lihat memang ada penurunan kasus. Kalau kita lihat dari memang sekarang itu musim panas dibanding dengan Januari-Februari, jadi memang signifikan,” ujar Raka Susanti, Selasa (11/8).

Menurut Raka, cuaca merupakan salah satu faktor yang memengaruhi dinamika kasus DBD. Namun, penurunan kasus tidak semata-mata terjadi karena perubahan musim. Upaya pencegahan dan pengendalian yang dilakukan secara konsisten juga ikut berperan.

Dinkes Bali terus mengingatkan masyarakat untuk menjalankan gerakan 3M Plus. Langkah tersebut meliputi menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, serta memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Upaya pengendalian juga melibatkan berbagai pihak, termasuk sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Dukungan tersebut antara lain diarahkan untuk melatih dan mengerahkan petugas Juru Pemantau Jentik (Jumantik), khususnya di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi seperti Denpasar, Badung, dan Gianyar.

Jumantik berperan penting dalam mendeteksi keberadaan jentik nyamuk sejak dini. Kehadiran mereka sekaligus diharapkan dapat mendorong masyarakat lebih aktif menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Selain mengandalkan pengendalian berbasis lingkungan, Dinkes Bali juga memperkuat pencegahan melalui pemanfaatan data dan teknologi. Salah satunya melalui aplikasi DB Klim yang dikembangkan dan dimanfaatkan bersama Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar dalam sekitar dua tahun terakhir.

Aplikasi tersebut digunakan untuk membantu memetakan wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan risiko DBD berdasarkan kondisi iklim dan cuaca. Dengan pemetaan ini, langkah antisipasi dapat dilakukan lebih awal sebelum terjadi lonjakan kasus.

Raka Susanti juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sepele demam, terutama pada anak-anak dan balita. Pada kelompok usia tersebut, gejala awal DBD terkadang sulit dikenali karena anak belum mampu menyampaikan keluhan secara jelas.

“Kalau anak-anak itu biasanya kalau balita kan dia tidak bisa mengeluh. Jadi kalau sudah demam, harapannya tentu lebih baik langsung dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan,” tegasnya. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini