BerandaDaerahKANTI Starts at Home, BPR Kanti Tegaskan Dukungan Keluarga sebagai Fondasi Budaya...

KANTI Starts at Home, BPR Kanti Tegaskan Dukungan Keluarga sebagai Fondasi Budaya dan Pertumbuhan Perusahaan

Transformasi Budaya Perusahaan Dimulai Dari Nilai "KANTI" Yang Diterapkan dari Rumah

Foto: Suasana KANTI Family Gathering 2026 yang digelar BPR Kanti di Aula Taman Asoka, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Minggu (9/8/2026).

Denpasar, KabarBaliSatu

Suasana berbeda terasa di Aula Taman Asoka, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Minggu (9/8/2026). Bukan sekadar karyawan dan rekan kerja yang berkumpul, tetapi juga pasangan, anak-anak, hingga orang tua yang datang bersama keluarga.

Mereka hadir dalam KANTI Family Gathering 2026 kegiatan yang digelar PT BPR Sukawati Pancakanti (BPR Kanti) dengan mengusung tema “KANTI Starts at Home”.

Lebih dari sekadar rekreasi dan agenda kebersamaan, kegiatan ini menjadi ruang bagi keluarga besar BPR Kanti untuk kembali mengingat satu hal mendasar: di balik setiap pekerjaan, target, prestasi, dan perjalanan sebuah perusahaan, selalu ada keluarga yang menjadi tempat pulang sekaligus sumber kekuatan.

Direktur Utama BPR Kanti, Made Arya Amitaba, mengatakan Family Gathering 2026 sengaja dirancang bukan hanya sebagai kegiatan hiburan bagi karyawan.

“Hari ini adalah hari di mana kita merayakan satu hal yang sangat penting, yaitu keluarga,” ujarnya.

Ia kemudian mengajak peserta melihat makna pekerjaan dari sudut pandang anak-anak.

Arya mengisahkan, dirinya sempat bertanya kepada sejumlah anak mengenai pekerjaan orang tua mereka. Jawabannya pun beragam dan mengundang tawa.

Ada yang menjawab, “Bapak kerja di bank.” Ada pula yang mengatakan, “Ibu kerja cari uang.” Bahkan, ada anak yang polos menjawab, “Ayah kerja supaya bisa beli es krim.”

Jawaban sederhana tersebut, menurut Arya Amitaba, justru memperlihatkan bagaimana anak-anak memahami perjuangan orang tuanya.

“Mereka mungkin belum memahami apa itu BPR. Tetapi mereka tahu ayah dan ibu setiap pagi berangkat bekerja untuk keluarga. Dan itu sudah sangat luar biasa,” katanya.

Di Balik Target, Ada Keluarga yang Menunggu

Kehadiran keluarga dalam Family Gathering 2026 juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang karyawan tidak pernah lahir dari perjuangan seorang diri.

Di balik target yang tercapai, ada keluarga yang memberikan semangat. Di balik prestasi, ada doa yang tidak pernah berhenti.

“Ketika ayah lembur, ada anak yang menunggu di rumah. Ketika ibu harus bekerja di hari Sabtu, ada keluarga yang mengerti. Ketika kita menghadapi tekanan pekerjaan, ada pasangan yang selalu menguatkan,” tutur Arya Amitaba.

Dukungan tersebut mungkin tidak pernah tercantum dalam laporan kinerja perusahaan. Namun, menurutnya, justru dukungan keluarga merupakan salah satu pencapaian terbesar yang tidak pernah tercatat.

Karena itu, Family Gathering 2026 menjadi momentum untuk memberikan apresiasi kepada seluruh keluarga karyawan BPR Kanti.

Arya bahkan mengajak peserta berinteraksi dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana: siapa yang setiap pagi menyiapkan sarapan, siapa yang mengantar anak ke sekolah, dan siapa yang sering harus menunggu karena pasangan bekerja lembur.

Jawabannya mengarah pada satu kesimpulan: perjuangan membangun perusahaan tidak hanya dilakukan oleh karyawan, tetapi juga oleh keluarga yang mendampingi mereka.

Budaya KANTI Dimulai dari Rumah

Pesan tentang keluarga kemudian diperkuat melalui Video Challenge bertema “KANTI di Rumahku”.

Melalui video-video tersebut, keluarga besar BPR Kanti menunjukkan bagaimana nilai-nilai yang dibangun di lingkungan kerja ternyata juga dapat tumbuh dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

Arya Amitaba menegaskan, budaya perusahaan tidak seharusnya hanya dimulai ketika seseorang memasuki kantor.

“Budaya dimulai dari rumah,” tegasnya.

Di rumah, seseorang pertama kali belajar tentang kejujuran, kedisiplinan, rasa hormat, kepedulian, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itulah yang kemudian dibawa ke tempat kerja dan menjadi bagian dari karakter organisasi.

BPR Kanti kini juga memasuki babak baru dengan penguatan nilai budaya perusahaan yang diharapkan tidak berhenti sebagai slogan atau tulisan di dinding, melainkan menjadi kebiasaan dalam keseharian.

Kepedulian, misalnya, tercermin ketika seseorang membantu rekan yang membutuhkan. Akuntabilitas hadir ketika berani mengakui kesalahan. Nilai tambah muncul ketika seseorang bersedia memberikan kontribusi lebih. Transparansi tumbuh melalui kejujuran, sementara inovasi terlihat dari keberanian untuk berubah menjadi lebih baik.

Nilai-nilai tersebut bahkan diperkenalkan secara sederhana kepada anak-anak yang hadir.

“Kalau teman jatuh, apa yang harus dilakukan?” tanya Arya Amitaba.

“Bantu!” jawab anak-anak serempak.

“Itu namanya kepedulian,” katanya.

Ketika ditanya apa yang harus dilakukan jika berbuat salah, anak-anak kembali menjawab, “Minta maaf.”

“Itu akuntabilitas,” ujar Arya Amitaba, disambut antusiasme peserta.

Bertumbuh karena Mau Berubah

Dalam kesempatan itu, Arya Amitaba juga mengajak keluarga besar BPR Kanti melihat perjalanan perusahaan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

BPR Kanti telah melewati berbagai fase dan tantangan, mulai dari pandemi, perubahan regulasi, persaingan bisnis hingga transformasi.

Namun, satu hal yang menurutnya tidak boleh berubah adalah semangat untuk terus bertumbuh.

Perubahan, bukan berarti kondisi sebelumnya buruk. Perubahan adalah pilihan untuk menjadi lebih baik.

“Dunia berubah. Nasabah berubah. Teknologi berubah. Kalau kita berhenti belajar, kita akan tertinggal,” ujarnya.

Berbagai penghargaan yang berhasil diraih BPR Kanti pun disebut sebagai buah dari kerja keras seluruh keluarga besar perusahaan.

Namun, prestasi bukanlah tujuan akhir.

“Prestasi bukan tujuan akhir. Prestasi adalah akibat dari budaya yang baik. Kalau budayanya kuat, prestasi akan mengikuti,” katanya.

Pesan untuk Anak dan Pasangan Karyawan

Family Gathering 2026 juga menjadi kesempatan bagi pimpinan BPR Kanti menyampaikan apresiasi secara khusus kepada anak-anak dan pasangan karyawan.

Kepada anak-anak, Arya berpesan bahwa mungkin saat ini mereka belum sepenuhnya memahami pekerjaan ayah dan ibu.

Namun suatu hari nanti, mereka akan memahami bahwa orang tua mereka bukan sekadar bekerja untuk mendapatkan penghasilan.

“Mereka sedang membangun masa depan. Untuk keluarga, untuk masyarakat, untuk BPR Kanti,” ujarnya.

Sementara kepada para pasangan karyawan, ia menyampaikan penghargaan atas dukungan yang selama ini diberikan.

“Terima kasih karena telah berbagi waktu. Terima kasih karena menguatkan ketika target belum tercapai. Terima kasih karena tetap percaya,” katanya.

Menurutnya, tanpa dukungan keluarga, perjalanan BPR Kanti tidak akan sampai pada titik seperti sekarang.

Kepada para karyawan, Arya Amitaba juga menitipkan pesan agar tidak hanya menjadi pekerja yang hebat, tetapi juga menjadi teladan bagi keluarga.

Sebab, anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan orang tua, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat dan lakukan setiap hari.

“Jangan hanya menjadi pegawai yang hebat. Jadilah teladan. Karena ada mata kecil yang selalu belajar dari kita,” pesannya.

“Saya Bangga Menjadi Keluarga KANTI”

Menutup rangkaian pesan, Arya mengajak seluruh keluarga besar BPR Kanti berdiri dan mengucapkan komitmen bersama.

“Saya bangga menjadi keluarga KANTI.”

“Saya akan menjaga nama baik keluarga.”

“Saya akan menjaga nilai budaya.”

“Saya akan menjadi pribadi yang bermanfaat.”

“Kita hebat. KANTI kuat.”

Komitmen tersebut menjadi simbol bahwa keluarga dan perusahaan bukanlah dua ruang yang terpisah.

Rumah menjadi tempat pertama seseorang belajar tentang nilai kehidupan. Sementara BPR Kanti menjadi ruang untuk membawa nilai-nilai tersebut menjadi budaya kerja yang nyata.

Family Gathering 2026 pun diharapkan tidak berhenti sebagai satu hari penuh kebersamaan, foto, permainan, dan hadiah.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk membawa pulang semangat baru: bahwa KANTI Starts at Home.

BPR Kanti ingin terus tumbuh bukan semata sebagai bank yang berkembang secara bisnis, tetapi juga sebagai keluarga besar yang saling mendukung, saling menguatkan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Bersama kita kuat. Bersama kita bertumbuh. Bersama kita bermakna,” pungkas Arya Amitaba. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini