Foto: Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar dari Fraksi Gerindra, Ida Bagus Yoga Adi Putra, atau akrab disapa Gus Yoga mengimbau nelayan berhenti menggunakan pukat harimau yang merusak ekosistem laut.
Denpasar, KabarBaliSatu
Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar dari Fraksi Gerindra, Ida Bagus Yoga Adi Putra, atau akrab disapa Gus Yoga, angkat suara soal maraknya penggunaan pukat harimau di perairan Sanur. Alat tangkap ilegal ini dinilai tak hanya merusak ekosistem laut, tapi juga mengancam masa depan ekonomi nelayan lokal.
“Kami prihatin. Pukat harimau itu bukan sekadar alat tangkap, tapi mesin perusak laut. Ikan besar, kecil, bahkan terumbu karang ikut terseret. Kalau dibiarkan, laut kita habis,” kata Gus Yoga, Selasa (13/5/2025).
Gus Yoga mengingatkan pengunaan pukat harmau dilarang dan bentuk aktivitas ilegal. Dasar hukum pelarangan penggunaan pukat harimau adalah Keputusan Presiden Nomor 39 Tahun 1980. Selain itu, Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, khususnya Pasal 9 dan 85, juga mengatur larangan penggunaan alat tangkap ikan yang merusak lingkungan seperti pukat harimau.
Karena itu politisi muda Partai Gerindra ini mengingatkan, penggunaan pukat harimau bukan cuma persoalan lingkungan, tapi juga pelanggaran hukum berat. Berdasarkan UU Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, pelaku terancam pidana hingga 5 tahun penjara dan denda maksimal Rp 2 miliar.
“Kami tak ingin nelayan tersandung hukum. Kami tahu mereka butuh nafkah, tapi jangan dengan cara yang merusak dan melanggar,” tegasnya.
Untuk itu, Ketua DPC Gerindra Kota Denpasar itu mendesak pemerintah kota melalui Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan agar berkoordinasi dengan instansi provinsi dan aparat penegak hukum guna memperketat patroli laut. Ia juga mendorong penempatan petugas jaga di kawasan pesisir, terutama di Sanur, wilayah yang padat aktivitas nelayan.
Namun, Gus Yoga tak sekadar mengkritik. Ia juga menaruh perhatian pada akar persoalan: kesejahteraan nelayan. Menurutnya, praktik ilegal seperti ini seringkali muncul karena nelayan merasa terpinggirkan dan tak mendapat cukup dukungan dari pemerintah.
“Nelayan itu kelompok marginal yang butuh sentuhan nyata. Jangan hanya ditegur, tapi juga dibantu,” katanya dengan nada serius.
Ia menekankan pentingnya penyediaan sarana tangkap yang ramah lingkungan, akses permodalan, bantuan pemasaran, hingga subsidi BBM yang tepat sasaran. Secara khusus, ia mendorong agar Pasar Ikan Mertasari yang selama ini mati suri bisa kembali hidup dan menyerap hasil tangkapan nelayan.
“Pasarnya sudah ada, tinggal dimaksimalkan. Kalau itu berjalan, nelayan tak perlu bingung jual hasil laut mereka,” ujarnya.
Gus Yoga menutup pernyataannya dengan harapan: “Jangan biarkan laut rusak, dan jangan biarkan nelayan berjuang sendirian. (kbs)

