Foto: Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, yang juga Anggota Komisi VI DPR RI Dapil Bali, Gde Sumarjaya Linggih alias Demer.
Denpasar, KabarBaliSatu
Di tengah dinamika wacana perubahan sistem pemilu dan Pilkada, Partai Golkar mulai mempersiapkan diri menghadapi Pemilu 2029. Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Gde Sumarjaya Linggih alias Demer, menilai kontestasi mendatang akan menjadi momentum penting bagi peningkatan kualitas demokrasi Indonesia.
Demer menegaskan bahwa Golkar harus bekerja sejak dini, terstruktur, dan berorientasi pada kepentingan rakyat. Menurutnya, Pemilu 2029 bukan sekadar pertarungan elektoral, melainkan ujian konsistensi partai dalam membangun kepercayaan publik.
Karena itu, Golkar memilih jalur kerja nyata ketimbang manuver instan yang kerap muncul menjelang hari pemungutan suara.
“Dalam rapat tadi saya sudah sampaikan, semua kader harus mulai menentukan dapilnya paling lambat 2026 dan mulai bekerja serius untuk 2029,” ujar Demer.
Anggota Komisi VI DPR RI Dapil Bali ini menjelaskan, strategi Golkar menghadapi Pemilu 2029 diarahkan pada pembangunan simpati dan empati masyarakat secara berkelanjutan. Pendekatan tersebut dilakukan melalui program pemberdayaan yang telah dirancang sejak lama dan dijalankan secara konsisten, bukan melalui praktik politik jangka pendek.
“Kerja yang saya maksud adalah membangun simpati dan empati masyarakat kepada Golkar. Bukan bermain di ‘ujung’, tapi bekerja secara elegan melalui pemberdayaan,” tegasnya.
Mantan Ketua Umum Kadin Bali ini menyadari bahwa jalan politik yang ditempuh Golkar tidak selalu populer dan menuntut kesabaran. Namun ia meyakini, kerja yang dilakukan sejak awal akan menjadi fondasi kuat dalam menghadapi dinamika Pemilu 2029 yang diprediksi semakin kompetitif.
Ia juga menegaskan kesiapan Golkar untuk menanggung risiko politik demi kepentingan jangka panjang bangsa dan negara. Bahkan jika hasil elektoral nantinya tidak sepenuhnya ideal, Golkar memandangnya sebagai bagian dari proses pendewasaan demokrasi.
“Kalau melihat 2029, kami sangat optimistis. Tapi sekalipun hasilnya tidak ideal, demi kepentingan negara yang lebih baik, demi menghasilkan pemimpin dan tata kelola pemerintahan yang lebih baik, itu adalah risiko atau ‘vaksinasi politik’ yang harus ditanggung oleh Golkar,” katanya.
Dengan arah kebijakan nasional yang tengah dikaji, termasuk wacana perubahan sistem Pilkada, Demer menilai Pemilu 2029 akan menjadi titik penting dalam sejarah demokrasi Indonesia. Golkar, menurutnya, ingin hadir bukan hanya sebagai peserta pemilu, tetapi sebagai partai yang menawarkan arah, stabilitas, dan kualitas kepemimpinan.
Terkait peluang koalisi maupun posisi calon wakil gubernur Bali, Demer menyebut seluruh opsi masih terbuka. Namun ia menegaskan bahwa seluruh keputusan terkait pencalonan kepala daerah merupakan kewenangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar.
“Semuanya sangat mungkin. Bisa melalui koalisi atau bekerja sama dengan partai pemenang. Namun seluruh keputusan terkait calon kepala daerah adalah kewenangan DPP Partai Golkar, bukan di tingkat provinsi,” jelasnya.
Menghadapi Pemilu 2029, Demer kembali menekankan pentingnya kerja keras untuk meningkatkan perolehan kursi legislatif. Ia meminta seluruh kader Golkar mulai menyiapkan diri sejak sekarang.
“Prinsipnya, sebagai partai politik, kami harus bekerja dengan baik sejak awal. Semua kader harus mulai menentukan dapilnya paling lambat 2026 dan mulai bekerja serius untuk 2029,” ujarnya.
Sekali lagi Demer menegaskan bahwa kerja politik Golkar harus dilakukan secara elegan dan berkelanjutan.
“Dengan kerja nyata seperti itu, kalaupun ada pihak lain yang ‘bermain di ujung’, mudah-mudahan tidak banyak masyarakat yang bisa digoyahkan,” pungkasnya. (kbs)

