Foto: Rektor Primakara University, I Made Artana.
Denpasar, KabarBaliSatu
Bagi sebagian besar mahasiswa, wisuda adalah momen puncak yang dirayakan dengan penuh haru dan kebanggaan. Namun, bagi dua lulusan Primakara University, momen itu justru hadir dari kejauhan.
Keduanya absen dalam Wisuda ke-10 yang digelar di The Meru Sanur pada Sabtu (25/4/2026). Bukan tanpa alasan—mereka telah lebih dulu menapaki karier global sebagai profesional IT di Australia.
Fenomena ini menjadi penegas arah baru pendidikan tinggi: kampus tidak lagi sekadar melahirkan lulusan, tetapi juga talenta yang mampu bersaing di level internasional.
Rektor Primakara University, I Made Artana, menilai di tengah dominasi teknologi dan kecerdasan buatan (AI), kemampuan teknis bukan lagi satu-satunya kunci sukses. Justru, kemampuan manusiawi seperti empati, pengelolaan emosi, dan kecakapan membangun relasi menjadi pembeda utama.
“Teknologi itu penting, tapi menjadi manusia seutuhnya jauh lebih penting. Anak-anak kita akan menghadapi kompetisi global—dan itu adalah peluang,” ujarnya.
Ia mencontohkan dua lulusan yang kini bekerja di Australia sebagai tenaga profesional di sektor teknologi—bukan pekerjaan kasar yang selama ini kerap dilekatkan pada tenaga kerja luar negeri. Bahkan, keduanya harus melewatkan wisuda dan diwakili oleh orang tua masing-masing.
“Ini bukti kita tidak kalah. Kita bisa menjadi bagian dari perusahaan global,” tegasnya.
Lebih jauh, Artana menyoroti tren kerja jarak jauh (remote working) yang semakin membuka peluang baru. Banyak lulusan Primakara kini bekerja untuk perusahaan luar negeri tanpa meninggalkan Bali—menghasilkan pendapatan dalam dolar dengan biaya hidup rupiah.
Dalam wisuda yang mengusung tema “Xtraordinary” tersebut, Primakara mengukuhkan 165 lulusan dari berbagai program studi, terdiri dari Sistem Informasi, Teknik Informatika, dan Sistem Informasi Akuntansi. Tema ini menjadi simbol satu dekade perjalanan kampus, sekaligus ajakan bagi lulusan untuk berani melampaui batas.
Ketua Yayasan Primakara, Juniwati, menegaskan bahwa menjadi “extraordinary” adalah pilihan hidup—berani berbeda dan memberi dampak nyata.
“Dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang sekadar cukup baik, tapi mereka yang berani menciptakan perubahan,” katanya.
Ia juga mengingatkan, capaian para wisudawan tak lepas dari peran orang tua dan orang-orang terdekat. Suasana haru pun menyelimuti prosesi saat pesan itu disampaikan.
Apresiasi turut datang dari LLDikti Wilayah VIII. Perwakilannya, Nyoman Bagus Suweta Nugraha, menilai konsistensi Primakara dalam mengembangkan technopreneurship menjadi kekuatan utama.
“Perguruan tinggi harus menjadi pusat inovasi berkelanjutan, dan Primakara sudah membuktikan itu,” ujarnya.
Ia menegaskan, gelar akademik bukanlah garis akhir. Dunia kerja telah menanti kontribusi nyata dari para lulusan.
Dengan dukungan jejaring alumni, kompetensi teknologi, dan semangat “Xtraordinary”, lulusan Primakara kini melangkah lebih jauh—bukan sekadar mencari peluang, tetapi menciptakan ruang baru di panggung global. (kbs)

