BerandaPariwisataGolkar Bali Dorong Gagasan “Menuju Bali yang Sustainable”, Satukan Pakar dan Generasi...

Golkar Bali Dorong Gagasan “Menuju Bali yang Sustainable”, Satukan Pakar dan Generasi Muda

Demer: Jangan Sampai Pariwisata Bali Ditinggalkan!

Foto: Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Gde Sumarjaya Linggih (Demer) berfoto bersama para narasumber dalam seminar bertajuk “Menuju Bali yang Sustainable” di Istana Taman Jepun, Denpasar, Rabu (7/1/2026).

Denpasar, KabarBaliSatu

DPD Partai Golkar Provinsi Bali di bawah kepemimpinan Gde Sumarjaya Linggih (Demer) terus menunjukkan kontribusi nyata bagi kemajuan Pulau Dewata. Tidak hanya lewat kerja-kerja politik formal, Golkar Bali juga aktif menghadirkan ruang-ruang intelektual untuk menggali gagasan strategis demi masa depan Bali yang berkelanjutan.

Terbaru, Golkar Bali menggelar seminar bertajuk “Menuju Bali yang Sustainable” di Istana Taman Jepun, Denpasar, Rabu (7/1/2026). Seminar ini menjadi forum diskusi inklusif yang mempertemukan tokoh lintas generasi, lintas kepakaran, serta berbagai latar belakang untuk membahas arah pembangunan Bali yang merata, berkeadilan, dan berkelanjutan, dengan tetap menjaga kualitas sektor pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi daerah.

Melalui seminar ini, Golkar Bali menegaskan perannya bukan sekadar sebagai partai politik, tetapi juga sebagai penggerak gagasan dan jembatan antara dunia akademik, generasi muda, dan pengambil kebijakan demi mewujudkan Bali yang berkelanjutan dan bermartabat.

Seminar dibuka dan dihadiri langsung oleh Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Gde Sumarjaya Linggih (Demer). Hadir sebagai narasumber sejumlah akademisi dan praktisi terkemuka, di antaranya Guru Besar Teknologi Industri Universitas Udayana Prof. Anak Agung Suryawan Wiranatha, Rektor Universitas Dhyana Pura Prof. I Gusti Bagus Rai Utama, Wakil Rektor I Universitas Bali Internasional Prof. Komang Gede Bendesa, Akademisi Universitas Hindu Indonesia Dr. I Gusti Ketut Widana, Ketua GIPI Bali/Bali Tourism Board Ida Bagus Agung Partha Adnyana dan tokoh muda sekaligus konten kreator dan pendiri BaliNggih Gede Adrian Maha Putra. Diskusi dipandu jurnalis senior I Wayan Juniarta dan diikuti peserta dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa dan generasi muda yang antusias menyampaikan pandangan kritis mereka.

Dalam sambutannya, Demer yang juga Anggota DPR RI dari Dapil Bali menegaskan seminar ini merupakan respons Golkar Bali terhadap berbagai persoalan aktual yang tengah dihadapi Bali, termasuk narasi yang belakangan viral mengenai menurunnya kunjungan wisatawan. Menurutnya, isu-isu seperti sampah, kemacetan, banjir, hingga keamanan tidak bisa lagi dihindari dan harus dibahas secara terbuka serta dicarikan solusi bersama.

“Kalau persoalan-persoalan ini tidak segera kita diskusikan dan sampaikan kepada para pemangku kebijakan, Bali berpotensi tidak sustain dan bisa ditinggalkan. Kita sudah berinvestasi besar di sektor pariwisata, menyiapkan SDM dan destinasi, tetapi jika tidak diiringi sistem transportasi, infrastruktur, dan pengelolaan lingkungan yang baik, pariwisata Bali akan terdegradasi,” tegas Demer yang juga Anggota Komisi VI DPR RI.

“Jangan menunggu sampai pariwisata Bali ditinggalkan, kita lakukan yang terbaik untuk Bali dan pariwisata Bali yang berkelanjutan,” sambungnya.

Karena itu, Golkar Bali berinisiatif menjadikan diskusi-diskusi ilmiah sebagai program berkelanjutan. Hasil kajian para pakar ini nantinya akan dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan untuk para kepala daerah yang disalurkan melalui Fraksi Partai Golkar di DPRD Provinsi Bali maupun DPRD kabupaten/kota.

Selain pariwisata, Golkar Bali juga menyoroti pentingnya integrasi sektor pertanian dan pariwisata yang selama ini masih berjalan parsial. Menurut Demer, tanpa sinergi yang kuat, potensi besar Bali tidak akan optimal.

Guru Besar Teknologi Industri Universitas Udayana Prof. Anak Agung Suryawan Wiranatha menekankan pentingnya pariwisata hijau (green tourism) sebagai motor ekonomi Bali. Menurutnya, pengembangan pariwisata harus berlandaskan filosofi Tri Hita Karana dan Sad Kerthi, dengan dukungan kepemimpinan kuat, kebijakan koheren, perencanaan terintegrasi, teknologi terdepan, riset kredibel, hingga keterlibatan aktif masyarakat. Tujuannya jelas: meningkatkan kesejahteraan rakyat, menjaga lingkungan, menekan emisi karbon, sekaligus mempertahankan keaslian Bali.

Sementara itu, Wakil Rektor 1 Universitas Bali Internasional (UNBI) Prof Komang Gede Bendesa menyoroti menurunnya kontribusi sektor pertanian dalam struktur ekonomi Bali yang saat ini memang didominasi sektor jasa pariwisata. Kontribusi pertanian terhadap pendapatan Bali di tahun 1971 sebesar 60 persen dan turun drastis menjadi 13 persen di tahun 2023. Begitu pula orang yang bekerja di sektor pertanian turun drastis dari 68 persen di tahun 1971 turun menjadi 19 persen di tahun 2023. Sementara kontribusi sektor jasa pariwisata meningkat tajam.

Meski secara teori penurunan ini menandakan kemajuan, Bali justru menghadapi paradoks pembangunan. Ia mendorong agar pertanian dan pariwisata tumbuh bersama melalui perlindungan lahan sawah produktif, insentif bagi petani, serta penguatan pertanian sebagai bagian dari daya tarik pariwisata. “Sawah bukan hanya sumber pangan, tapi identitas dan budaya Bali,” tegasnya.

Persoalan sampah menjadi sorotan Akademisi Universitas Hindu Indonesia Dr. I Gusti Ketut Widana. Ia menegaskan Bali membutuhkan pemimpin yang “nyampah, bukan campah”—pemimpin yang benar-benar peduli dan bertindak nyata dalam mengatasi sampah fisik maupun sosial. Menurutnya, masyarakat Bali akan memberi apresiasi tinggi pada pemimpin yang berani dan berhasil menuntaskan persoalan klasik ini.

Dari sisi arah pariwisata, Rektor Universitas Dhyana Pura Prof. I Gusti Bagus Rai Utama menegaskan bahwa quality tourism adalah satu-satunya pilihan rasional bagi Bali. Berbeda dengan pariwisata massal yang rentan dan berdampak besar pada lingkungan, pariwisata berkualitas menawarkan keseimbangan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan keadilan sosial-budaya. “Cenik lantang lais tileh. Kecil tapi panjang umur, laris tapi tetap utuh,” ujarnya.

Ketua GIPI Bali/Bali Tourism Board Ida Bagus Agung Partha Adnyana mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen perekonomian Bali bergantung langsung maupun tidak langsung pada pariwisata. Ia mengingatkan bahwa Bali tidak sedang baik-baik saja, namun masih memiliki modal kuat untuk bangkit jika pembangunan diarahkan pada kualitas dan keberlanjutan.

“Dari review terakhir, 85 persen wisatawan masih merekomendasikan Bali sebagai destinasi tapi mereka hanya butuh peningkatan kualitas misalnya jalan, penangan kemacetan dan sampah. Dengan angka itu optimis kita pariwisata tetap menjadi tulang punggung tapi kita juga harus memikirkan suistainabilitynya atau keberlanjutannya,” pesannya.

Pandangan segar datang dari tokoh muda sekaligus konten kreator dan pendiri BaliNggih Gede Adrian Maha Putra yang mengajak generasi muda kembali menggunakan Bahasa Bali sebagai penguat jati diri. Ia juga mengingatkan agar masyarakat Bali tidak terjebak narasi negatif di media sosial serta membuang jauh pola pikir saling menjatuhkan yang justru merusak solidaritas sosial.

“Mari buang jauh-jauh pola pikir ‘Susah melihat orang senang. Ssenang melihat orang susah.’ Sebab itu adalah penyakit sesungguhnya dari orang Bali,” tutupnya.

Melalui seminar ini, Golkar Bali menegaskan posisinya bukan sekadar sebagai kekuatan politik elektoral, melainkan juga sebagai rumah gagasan untuk masa depan Bali. Sebuah ikhtiar kolektif menuju Bali yang tumbuh kuat, berkelanjutan, dan tetap berakar pada nilai budaya serta kearifan lokal. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini