BerandaEkonomiDemer Dorong PT KAI Percepat Digitalisasi Berbasis AI dan Maksimalkan Potensi Bisnis...

Demer Dorong PT KAI Percepat Digitalisasi Berbasis AI dan Maksimalkan Potensi Bisnis Stasiun

Foto: Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar daerah pemilihan Bali, Gde Sumarjaya Linggih atau yang akrab disapa Demer.

Jakarta, KabarBaliSatu

Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar daerah pemilihan Bali, Gde Sumarjaya Linggih atau yang akrab disapa Demer, mendorong PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk mempercepat transformasi digital berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sekaligus mengoptimalkan potensi bisnis di kawasan stasiun guna meningkatkan pendapatan perusahaan.

Dorongan tersebut disampaikan Demer saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI bersama Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Rabu (3/6/2026). Rapat tersebut membahas evaluasi kinerja korporasi tahun 2025, rencana kerja dan roadmap korporasi tahun 2026, serta sejumlah agenda strategis lainnya.

Dalam kesempatan itu, Demer mengapresiasi langkah PT KAI yang mulai mengadopsi teknologi digital dalam berbagai aspek operasional. Menurutnya, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan daya saing perusahaan sekaligus kualitas layanan kepada masyarakat.

“Dengan pengalaman yang sebelumnya, termasuk pengalaman sekarang pada layanan Bandung-Jakarta, kita bisa melihat berbagai hasil yang sudah dicapai. Kita mengetahui data, harga, dan berbagai informasi lainnya secara lebih cepat dan akurat. Syukurlah sekarang Bapak sudah mulai mengarah ke digitalisasi dan AI,” ujar Demer.

Ia menilai pemanfaatan AI akan memberikan dampak besar terhadap kinerja perusahaan, mulai dari efisiensi operasional hingga peningkatan pelayanan pelanggan.

“AI ini sangat membantu kita untuk melakukan semuanya, mulai dari efisiensi, efektivitas, kemudian juga keselamatan, bahkan sampai kenyamanan masyarakat dalam membeli tiket dan berbagai layanan lainnya. Karena itu kita harus adaptif terhadap teknologi itu sendiri,” tegasnya.

Menurut Demer, digitalisasi menjadi kebutuhan mendesak seiring meningkatnya jumlah pengguna jasa kereta api dari tahun ke tahun. Selain mampu mempercepat layanan dan menekan biaya operasional, penerapan teknologi berbasis AI juga dapat digunakan untuk manajemen perjalanan, pemeliharaan sarana secara prediktif, pengelolaan arus penumpang, hingga peningkatan keamanan dan keselamatan perjalanan.

Data PT KAI menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir jumlah pelanggan kereta api terus mengalami pertumbuhan signifikan. KAI juga telah mengembangkan berbagai layanan digital seperti aplikasi Access by KAI, sistem tiket elektronik, boarding berbasis face recognition, serta integrasi pembayaran digital yang semakin memudahkan pelanggan. Transformasi tersebut dinilai perlu terus diperluas agar mampu menjawab kebutuhan transportasi modern yang semakin dinamis.

Selain menyoroti transformasi digital, Demer juga menekankan pentingnya PT KAI memaksimalkan potensi ekonomi yang dimiliki setiap stasiun kereta api. Menurutnya, stasiun bukan hanya berfungsi sebagai titik keberangkatan dan kedatangan penumpang, tetapi juga dapat menjadi pusat aktivitas ekonomi yang menghasilkan pendapatan tambahan yang signifikan.

“Hal lain juga Pak, efektifkan setiap stasiun. Stasiun ini sebenarnya juga daging dalam bisnis. Karena di sana orang menunggu sambil berbelanja dan melakukan berbagai aktivitas lainnya. Jadi bagaimana caranya membuat orang ingin datang ke stasiun, menunggu sambil berbelanja, menikmati kuliner, atau mencari produk favorit yang tersedia di sana,” kata Demer.

Politisi Golkar asal Bali itu menilai kawasan stasiun memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pusat komersial yang hidup dan ramai. Kehadiran minimarket, pusat kuliner, toko oleh-oleh, gerai UMKM, layanan perbankan, hingga ruang usaha kreatif diyakini mampu meningkatkan pengalaman pelanggan sekaligus mendongkrak pendapatan perusahaan.

Gagasan tersebut bukan tanpa alasan. Di berbagai negara, operator kereta api memperoleh pendapatan besar dari sektor non-angkutan melalui pengelolaan properti, pusat perbelanjaan, kawasan transit terpadu, hingga penyewaan ruang usaha di stasiun. Model bisnis ini dinilai mampu menciptakan sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan sekaligus mengoptimalkan aset perusahaan.

“Kalau kawasan itu hidup, maka akan menjadi side business yang kuat. Bahkan dalam banyak kasus, pendapatan dari side business ini bisa lebih besar dibandingkan bisnis utamanya. Properti, area komersial, dan bisnis pendukung lainnya sering kali menjadi sumber keuntungan yang sangat menjanjikan,” ujarnya.

Demer menilai PT KAI memiliki modal besar untuk mengembangkan konsep serupa. Selain mengelola ratusan stasiun yang tersebar di berbagai daerah, KAI juga memiliki aset lahan strategis yang dapat diintegrasikan dengan pusat perdagangan, kawasan kuliner, ruang publik, maupun layanan transportasi pendukung lainnya.

Menurutnya, semakin lama masyarakat berada di kawasan stasiun, semakin besar pula potensi transaksi ekonomi yang dapat tercipta. Karena itu, stasiun perlu dikembangkan menjadi destinasi yang nyaman, modern, dan memiliki berbagai fasilitas pendukung yang menarik bagi penumpang maupun masyarakat umum.

Dengan transformasi digital berbasis AI serta pengembangan kawasan stasiun sebagai pusat bisnis terpadu, Demer berharap PT KAI dapat terus berkembang menjadi perusahaan transportasi modern yang tidak hanya mengandalkan pendapatan dari layanan angkutan, tetapi juga mampu menciptakan sumber-sumber pendapatan baru yang memperkuat kinerja perusahaan dan memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi negara (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini