BerandaDaerahBangun SPPG di Daerah 3T di Karangasem, Yayasan Agung Jaya Mandiri Dukung...

Bangun SPPG di Daerah 3T di Karangasem, Yayasan Agung Jaya Mandiri Dukung Penuh Program Makan Bergizi Gratis dan Gerakkan Ekonomi Lokal

Foto: Yayasan Agung Jaya Mandiri membangun titik pertama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem untuk menyukseskan Progam Makan Bergizi Gratis (MBG).

Karangasem, KabarBaliSatu

Yayasan Agung Jaya Mandiri berkomitmen penuh mendukung penuh dan menyukseskan program unggulan Presiden Prabowo Subianto salah satunya Makan Bergizi Gratis (MBG). Yayasan Agung Jaya Mandiri siap mendirikan sejumlah SPPG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang merupakan unit atau dapur yang bertugas menyediakan makanan bergizi gratis dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh pemerintah.

SPPG berperan dalam menyediakan makanan yang seimbang dan higienis untuk siswa sekolah, anak-anak balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang menjadi target program MBG.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Agung Jaya Mandiri Dr. Ir. I Wayan Adnyana, S.H, M.Kn., mengungkapkan bahwa yayasan segera mengambil langkah cepat dengan membangun titik pertama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem. Pembangunan ini merupakan bentuk dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah. Mengingat terbatasnya anggaran yang tersedia, pemerintah mendorong keterlibatan yayasan sebagai lembaga non-profit untuk berperan aktif dalam pelaksanaan program tersebut melalui pola kerja sama.

“Memang kemudian dari pemerintah, karena dengan ketatnya anggaran untuk MBG, nah itu memang pola yang diberikan oleh pemerintah adalah kerjasama dengan yayasan sebagai badan non-profit,” ungkap Wayan Adnyana.

Menurutnya, pembangunan SPPG di Desa Dukuh telah rampung. Unit tersebut telah melalui proses akreditasi, penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS), dan kini sedang dalam tahap penyiapan virtual account sebelum mulai beroperasi secara resmi pada Agustus mendatang, setelah masa liburan sekolah berakhir.

Yayasan Agung Jaya Mandiri mencatat sekitar 2.844 anak dari jenjang TK, SD, hingga SMP akan menjadi penerima manfaat di titik pertama SPPG. Namun, jumlah tersebut masih di bawah target yang diharapkan. Untuk itu, Badan Gizi Nasional (BGN) telah menurunkan tim yang terdiri dari Kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan guna melakukan verifikasi lapangan serta memperluas cakupan data penerima manfaat.

Sesuai ketentuan yang berlaku, apabila jumlah anak tidak mencukupi, data penerima dapat diperluas untuk mencakup ibu hamil dan ibu menyusui. Dengan perluasan ini, jumlah total penerima manfaat diperkirakan akan mencapai sekitar 3.500 orang.

 

“Kalau memang tidak lagi ada anak-anak penerima manfaat, artinya anak TK, SD, SMP, nah itu bisa didata untuk ibu hamil dan ibu menyusui. Jadi kemungkinan targetnya nanti sekitar 3.500 penerima manfaat,” jelasnya.

Ketika ditanya alasan di balik keterlibatan Yayasan Agung Jaya Mandiri dalam program MBG, Wayan Adnyana menyatakan bahwa langkah tersebut sejalan dengan misi yayasan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

“ Jadi program ini sebenarnya program yang sudah ada, sudah disetujui dan memang harus dijalankan, karena itu sudah menjadi program pemerintah. Tapi kan tentunya pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dan harus dapat dukungan dari masyarakat,” ujarnya.

Wayan Adanya menekankan bahwa yayasan memprioritaskan pembangunan SPPG di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Sejauh ini baru menyentuh wilayah Kubu, kemudian diperluas ke wilayah Galiran, Rendang, dan Ulakan.

“Di Ulakan kemarin satu titik itu kita sebenarnya sudah data ada 10 ribu penerima manfaat di seputaran titik itu, tapi ya sedang kita ajukan dulu, sambil menunggu operasional dari SPPG yang di Dukuh,” tambahnya.

Lebih dari sekadar mendistribusikan makanan bergizi, kehadiran SPPG juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat lokal. Yayasan Agung Jaya Mandiri bekerja sama dengan BUMD, petani, dan nelayan di sekitar lokasi untuk memasok bahan pangan. Selain itu, yayasan turut memberdayakan tenaga kerja lokal dengan merekrut 55 orang, mayoritas ibu-ibu dan perempuan, sebagai juru masak.

“Karena kita mulai memasak itu dari jam 2 pagi. Jadi untuk TK dan kelas 1, 2, 3 SD itu mulai proses masaknya jam 2 sampai jam 4, dan jam 8 harus sudah terkirim. Sedangkan untuk kelas 4, 5, 6 SD dan SMP pengirimannya antara jam 9 sampai jam 12. Jadi ada dua shift,” jelasnya.

Semua personel yang terlibat, mulai dari juru masak hingga kepala unit SPPG, direkrut dari masyarakat sekitar. Di samping itu, pemerintah juga telah menempatkan tiga tenaga profesional dari Badan Gizi Nasional Jakarta untuk memperkuat pengelolaan SPPG, yakni satu kepala unit, satu ahli gizi, dan satu ahli akuntansi.

“Pola ini tentunya akan kita terapkan di seluruh SPPG kita. Jadi semua nanti termasuk PIC kita, kepala SPPG yang dari yayasan juga orang setempat,” pungkasnya.

Dengan langkah ini, Yayasan Agung Jaya Mandiri menegaskan komitmennya dalam memperkuat sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam mencetak generasi sehat, kuat, dan cerdas melalui program makan bergizi gratis yang berkelanjutan. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini