Foto: Ilustrasi siswa Bali dengan latar pendidikan menggambarkan semakin jarangnya penggunaan nama Ketut. Data Disdikpora Bali 2026 mencatat kelompok anak keempat hanya 4,98 persen dari total siswa di Bali.
Denpasar, KabarBaliSatu
Nama Ketut yang selama ini lekat dengan sistem penamaan tradisional masyarakat Bali semakin jarang ditemukan di kalangan generasi muda. Data Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali 2026 menunjukkan, siswa yang masuk kategori anak keempat hanya mencapai 4,98 persen dari total siswa di Bali.
Dari 853.933 siswa yang tercatat dalam sistem pendidikan Bali, sebanyak 42.486 siswa merupakan kelompok anak keempat. Dalam tradisi penamaan Bali, anak keempat umumnya menggunakan nama Ketut.
Namun, proporsi tersebut tidak sama di setiap kabupaten/kota. Buleleng tercatat sebagai daerah dengan persentase anak keempat paling tinggi, sedangkan Tabanan berada di posisi terendah.
Kepala Disdikpora Provinsi Bali, Ida Bagus Gde Wesnawa Pania, mengatakan data tersebut merupakan hasil rekapitulasi siswa bernama Bali periode 2019-2026. Data mencakup jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, SLB hingga pendidikan nonformal PKBM/SKB berdasarkan Dapomart BPMP Agustus 2026.
“Dalam data 2026, siswa dengan nama Bali tercatat sebanyak 654.345 orang atau 76,63 persen dari keseluruhan siswa. Sementara 199.588 siswa atau 23,37 persen tercatat tanpa nama Bali,” ujar Wesnawa Punia, Jumat (18/9/2026).
Anak Pertama Masih Mendominasi
Jika dilihat berdasarkan urutan kelahiran, kelompok anak pertama yang menggunakan nama Putu, Wayan, atau Gede masih menjadi kelompok terbesar.
Jumlahnya mencapai 255.229 siswa atau 29,89 persen dari total siswa. Berikutnya, kelompok anak kedua dengan nama Made, Kadek, atau Nengah mencapai 232.227 siswa atau 27,19 persen.
Sementara itu, kelompok anak ketiga dengan nama Komang atau Nyoman tercatat sebanyak 124.403 siswa atau 14,57 persen.
Adapun kelompok anak keempat atau Ketut hanya berjumlah 42.486 siswa atau 4,98 persen.
Data tersebut menunjukkan adanya perbedaan cukup mencolok antarwilayah.
Buleleng mencatat proporsi anak keempat tertinggi, yakni 12.003 siswa atau 8,41 persen dari total 142.686 siswa.
Karangasem berada di posisi berikutnya dengan 7.129 siswa atau 8,17 persen dari total 87.286 siswa. Kemudian Bangli sebanyak 3.037 siswa atau 6,57 persen dari 46.200 siswa, serta Klungkung 2.438 siswa atau 6,03 persen dari 40.454 siswa.
Jembrana mencatat 2.630 siswa anak keempat atau 5,31 persen dari 49.563 siswa.
Di sisi lain, persentasenya lebih rendah di sejumlah daerah. Gianyar mencatat 3.484 siswa atau 3,40 persen dari 102.599 siswa. Badung memiliki 4.443 siswa atau 3,35 persen dari 132.617 siswa.
Denpasar mencatat 5.501 siswa atau 3,08 persen dari 178.517 siswa.
Sementara Tabanan menjadi daerah dengan proporsi anak keempat paling rendah. Dari 74.011 siswa, hanya 1.821 siswa atau 2,46 persen yang masuk kelompok tersebut.
“Kalau dilihat per daerah, angkanya memang berbeda. Ada daerah yang persentasenya lebih tinggi dan ada yang lebih rendah,” kata pria yang akrab disapa Gus Wes tersebut.
Nama Komang dan Nyoman Juga Berbeda Antarwilayah
Pola serupa terlihat pada kelompok anak ketiga yang umumnya menggunakan nama Komang atau Nyoman.
Karangasem mencatat proporsi tertinggi dengan 16.910 siswa atau 19,37 persen. Buleleng mencapai 18,82 persen atau 26.858 siswa, Bangli 17,54 persen atau 8.105 siswa, dan Klungkung 16,53 persen atau 6.688 siswa.
Di Jembrana, kelompok anak ketiga mencapai 7.613 siswa atau 15,36 persen. Gianyar tercatat 14.011 siswa atau 13,66 persen, Badung 16.538 siswa atau 12,47 persen, Tabanan 8.896 siswa atau 12,02 persen, dan Denpasar 18.784 siswa atau 10,52 persen.
SD dan SMP Sekitar 5 Persen
Disdikpora Bali juga memetakan proporsi anak keempat berdasarkan jenjang pendidikan.
Pada 2026, dari 86.187 siswa PAUD, sebanyak 3.855 anak atau 4,47 persen merupakan anak keempat.
Di jenjang SD, jumlah anak keempat mencapai 19.674 siswa atau 5,16 persen dari total 381.400 siswa.
Pada SMP, terdapat 9.516 anak keempat atau 5,02 persen dari 189.408 siswa. Sementara SMA mencatat 4.020 siswa atau 4,62 persen dari 87.017 siswa.
Di SMK, sebanyak 4.799 siswa atau 4,88 persen dari 98.331 siswa merupakan anak keempat.
Pada jenjang SLB, kelompok anak keempat berjumlah 127 siswa atau 4,44 persen dari 2.859 siswa. Sedangkan pada pendidikan nonformal PKBM/SKB, terdapat 495 siswa atau 5,67 persen dari 8.731 siswa.
“Data ini kami susun berdasarkan jenjang pendidikan, sehingga bisa dilihat bagaimana komposisinya mulai dari PAUD sampai pendidikan nonformal,” ujar Gus Wes.
Dalam beberapa tahun terakhir, proporsi anak keempat pada sejumlah jenjang relatif bertahan di kisaran 5 persen.
Pada jenjang SD, misalnya, persentasenya tercatat meningkat dari 4,92 persen pada 2019 menjadi 5,16 persen pada 2025 dan 2026.
Sementara pada SMP, angkanya bergerak dari 5,09 persen pada 2019 menjadi 5,02 persen pada 2026.
Untuk SMA, SMK, dan SLB, terdapat perubahan dalam penyajian data. Periode 2019-2023 masih digabung dalam kelompok SMA/SMK/SLB, sedangkan mulai 2024 data sudah dipisahkan berdasarkan jenjang pendidikan.
Denpasar Paling Rendah untuk Penggunaan Nama Bali
Selain urutan kelahiran, rekapitulasi Disdikpora juga memperlihatkan variasi penggunaan nama Bali secara keseluruhan.
Karangasem mencatat proporsi siswa dengan nama Bali sebesar 88,80 persen. Disusul Bangli 88,45 persen, Klungkung 87,26 persen, dan Buleleng 86,17 persen.
Gianyar berada di angka 82,75 persen dan Tabanan 81,96 persen. Jembrana tercatat 73,27 persen, sedangkan Badung 68,19 persen.
Denpasar menjadi daerah dengan proporsi siswa bernama Bali paling rendah.
Dari 178.517 siswa di Denpasar, sebanyak 105.412 siswa atau 59,05 persen menggunakan nama Bali. Sementara 73.105 siswa atau 40,95 persen tercatat tidak menggunakan nama Bali.
Menurut Gus Wes, rekapitulasi tersebut memberikan gambaran mengenai pola penggunaan nama Bali berdasarkan wilayah, jenjang pendidikan, serta urutan kelahiran.
Data tersebut juga memperlihatkan bahwa pola penamaan Bali tidak seragam dan memiliki variasi yang cukup besar antarwilayah.
Koster Soroti Makin Sedikitnya Nama Ketut
Persoalan semakin sedikitnya anak ketiga dan keempat sebelumnya juga disoroti Gubernur Bali Wayan Koster.
Saat menutup Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Rabu (16/9), Koster menyinggung rendahnya proporsi nama Ketut di sejumlah daerah.
Koster secara khusus menyebut Tabanan sebagai daerah dengan persentase nama Ketut yang rendah, disusul Denpasar dan Badung.
“Yang rendah itu Tabanan. Paling rendah nih Tabanan ini. Mau tiang mau kumpulin Bupatinya. Denpasar, Badung (juga),” ujar Koster.
Menurut Koster, jumlah keluarga yang memiliki anak ketiga dan keempat berkaitan dengan keberlangsungan penggunaan nama Nyoman dan Ketut pada generasi berikutnya.
Ia menilai kedua nama tersebut tidak sekadar menunjukkan urutan kelahiran, tetapi juga merupakan bagian dari sistem penamaan tradisional yang melekat pada identitas masyarakat Bali.
Atas dasar itu, Koster mengatakan dirinya tidak lagi ingin mendorong kampanye keluarga dengan dua anak di Bali. Ia justru menyampaikan gagasan keluarga dengan empat anak sepanjang kondisi keluarga memungkinkan.
“Jadi karena itu titiang mangkin enggak mau lagi kampanye KB 2 anak! Titiang udah bicara sama Menteri Kependudukan/Badan Keluarga Berencana berhenti kampanye KB 2 anak di Bali! Sekarang kita kampanye KB 4 anak lamun nyidang,” tegasnya. (kbs)

