Foto: Poster pagelaran Tari Kecak dan Pasar UMKM Lokal dalam rangka menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan bertajuk relaksasi, kesadaran diri, dan keseimbangan hidup bersama W. Sudiatmika, CI., CMM, tersebut digelar di Amatra Park, Jero Kawan, Kerobokan, Sabtu (15/8/2026).
Badung, KabarBaliSatu
Peringatan HUT ke-68 Provinsi Bali dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia akan dirayakan dengan cara berbeda oleh mantan anggota DPR RI Dapil Bali dari Partai Golkar sekaligus tokoh masyarakat Bali, Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra (Gus Adhi).
Gus Adhi akan menggelar pementasan seni Kecak di Amatra Park, Kerobokan, Badung, Sabtu, 15 Agustus 2026. Pertunjukan yang dijadwalkan mulai pukul 17.00 WITA itu mengusung semangat memadukan perayaan kemerdekaan dengan pelestarian seni budaya Bali.
Menurut Gus Adhi, pemilihan Kecak bukan tanpa alasan. Di balik lantunan suara “cak” yang dilakukan secara bersama-sama, terdapat pesan kuat tentang gotong royong, persatuan, demokrasi, serta bagaimana perbedaan dapat menjadi kekuatan.
“Di antara seni budaya yang ada, hampir semua mencerminkan gotong royong dan persatuan. Namun khusus di Kecak, ini adalah kolaborasi yang paling memberikan pesan moral kepada masyarakat. Bagaimana pentingnya kita harus indah di dalam demokrasi. Bilamana kita bisa merangkum dengan baik perbedaan itu, maka akan menjadi suatu kekuatan yang luar biasa,” ujar Gus Adhi.
Ia menilai Kecak menjadi gambaran sederhana tentang kehidupan demokrasi. Setiap penari memiliki suara yang berbeda, tetapi ketika disatukan dalam satu irama, menghasilkan pertunjukan yang kuat dan indah.
Menurutnya, filosofi tersebut relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Perbedaan tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan, melainkan dirangkul menjadi energi bersama untuk membangun daerah dan bangsa.
Selain mengangkat pesan persatuan, pementasan Kecak tersebut juga ingin mengingatkan pentingnya menjaga kesucian dan kelestarian Bali di tengah perkembangan pariwisata.
Gus Adhi mengaitkan kisah Ramayana yang menjadi bagian dari cerita dalam Kecak dengan tantangan Bali menghadapi berbagai godaan pembangunan, khususnya sektor pariwisata.
Ia mencontohkan sosok Sita yang dalam kisah Ramayana menghadapi berbagai godaan, namun tetap mempertahankan kesuciannya. Filosofi itu, menurut Gus Adhi, dapat menjadi refleksi bagi Bali agar tetap menjaga jati diri, budaya, alam, dan nilai-nilai kearifan lokal di tengah pesatnya perkembangan pariwisata.
“Godaan yang saya maksud adalah godaan pariwisata. Namun kesucian Bali itu tetap harus dijaga, dengan akhirnya bagaimana kita memberdayakan semua potensi yang ada yang sesuai dengan Undang-Undang Provinsi Bali,” katanya.
Gus Adhi menilai implementasi Undang-Undang Provinsi Bali dengan mengoptimalkan seluruh potensi daerah dapat menjadi fondasi untuk membangun pariwisata Bali yang berkelanjutan. Dengan demikian, pariwisata tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan budaya tetap lestari dan lingkungan terjaga.
“Bilamana kita mengadopsi Undang-Undang Provinsi Bali dan mengimplementasikan semua potensi yang ada, maka Bali itu akan menjadi pariwisata yang berkelanjutan. Budayanya lestari,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk melihat perbedaan sebagai sebuah keindahan. Hal itu tercermin dari suara “cak” dalam pertunjukan Kecak yang berasal dari banyak orang, tetapi berpadu menjadi satu kekuatan.
“Ada perbedaan suara cak-cak-cak, namun dalam satu kekuatan yang bersama. Perbedaan itu adalah sebuah keindahan yang harus terbangun,” ujarnya.
Dorong UMKM dan Sanggar Seni
Selain menjadi ruang untuk menyampaikan pesan kebangsaan dan budaya, pementasan Kecak tersebut juga diarahkan untuk menghidupkan ekonomi masyarakat lokal.
Gus Adhi mengatakan perayaan HUT RI tidak semestinya hanya menjadi kegiatan seremonial. Momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat sanggar seni, memberdayakan pelaku UMKM, sekaligus membuka ruang bagi masyarakat lokal dan wisatawan untuk menikmati pertunjukan berbasis budaya.
“Di dalam perayaan tahun ini akan lebih hidup dengan mementaskan seni budaya, memperkuat UMKM, menghidupkan sanggar-sanggar seni. Inilah yang harus kita lakukan di dalam menghadapi ekonomi saat ini. Dan itulah yang membuat jati diri bangsa meningkat,” katanya.
Ia pun menyatakan dukungannya terhadap program pembangunan Bali yang mendorong pemberdayaan potensi lokal, termasuk UMKM sebagai salah satu kekuatan ekonomi masyarakat.
Menurut Gus Adhi, UMKM Bali sebenarnya telah memiliki potensi besar. Tantangannya adalah bagaimana pemerintah, pelaku usaha, dan investor dapat membangun kolaborasi dengan menempatkan UMKM sebagai bagian penting dalam rantai ekonomi pembangunan Bali.
“Penting sekali kita harus memberdayakan UMKM sebagai potensi ekonomi yang sudah mempunyai kekuatan sebenarnya. Tinggal bagaimana kehadiran pemerintah, kehadiran wirausaha, kehadiran investasi atau investor lebih kepada bagaimana mengutamakan UMKM sebagai potensi yang harus digerakkan di dalam mewujudkan ekonomi yang dahsyat di Bali ini,” ungkapnya.
Melalui pementasan Kecak tersebut, Gus Adhi berharap perayaan HUT ke-68 Provinsi Bali dan HUT ke-81 RI tidak hanya menjadi perayaan simbolik, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, budaya, ekonomi rakyat, serta kecintaan terhadap Bali.
Ia mengajak masyarakat lokal maupun wisatawan untuk hadir dan merayakan kemerdekaan dengan menyaksikan seni budaya Bali.
“Untuk itu, mari kita rayakan kemerdekaan ini berpadu dengan pertunjukan rakyat yang berbasiskan budaya, memperkuat sanggar seni dan UMKM kita. Menyatu dengan rakyat, memperkuat budaya, di situlah kehidupan bangsa Indonesia,” pungkasnya.
Pementasan Kecak di Amatra Park, Kerobokan, akan digelar pada Sabtu, 15 Agustus 2026 mulai pukul 17.00 WITA. Masyarakat yang hadir juga diajak mengenakan pakaian adat madya.
Selain pagelaran Tari Kecak, masyarakat juga dapat mengunjungi Pasar UMKM Lokal yang menghadirkan sejumlah pelaku usaha dengan beragam produk makanan, kerajinan, hingga produk kesehatan tradisional.
Adapun UMKM yang ambil bagian antara lain Kedai Bunda, yang memasarkan nasi ayam geprek, nasi ayam kremes, sosis bakar, es teler, dan es cincau.
Kemudian Cemal Cemil menyediakan risoles mix, bakwan kedelai, lumpia Jawa, serta produk Fiber Tresna 369. Ada pula Bakso Bu Lia yang menawarkan bakso ayam dan lontong.
Sementara itu, Jejahitan Odah Aska Dkk menghadirkan berbagai produk jejahitan, seperti ceper, ituk-ituk, dan tipat dampul. Nori.in turut meramaikan pasar UMKM dengan produk Nori Tabur.
Dari sektor kesehatan dan wellness, Mamincess Beauty Wellness menghadirkan Jamu Tradisional Djampi, serta layanan Terapi Raras Ayu dan Terapi Raga Wening.
Kehadiran berbagai UMKM tersebut menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana perayaan kemerdekaan dapat sekaligus menjadi ruang promosi dan pemasaran bagi usaha masyarakat lokal.
Selain pasar UMKM, kegiatan juga dirangkai dengan sesi relaksasi, kesadaran diri, dan keseimbangan hidup bersama W. Sudiatmika, CI., CMM, hypnotherapist, holistic & energetic healer.
Rangkaian kegiatan tersebut juga membawa semangat Lansia Sehat Indonesia Kuat, serta melibatkan berbagai unsur masyarakat dalam memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bagi Gus Adhi, merayakan kemerdekaan dengan budaya merupakan cara untuk memastikan semangat perjuangan bangsa terus hidup, sekaligus menjaga jati diri Bali di tengah perubahan zaman. (kbs)

