BerandaDaerahYakini Bali Berpotensi Menjadi Laboratorium Dunia bagi Kearifan Lokal, Gubernur Koster Dorong...

Yakini Bali Berpotensi Menjadi Laboratorium Dunia bagi Kearifan Lokal, Gubernur Koster Dorong Integrasi Pertanian dan Pariwisata Berbasis Budaya

Pengembangan Pariwisata Berbasis Budaya dan Pertanian Harus Mampu Meningkatkan Kesejahteraan Petani Sebagai Pemilik Sekaligus Pengelola Kawasan

Foto: Gubernur Koster menerima audiensi Forum Komunikasi Fakultas Pertanian Wilayah Indonesia Timur di Ruang Tamu Kantor Gubernur Bali, Renon, Denpasar, Kamis (2/7).

 

Denpasar, KabarBaliSatu

Gubernur Bali Wayan Koster mendorong pembangunan sektor pertanian yang terintegrasi dengan pariwisata berbasis budaya. Menurutnya, sinergi kedua sektor tersebut menjadi strategi penting agar petani tidak hanya berperan menjaga bentang alam Bali, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.

Hal itu disampaikan Koster saat menerima audiensi Forum Komunikasi Fakultas Pertanian Wilayah Indonesia Timur di Ruang Tamu Kantor Gubernur Bali, Renon, Denpasar, Kamis (2/7).

Dalam kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, mengundang Gubernur Koster untuk menjadi keynote speaker pada Lokakarya dan Seminar Nasional Pertanian yang akan diselenggarakan pada 23 Juli mendatang.

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian forum yang meliputi seminar nasional, lokakarya, serta berbagai perlombaan mahasiswa. Sekitar 90 dekan fakultas pertanian beserta jajaran dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Indonesia Timur diperkirakan hadir, dengan jumlah peserta mencapai sekitar 200 orang.

Sudiarta mengatakan forum tersebut mengangkat tema integrasi pertanian dan pariwisata berbasis budaya yang dinilai sangat relevan dengan karakteristik Bali.

“Konsep budaya yang diintegrasikan dengan pertanian dan pariwisata seperti di Bali menjadi sangat penting. Karena itu kami berharap Bapak Gubernur berkenan menjadi keynote speaker,” ujarnya.

Menanggapi undangan tersebut, Koster menegaskan bahwa sektor pertanian tidak boleh diposisikan hanya sebagai pelengkap pembangunan pariwisata. Menurutnya, selama ini banyak kawasan pertanian menjadi daya tarik wisata tanpa memberikan manfaat ekonomi yang memadai kepada petani sebagai pemilik lahan.

“Pertanian harus berjalan sejalan dengan pariwisata. Banyak fasilitas pariwisata yang mengeksploitasi keindahan kawasan pertanian. Selain sebagai penyangga ketahanan pangan, kawasan pertanian juga menjadi objek wisata alam. Karena itu harus dikemas dengan baik agar petani memperoleh manfaat. Kalau hanya dilindungi tanpa peningkatan pendapatan petani, itu tidak adil, apalagi kebutuhan hidup terus meningkat,” kata Koster.

Ia menilai diperlukan konsep yang mampu menempatkan petani sebagai pelaku utama sekaligus penerima manfaat dari pengembangan pariwisata berbasis pertanian.

Lebih lanjut, Koster menegaskan Bali memiliki keunggulan yang tidak dimiliki daerah lain, yakni sistem pertanian yang menyatu dengan budaya, tradisi, dan kearifan lokal. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, perlu terus dihidupkan sebagai identitas sekaligus daya tarik Bali di tingkat internasional.

Ia mengungkapkan konsep tersebut bahkan telah dipresentasikannya dalam sebuah forum di London, termasuk mengenai Peraturan Daerah tentang Pertanian Organik yang disebutnya sebagai satu-satunya regulasi sejenis di Indonesia.

“Di Bali, bertani bukan sekadar menanam. Ada upacara dan upakara yang mengiringi mulai dari pembibitan, pengairan hingga panen. Semua itu menjadi satu kesatuan budaya yang hanya dimiliki Bali,” ujarnya.

Menurut Koster, kekayaan tradisi tersebut menjadikan sistem pertanian Bali tidak hanya bernilai teknis, tetapi juga memiliki dimensi budaya, spiritual, dan sosial yang semakin diminati masyarakat dunia.

Ia menambahkan, di tengah perubahan global yang semakin dinamis, banyak masyarakat dunia mulai mencari kembali akar budaya dan identitasnya. Bali, kata dia, justru telah memiliki jati diri yang kuat sehingga tinggal menghidupkan dan mengembangkannya.

“Kita di Bali tidak perlu lagi mencari jati diri karena sudah memilikinya sejak dahulu. Tinggal digali dan diperkuat kembali. Saya yakin Bali akan menjadi laboratorium studi dunia untuk kearifan lokal karena ilmu seperti ini hanya ada di Bali,” ujar Koster. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini