Foto: Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Dapil Bali Gde Sumarjaya Linggih yang akrab disapa Demer.
Jakarta, KabarBaliSatu
Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Dapil Bali Gde Sumarjaya Linggih yang akrab disapa Demer menilai PT Industri Kereta Api (INKA) merupakan salah satu BUMN paling strategis yang saat ini memiliki prospek pertumbuhan sangat menjanjikan. Di tengah sejumlah sektor industri yang mulai menghadapi perlambatan, PT INKA justru dinilai berada pada fase sunrise industry dengan peluang bisnis yang masih terbuka lebar, baik di pasar domestik maupun internasional.
Hal tersebut disampaikan Demer saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI bersama Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Direktur Utama PT Industri Kereta Api (INKA), Rabu (3/6/2026). Rapat membahas evaluasi kinerja korporasi tahun 2025, rencana kerja dan roadmap korporasi tahun 2026, strategi kolaborasi PT KAI dan PT INKA, serta berbagai agenda lainnya.
“Yang pertama tentu saya setuju bahwa sebenarnya ini perusahaan sangat strategis. Kalau banyak perusahaan sekarang memasuki fase sunset, justru PT INKA ini sunrise karena masih banyak sekali opportunity. Apalagi tadi disampaikan PT INKA juga sudah ekspor dan sebagainya. Artinya peluang ini sangat besar, di samping peluang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sendiri,” ujar Demer.
Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, PT INKA terus menunjukkan kinerja positif di pasar global. Pada Februari 2025, INKA Group melalui anak usahanya melanjutkan pengiriman 50 unit Container Flat Top Wagon ke Selandia Baru. Pengiriman tersebut merupakan bagian dari kontrak 450 unit gerbong barang untuk KiwiRail. Hingga saat itu, sebanyak 392 unit telah berhasil dikirim ke negara tersebut.
Selain Selandia Baru, PT INKA juga berhasil memperluas pasar ke Australia. Pada 2025, perusahaan mulai mengirim platform lokomotif untuk United Group Limited (UGL) Australia sebagai bagian dari kontrak pengadaan 50 unit yang akan dipenuhi secara bertahap hingga 2028. Ekspor tersebut menjadi salah satu bukti meningkatnya kepercayaan pasar internasional terhadap produk manufaktur perkeretaapian buatan Indonesia.
Meski optimistis terhadap masa depan perusahaan, Demer mengingatkan bahwa peluang besar tersebut harus diimbangi dengan penerapan Good Corporate Governance (GCG) yang kuat. Menurutnya, banyak BUMN memiliki potensi bisnis dan omzet besar, namun gagal berkembang secara optimal karena lemahnya efisiensi dan efektivitas pengelolaan perusahaan.
“Saya hanya mengingatkan saja, dan saya yakin sebenarnya ini sudah dilakukan. Namun kadang-kadang memang berat dalam hal kebijakan dan implementasinya. Yang utama adalah bagaimana Good Corporate Governance-nya. Bagaimana efisien dan efektifnya pengelolaan BUMN itu,” tegasnya.
Demer yang juga Ketua DPD Partai Golkar Bali itu menilai masih banyak persoalan klasik yang membuat sejumlah BUMN kalah bersaing dengan sektor swasta, mulai dari kelebihan sumber daya manusia, tingginya biaya operasional, hingga proses pengadaan yang tidak berjalan secara optimal.
“Selama ini banyak BUMN kalah bersaing dengan swasta karena sumber daya manusianya berlebih, biaya operasinya tidak efisien, purchasing-nya tidak efektif. Ini harus menjadi hal utama yang sekarang dilakukan,” kata wakil rakyat yang sudah lima periode mengabdi di DPR RI memperjuangkan kepentingan Bali itu.
Menurut Demer, sejarah menunjukkan banyak BUMN memiliki omzet besar dan dukungan kebijakan yang kuat dari pemerintah, namun akhirnya mengalami kesulitan karena tidak mampu mengimbangi peluang bisnis dengan sistem kerja yang efisien.
“Banyak sekali BUMN kita hancurnya bukan karena tidak punya pasar. Omzetnya besar, peluangnya besar, kebijakan yang diberikan juga besar. Tetapi efisiensi dan efektivitasnya tidak mampu mengimbangi cara kerja swasta. Padahal opportunity-nya luar biasa,” ujar wakil rakyat berlatar belakang pengusaha sukses dan mantan Ketua Umum Kadin Bali itu.
Karena itu, Komisi VI DPR RI mendorong PT INKA untuk terus memperkuat ekspansi pasar global sekaligus melakukan pembenahan tata kelola perusahaan secara berkelanjutan. Dengan peluang pasar yang masih sangat luas, dukungan pemerintah yang kuat, serta penerapan prinsip efisiensi dan profesionalisme, PT INKA diyakini mampu menjadi salah satu BUMN unggulan yang tidak hanya menguasai pasar domestik, tetapi juga semakin diperhitungkan di industri perkeretaapian dunia.
“Opportunity-nya sangat besar. Tinggal bagaimana perusahaan mampu mengelolanya dengan baik. Kalau efisiensi dan efektivitas berjalan, saya yakin PT INKA bisa tumbuh jauh lebih besar dan menjadi kebanggaan Indonesia di pasar internasional,” pungkas Demer. (kbs)

