BerandaUncategorizedSuyasa ke PSI, Demer Sarankan Sika Ikuti Ayahnya! Mundur dari Golkar dan...

Suyasa ke PSI, Demer Sarankan Sika Ikuti Ayahnya! Mundur dari Golkar dan DPRD Badung: Lebih Elegan dan Beretika, Kelihatan Kualitasnya!

Jangan Menikmati Jabatan Dulu Baru Mundur dari Golkar dan Loncat ke PSI Jelang Pemilu 2029 

Foto: Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Gde Sumarjaya Linggih atau yang akrab disapa Demer (atas); Wayan Suyasa (kiri bawah) mantan Ketua DPD Golkar Kabupaten Badung yang kini menjadi Ketua DPW PSI Provinsi  Bali; I Putu Sika Adi Putra (kanan bawah) Anggota DPRD Badung dari Partai Golkar, putra Wayan Suyasa.

Denpasar, KabarBaliSatu

Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Gde Sumarjaya Linggih yang akrab disapa Demer, menyarankan I Putu Sika Adi Putra untuk mundur sebagai kader Partai Golkar sekaligus melepaskan jabatannya sebagai Anggota DPRD Badung dari Partai Golkar.

Saran tersebut disampaikan menyusul langkah politik ayah Sika, I Wayan Suyasa, yang lebih dulu meninggalkan Partai Golkar dan kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Provinsi Bali.

Menurut Demer, mundurnya Sika justru akan menunjukkan etika politik dan kualitas pribadi yang lebih elegan dalam menyikapi perbedaan sikap politik di dalam satu keluarga.

“Seharusnya secara etika, kalau bapaknya ke sana (PSI), harusnya ikut bapaknya, jadi harunya mundur dari Golkar. Secara etika lebih eleganlah kalau mengundurkan diri, jadi lebih berkualitaslah,” ujar Demer, Minggu (25/1/2026).

Terkait kemungkinan sanksi atau pemecatan terhadap Sika dari Partai Golkar, Demer menegaskan belum ada keputusan final. Persoalan tersebut akan terlebih dahulu dibahas secara internal oleh DPD Golkar Badung bersama DPD Golkar Bali sebelum dilaporkan ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar.

“Nanti akan kita rapatkan lagi, kita juga akan panggil Putu Sika. Setelah kita klarifikasi, baru kita laporkan ke pusat,” jelas Demer yang juga Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI Dapil Bali itu.

Demer bahkan menekankan, dari sudut pandang etika politik, Sika semestinya mengikuti langkah ayahnya. Ia menyebut bahwa secara moral dan budaya politik, anak seharusnya sejalan dengan pilihan politik orang tua yang telah membesarkannya.

“Kalau bapaknya keluar, seharusnya ya (Sika) ikut dengan bapaknya. Karena Sika dibesarkan oleh bapaknya,” ucap Demer dengan nada tegas.

Jadik Sika kalau tidak mau jadi anak durhaka ya harus ikut bapaknya ke PSI? “Saya meyakini itu. Pada akhirnya Sika akan ikut bapaknya. Walaupun Sika sekarang bersikeras di Golkar pada akhirnya di Pemilu yang akan datang, dia akan pilih di tempatnya bapaknya (gabung PSI),” tegas Demer menjawab pertanyaan wartawan.

Demer juga menyinggung indikasi sikap politik Sika yang dinilai sudah terlihat sejak awal. Ia mengungkapkan, saat isu kepindahan Wayan Suyasa ke PSI mencuat, Sika diketahui memasang spanduk dan baliho tanpa mencantumkan logo maupun identitas Partai Golkar.

“Saya dengar ketika baru isu ayahnya ke PSI, saya lihat Sika pasang spanduk dan baliho tidak pakai logo Golkar,” ungkap Demer.

Jadi secara etika Sika lebih baik mundur saat ini daripada last minute jelang Pemilu 2029 baru pindah partai loncat pagar ke PSI? Ditanya begitu Demer menegaskan tentu lebih elegan dan beretika ketika Sika secara kesatria memilih mundur dari Golkar dan bergabung dengan ayahnya di PSI dari saat ini ketimbang menjelang Pileg baru mundur. Karena darisana akan terlihat kualitas seseorang.

“Ya lebih elegan dan lebih beretika lah kalau seandainya mundur. Dari situ kan kelihatan kualitas eseorang itu. Ketika dia mengerti etika, maka di situ kelihatan kualitas seseorang,” tegas Demer yang juga Anggota Komisi VI DPR RI itu.

Lagi-lagi Demer meyakini jika tidak mundur sekarang sebagai kader Golkar dan dari jabatannya sebagai Anggota DPRD Badung, maka Sika pasti akan mundur menjelang konstestasi Pemilu 2029 dan tentu akan bergabung di PSI. namun baru Demer kondisi itu malah akan menjatuhkan citra Sika sendiri.

Jadi jangan sampai last minute jelang Pemilu baru baru pindah partai dan sekarang menikmati jabatan dulu sebagai wakil rakyat? “Dia pasti akan pindah kok. Cuma harusnya dia berani mundur sekarang.  Jangan terkesan mau menikmati jabatan dulu. Kan nggak elok jadinya. Nanti masyarakat kan bisa menilai sejauh mana kualitas seseorang itu kan dilihat dari bagaimana dia beretika,” ujar Demer.

Lebih lanjut, Demer mengungkapkan bahwa Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Golkar pada prinsipnya tidak membenarkan satu keluarga berada di partai politik berbeda dalam satu daerah pemilihan (dapil), kecuali berada di dapil yang berbeda.

“Kalau di kami itu satu dapil nggak boleh, kecuali beda dapil. Yang dimaksud dapil itu DPR RI. Kalau misalnya beda daerah seperti Lombok, itu tidak masalah,” jelas politisi senior Golkar yang sudah lima periode menjadi wakil rakyat di DPR RI dan memperjuangkan kepentingan Bali.

Demer mengaku khawatir keberadaan Sika di internal Golkar Bali dapat mengganggu dinamika kepartaian, terutama dalam proses pengambilan keputusan strategis yang bersifat internal dan tertutup. Ia juga meyakini Sika pada akhirnya akan mengikuti jejak sang ayah bergabung ke PSI.

“Secara etika kan kurang bagus. Seolah-olah jadi mata-mata, karena kami sering rapat-rapat tertutup. Saya yakin juga nanti ujung-ujungnya pindah,” ungkap politisi senior Golkar asal Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng itu.

Saat ini, Demer menegaskan pihaknya masih menunggu hasil klarifikasi resmi dari DPD Golkar Badung terhadap Putu Sika. Setelah proses tersebut rampung, hasilnya akan disampaikan ke DPP Partai Golkar untuk ditindaklanjuti sesuai mekanisme organisasi. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini