BerandaEkonomiSenantara Nasdem Desak Bio Farma Ungkap Nilai Ekspor ke 150 Negara, Jangan...

Senantara Nasdem Desak Bio Farma Ungkap Nilai Ekspor ke 150 Negara, Jangan Hanya Keluhkan Kenaikan Dolar!

Ekspor hingga Afrika dan Amerika, Senantara Nasdem Minta Bio Farma Tunjukkan Dampak Keuntungannya!

Foto: Ilustrasi ekspor obat-obatan oleh PT Bio Farma.

Jakarta, KabarBaliSatu

Anggota Komisi VI DPR RI dari Daerah Pemilihan Bali, Ir. Nengah Senantara, meminta PT Bio Farma dan subholding-nya lebih transparan dalam menyampaikan data kinerja ekspor. Menurutnya, di tengah keluhan mengenai tekanan ekonomi global dan menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat, perusahaan justru memiliki peluang besar karena telah berhasil menembus pasar internasional yang luas.

Hal tersebut disampaikan Senantara dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI bersama PT Bio Farma beserta subholding-nya pada Selasa (9/6/2026), yang membahas evaluasi kinerja korporasi tahun 2025, rencana kerja, serta roadmap perusahaan tahun 2026.

Dalam rapat itu, Senantara menanggapi paparan dari jajaran Kimia Farma yang menyinggung tantangan akibat situasi global dan penguatan dolar AS. Ia mengakui kondisi tersebut memang berdampak pada biaya produksi, terutama bagi industri farmasi yang masih bergantung pada impor bahan baku obat (BBO).

Namun, menurutnya, Bio Farma memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak perusahaan lain, yakni jaringan ekspor yang telah menjangkau sekitar 150 negara di berbagai kawasan dunia, mulai dari Asia, Timur Tengah, Afrika hingga Amerika Latin.

“Yang kedua, tadi juga teman-teman Kimia Farma menyampaikan bahwa ada keluhan tentang situasi global dan dolar AS yang naik. Kita paham itu. Tetapi di sisi lain saya melihat dalam laporan ini Bio Farma sudah mampu mensuplai ke 150 negara, bahkan ada pengembangan ke Amerika dan negara-negara lain. Tentu sumbangan nilai dolarnya juga cukup signifikan,” ujar politisi berkatar belakang pengusaha sukses itu.

Politisi yang juga Ketua DPW Partai NasDem Bali itu mempertanyakan sejauh mana kontribusi ekspor tersebut terhadap pendapatan perusahaan. Menurutnya, jika ekspor memberikan keuntungan yang signifikan, maka perusahaan tidak semestinya hanya fokus pada dampak negatif kenaikan dolar.

“Pertanyaan saya, apakah ekspor ke 150 negara, termasuk ke Afrika dan negara-negara lainnya, memberikan keuntungan yang signifikan atau tidak? Kalau keuntungannya signifikan, artinya tidak usah mengeluh dong. Dengan situasi global seperti sekarang, kita kan ekspor dan nilainya dalam dolar,” tegasnya.

Ekspor Jadi Kekuatan Bio Farma

Pernyataan Senantara bukan tanpa alasan. Selama beberapa tahun terakhir, Bio Farma dikenal sebagai salah satu perusahaan farmasi terbesar di Asia Tenggara yang memiliki rekam jejak kuat di pasar global. Produk vaksin Bio Farma telah digunakan di puluhan negara dan menjadi bagian penting dari program imunisasi internasional.

Selain itu, perusahaan juga telah memperoleh berbagai sertifikasi internasional yang memungkinkan produknya diterima di banyak negara. Keberhasilan menembus pasar ekspor menjadi salah satu sumber devisa yang berpotensi memperkuat ketahanan perusahaan saat terjadi fluktuasi nilai tukar.

Di sisi lain, industri farmasi nasional memang menghadapi tantangan karena sekitar 85 hingga 90 persen bahan baku obat masih bergantung pada impor. Kondisi ini membuat pelemahan rupiah terhadap dolar dapat meningkatkan biaya produksi. Namun bagi perusahaan yang memiliki pendapatan ekspor dalam dolar, dampak tersebut dapat dikompensasi melalui penerimaan devisa dari pasar internasional.

Karena itu, Senantara meminta Bio Farma memaparkan secara rinci nilai ekspor yang berhasil dibukukan dari 150 negara tujuan tersebut.

“Mohon dijelaskan berapa nilai ekspor yang mampu dibukukan oleh Bio Farma di 150 negara tersebut, termasuk Afrika. Lalu ke depan negara mana yang akan menjadi sumber pertumbuhan ekspor obat-obatan kita,” kata Ketua DPW Partai NasDem Bali itu.

DPR Minta Data Lebih Detail

Menurut Senantara, laporan yang disampaikan dalam rapat masih bersifat umum dan belum memberikan gambaran utuh mengenai sumber pendapatan maupun tantangan yang dihadapi perusahaan. Padahal, data yang detail sangat diperlukan untuk merumuskan solusi yang tepat.

“Nah, rapat-rapat berikutnya barangkali laporannya sedikit diperjelas. Lagi-lagi saya katakan, sehingga terapi penyelesaian masalahnya akan lebih mudah,” ujarnya.

Ia menilai pemetaan pasar ekspor juga penting untuk mengetahui negara-negara yang berpotensi menjadi motor pertumbuhan baru bagi industri farmasi nasional. Dengan strategi ekspor yang tepat, Bio Farma tidak hanya mampu meningkatkan pendapatan perusahaan, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam industri farmasi dan vaksin global.

Bagi Senantara, tantangan ekonomi global seharusnya menjadi momentum untuk memperbesar penetrasi pasar internasional. Sebab, semakin besar nilai ekspor yang dihasilkan, semakin kuat pula kemampuan perusahaan dalam menghadapi gejolak kurs dan ketidakpastian ekonomi dunia. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini