Foto: Ilustrasi Nengah Senantara menyoroti PT Bio Farma.
Jakarta, KabarBaliSatu
Anggota Komisi VI DPR RI dari Daerah Pemilihan Bali sekaligus Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Bali, Ir Nengah Senantara, menyoroti laporan kerugian yang dialami PT Bio Farma. Ia meminta manajemen perusahaan farmasi pelat merah tersebut membuka secara transparan sumber kerugian yang terjadi sehingga langkah penyelesaiannya dapat dirumuskan secara tepat dan terukur.
Pernyataan itu disampaikan Senantara dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI bersama PT Bio Farma beserta subholdingnya pada Selasa (9/6/2026). Agenda rapat mencakup evaluasi kinerja korporasi tahun 2025, penyampaian rencana kerja dan roadmap perusahaan tahun 2026, serta pembahasan berbagai tantangan yang dihadapi industri farmasi nasional.
Dalam forum tersebut, Senantara menilai paparan yang disampaikan manajemen masih terlalu umum dan belum memberikan gambaran utuh mengenai penyebab kerugian yang mencapai lebih dari Rp1 triliun.
“Kalau saya memperhatikan laporannya tadi, memang apa yang disampaikan Ketua tadi sifatnya masih normatif. Sebagai contoh tadi kan ada kerugian sampai Rp1 sekian triliun, tapi tidak dicantumkan sumber kerugiannya dari mana. Ini penting kita tahu,” ujar Senantara.
Menurutnya, informasi mengenai asal-usul kerugian menjadi faktor penting dalam menentukan strategi pemulihan perusahaan. Tanpa mengetahui akar persoalan, langkah-langkah perbaikan berisiko tidak menyentuh sumber masalah yang sebenarnya.
“Apakah kerugian ini disebabkan karena penyesuaian nilai aset atau karena kerugian produksi. Mohon ini dijelaskan sehingga terapi untuk penyelesaian masalahnya menjadi jelas dan barangkali bisa dipermudah,” tegas ketua DPW Partai NasDem Bali itu.
Senantara menjelaskan bahwa dalam dunia korporasi, kerugian perusahaan dapat dipicu oleh berbagai faktor. Kerugian bisa muncul akibat penurunan nilai aset (impairment), meningkatnya beban keuangan, penurunan penjualan, tingginya biaya produksi, hingga dampak restrukturisasi bisnis. Karena itu, DPR memerlukan data yang lebih rinci agar dapat melakukan pengawasan secara optimal sekaligus memberikan masukan yang konstruktif.
Sebagai holding BUMN farmasi, Bio Farma memegang peran strategis dalam menjaga ketahanan kesehatan nasional. Perusahaan ini membawahi sejumlah entitas penting di sektor farmasi dan alat kesehatan yang berperan dalam penyediaan vaksin, obat-obatan, serta produk kesehatan bagi masyarakat Indonesia.
Menurut Senantara, kondisi keuangan Bio Farma menjadi perhatian serius karena perusahaan tersebut merupakan salah satu tulang punggung industri kesehatan nasional. Ia menilai kinerja perusahaan harus terus diperkuat agar mampu menjawab tantangan global, mulai dari fluktuasi harga bahan baku farmasi, persaingan industri kesehatan, hingga tuntutan peningkatan inovasi dan efisiensi.
Politisi NasDem asal Bali itu juga menekankan pentingnya transparansi dalam tata kelola BUMN. Menurutnya, keterbukaan informasi akan memudahkan pemegang kebijakan dalam menentukan langkah korektif, sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap perusahaan negara.
“Kalau sumber kerugiannya sudah jelas, apakah karena faktor aset, produksi, atau persoalan operasional lainnya, maka terapi yang diberikan juga akan lebih tepat. Kita ingin masalah ini cepat selesai dan perusahaan bisa kembali fokus meningkatkan kinerjanya,” kata politisi berlatar belakang pengusaha sukses itu.
Dalam kesempatan tersebut, Komisi VI DPR RI juga menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kinerja BUMN strategis agar tetap sehat, kompetitif, dan mampu memberikan kontribusi maksimal bagi perekonomian nasional. Evaluasi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada angka-angka keuangan, tetapi juga pada efektivitas tata kelola, strategi bisnis, serta keberlanjutan perusahaan di masa depan.
Senantara berharap manajemen Bio Farma dapat memberikan penjelasan yang lebih detail dalam pembahasan lanjutan sehingga DPR memperoleh gambaran yang utuh mengenai kondisi perusahaan. Dengan demikian, langkah pemulihan yang ditempuh tidak sekadar bersifat administratif, melainkan benar-benar menyasar akar persoalan yang menyebabkan kerugian.
“Yang kita inginkan bukan hanya mengetahui angka kerugiannya, tetapi memahami apa penyebabnya. Kalau akar masalahnya diketahui, maka solusi yang diambil akan lebih tepat, cepat, dan efektif,” pungkasnya. (kbs)

