BerandaSeni BudayaRepatriasi Artefak Kembali Menguat, “Mr. Sinergi” dan “Mr. Excellence” Putu Supadma Rudana...

Repatriasi Artefak Kembali Menguat, “Mr. Sinergi” dan “Mr. Excellence” Putu Supadma Rudana Tegaskan Museum Jadi Kunci Utama

Foto: President The Rudana Art Institution yang juga Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia, Putu Supadma Rudana (PSR).

Ubud, KabarBaliSatu

Isu pemulangan artefak budaya Indonesia dari luar negeri kembali mencuat.
President The Rudana Art Institution yang juga Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia, Putu Supadma Rudana (PSR) menyoroti masih banyaknya warisan budaya Nusantara yang tersebar di berbagai negara akibat praktik kolonialisme di masa lalu.

Pernyataan tersebut disampaikan saat ia memberikan keterangan kepada media di Museum Rudana Ubud belum lama ini.

Menurutnya, berbagai peninggalan bersejarah seperti arca, candi, hingga artefak lainnya banyak ditemukan di luar negeri karena dibawa oleh bangsa penjajah, termasuk Belanda dan Inggris. Karena itu, upaya diplomasi untuk memulangkan benda-benda bersejarah tersebut menjadi sangat penting.

Namun demikian, Supadma Rudana yang dijuluki “Mr. Sinergi” dan “Mr. Excellence” oleh sejumlah tokoh ini menegaskan bahwa repatriasi artefak tidak cukup hanya mengandalkan diplomasi internasional. Indonesia juga harus menyiapkan infrastruktur pendukung di dalam negeri, khususnya museum sebagai tempat penyimpanan, perlindungan, dan perawatan artefak.

“Pada akhirnya, artefak yang kembali membutuhkan rumah. Museum menjadi elemen kunci dalam memastikan warisan budaya itu tetap terjaga dengan baik,” ujarnya.

Sebagai President of The Rudana Art Institution dan Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia yang menaungi lebih dari 500 museum, Rudana memandang Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa dan tak ternilai. Ia menyebut, jejak peradaban bangsa telah dimulai sejak zaman prasejarah, ditandai dengan keberadaan manusia purba, lukisan gua, hingga situs megalitik.

Selain itu, Indonesia juga memiliki warisan dari berbagai kerajaan besar seperti Sriwijaya, Tarumanegara, Kutai, Singosari, Medang, hingga Majapahit, yang menjadi bukti kejayaan peradaban masa lampau.

Tak hanya artefak, kekuatan budaya Indonesia juga tercermin dari keberagaman seni. Mulai dari seni rupa, kriya, tari, pedalangan, hingga film dan musik, semuanya menjadi potensi besar yang dapat mengangkat posisi Indonesia di tingkat global.

“Kita boleh menuju kemajuan teknologi dan industri, tetapi kita juga harus sadar bahwa seni dan budaya adalah kekuatan yang sudah kita miliki saat ini,” tegas mantan Anggota DPR RI Dapil Bali 2 periode itu.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Rudana mendorong kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media. Ia menilai, sinergi semua pihak sangat penting untuk memperkuat ekosistem kebudayaan nasional.

Ia juga merinci tiga langkah strategis yang perlu segera dilakukan. Pertama, memperkuat regulasi berbasis kolaborasi yang dikawal di tingkat pusat dan daerah. Kedua, memastikan dukungan pendanaan yang memadai bagi sektor kebudayaan. Ketiga, membangun kolaborasi yang akseleratif dan inovatif.

“Jika semua elemen bergerak bersama, kebudayaan tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga menjadi jiwa dan kekuatan utama bangsa Indonesia,” pungkasnya. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini