Foto: Ilustrasi menggambarkan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau di Bali pada Agustus 2026, dengan ancaman kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan. BPBD Bali mengimbau masyarakat menghemat air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
Denpasar, KabarBaliSatu
Puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung sepanjang Agustus 2026 membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana. Selain kekeringan dan krisis air bersih, kondisi cuaca yang semakin kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kebakaran permukiman, gedung, hingga tempat pengolahan sampah.
Hingga 11 Agustus 2026, BPBD Bali mencatat sebanyak 529 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan di sejumlah wilayah. Untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, BPBD bersama pemerintah daerah telah menyalurkan 305.000 liter air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, mengatakan Bali telah memasuki musim kemarau sejak Dasarian II April 2026. Berdasarkan perkembangan kondisi cuaca dan prediksi ke depan, Agustus diperkirakan menjadi puncak musim kemarau di Pulau Dewata.
“Bali mulai memasuki musim kemarau pada Dasarian II April 2026 dan Agustus diprediksi menjadi puncak musim kemarau,” ujar Teja saat memaparkan kondisi kebencanaan Bali periode 11 April hingga 11 Agustus 2026, Rabu (12/8/2026).
Menurut Teja, kondisi tersebut perlu diantisipasi serius. Analisis dan prediksi ENSO menunjukkan fenomena El Nino pada 2026 diperkirakan mencapai level sangat kuat. Kondisi ini berpotensi membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang dan kering, sehingga tekanan terhadap ketersediaan air meningkat sekaligus memperbesar risiko kebakaran.
Dampak kekeringan mulai dirasakan masyarakat di sejumlah daerah. BPBD mencatat 529 KK terdampak, masing-masing di Desa Sinabun, Kabupaten Buleleng; Kelurahan Pendem, Desa Asahduren, dan Desa Manistutu di Kabupaten Jembrana; serta Desa Baturinggit di Kabupaten Karangasem.
Kondisi di lapangan ditandai dengan menurunnya debit Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), berkurangnya debit mata air dan sumber air pegunungan, hingga mengeringnya sejumlah sumur bor yang selama ini menjadi sumber air masyarakat.
Sebagai langkah penanganan, BPBD bersama pemerintah daerah telah mendistribusikan 305.000 liter air bersih. Dari jumlah tersebut, Kabupaten Buleleng menerima 158.000 liter, Jembrana 137.000 liter, dan Karangasem 10.000 liter.
BPBD juga terus memetakan wilayah yang berpotensi mengalami krisis air bersih serta mengidentifikasi kebutuhan masyarakat agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
“Kesiapan distribusi air bersih terus diperkuat, termasuk sarana pendukung sumber dan jaringan air seperti pompa dan pipanisasi,” kata Teja.
Karhutla Jadi Perhatian
Ancaman lain yang mengintai selama musim kemarau adalah kebakaran hutan dan lahan. Bali memiliki kawasan hutan seluas 131.171,47 hektare, dengan potensi area rawan kebakaran mencapai sekitar 158,53 hektare.
Sejumlah kebakaran telah terjadi selama periode pemantauan. Di Nusa Penida, kebakaran menghanguskan sekitar 15 hektare lahan dan berhasil dipadamkan. Sementara di Kabupaten Karangasem, kebakaran melanda sekitar 2 hektare lahan pertanian.
Kebakaran dengan luasan terbesar tercatat di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, yang mencapai 91,52 hektare. Di Kabupaten Jembrana, kebakaran lahan kosong di Desa Pekutatan menghanguskan sekitar 1,5 hektare lahan.
Teja mengatakan BPBD terus memperkuat pemantauan terhadap kawasan hutan dan lahan yang rawan terbakar. Aktivitas masyarakat yang berpotensi memicu munculnya titik api juga menjadi perhatian.
“Respons sedini mungkin menjadi bagian penting dari mitigasi untuk mencegah kebakaran meluas dan menimbulkan dampak lebih besar,” ujarnya.
Risiko kebakaran, lanjut Teja, tidak hanya mengancam kawasan hutan dan lahan. Gedung, permukiman, hingga tempat pengolahan sampah juga menjadi bagian dari objek yang perlu diwaspadai selama kondisi cuaca kering.
BPBD antara lain memantau TPST 3R Culik di Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, yang sebelumnya mengalami kebakaran seluas sekitar 10 are. TPST 3R Tejakula di Kabupaten Buleleng juga masuk dalam pemantauan karena memiliki potensi risiko kebakaran.
Masyarakat Diminta Hemat Air
Menghadapi puncak musim kemarau, BPBD Bali terus memperbarui laporan kondisi di lapangan sebagai dasar penanganan bersama pemerintah daerah dan instansi terkait.
Pemantauan dilakukan tidak hanya terhadap wilayah rawan kekeringan, tetapi juga kawasan hutan, lahan, tempat pengolahan sampah, gedung, permukiman, serta sektor pertanian yang berpotensi terdampak kekurangan air.
Teja mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak, terutama di wilayah yang mulai mengalami penurunan ketersediaan air. Masyarakat juga diminta menyiapkan cadangan air secukupnya untuk mengantisipasi kondisi yang semakin kering.
Di sisi lain, warga diminta tidak membakar sampah atau lahan secara sembarangan. Puntung rokok juga tidak boleh dibuang sembarangan di kawasan hutan, semak, maupun lahan kering karena dapat menjadi pemicu munculnya api.
Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau mengalami gangguan terhadap kebutuhan dasar, baik melalui perangkat desa, kelurahan, maupun BPBD setempat.
Langkah cepat dari masyarakat dinilai penting untuk memastikan potensi bencana dapat ditangani sejak dini sebelum berkembang menjadi kejadian yang lebih besar. (kbs)

