BerandaDaerahKetua Golkar Bali Demer Dorong Politeknik Kelapa di Karangasem, Strategi Hilirisasi dan...

Ketua Golkar Bali Demer Dorong Politeknik Kelapa di Karangasem, Strategi Hilirisasi dan Pemerataan Pendidikan Bali

Foto: Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Gde Sumarjaya Linggih atau yang akrab disapa Demer.

Denpasar, KabarBaliSatu

Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Gde Sumarjaya Linggih atau yang akrab disapa Demer, melontarkan gagasan strategis untuk menjawab dua persoalan sekaligus: ketimpangan akses pendidikan tinggi dan optimalisasi potensi ekonomi daerah.

Dalam forum Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Moratorium Pendirian Perguruan Tinggi di Bali Selatan Dialihkan ke Kabupaten Karangasem dan Jembrana” pada Minggu (5/4/2026), Demer menegaskan pentingnya menggeser arah pembangunan pendidikan tinggi ke luar Bali Selatan. Fokusnya jelas—mendorong lahirnya institusi vokasi berbasis kebutuhan industri lokal.

Menurut Demer, masa depan pendidikan tinggi di Bali harus bertumpu pada model politeknik yang melahirkan tenaga kerja terampil dan siap pakai. Ia melihat Karangasem sebagai wilayah strategis yang selama ini belum mendapatkan keadilan akses pendidikan tinggi.

“Karangasem punya potensi besar di sektor kelapa. Ini harus dijawab dengan menghadirkan politeknik yang punya program studi hilirisasi kelapa,” ujar Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Dapil Bali itu.

Gagasan ini tidak berdiri di ruang hampa. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi kelapa Bali mencapai 69.143 ton pada 2024. Karangasem menempati posisi ketiga dengan produksi 14.392 ton, di bawah Jembrana dan Tabanan. Angka ini menegaskan bahwa Karangasem merupakan salah satu lumbung kelapa penting di Bali.

Bagi Demer, potensi tersebut belum dimanfaatkan maksimal. Selama ini, ekspor kelapa masih didominasi bahan mentah, bukan produk olahan bernilai tinggi. Padahal, hilirisasi kelapa mampu meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan.

“Kelapa itu punya ratusan turunan produk. Kalau diolah, nilainya bisa berkali-kali lipat dibandingkan dijual mentah. Yang kita butuhkan sekarang adalah SDM dan teknologi,” tegas politisi senior Golkar asal Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng itu.

Wakil rakyat berlatar belakang pengusaha sukses dan mantan Ketua Umum Kadin Bali itu menyebut sejumlah produk turunan bernilai tinggi yang berpeluang dikembangkan di Karangasem, mulai dari Virgin Coconut Oil (VCO) untuk industri kesehatan dan kecantikan, karbon aktif dari tempurung kelapa untuk kebutuhan farmasi dan filtrasi, hingga cocopeat dan cocofiber yang laris di pasar ekspor sebagai media tanam organik.

Tak hanya itu, tempurung kelapa juga bisa diolah menjadi briket ramah lingkungan yang diminati pasar global. Sementara di sektor pangan, kelapa dapat dikembangkan menjadi gula kelapa rendah indeks glikemik, santan premium, kelapa parut kering, hingga produk fermentasi seperti nata de coco dan minuman air kelapa kemasan.

Demer menekankan, seluruh rantai nilai tersebut hanya bisa berkembang jika didukung oleh pendidikan vokasi yang tepat sasaran. Karena itu, kehadiran politeknik dengan spesialisasi hilirisasi kelapa menjadi kunci.

“Bahan baku sudah ada, pasar sudah jelas. Tinggal kita siapkan SDM melalui pendidikan yang tepat,” pungkasnya.

Dorongan ini sekaligus selaras dengan agenda besar Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat hilirisasi komoditas dan ketahanan pangan nasional—sebuah langkah yang, jika dieksekusi serius, berpotensi mengubah wajah ekonomi Karangasem dari sekadar produsen bahan mentah menjadi pusat industri berbasis kelapa.

FGD di Golkar Bali ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta, pakar pendidikan, hingga para kader dan legislator Golkar di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi.

Wakil Bupati Karangasem, Pandu Prapanca Lagosa, yang akrab disapa Guru Pandu, turut menyuarakan kegelisahan daerahnya. Ia menegaskan bahwa Karangasem hingga kini belum memiliki perguruan tinggi negeri dan hanya ditopang satu perguruan tinggi swasta.

“Kami merasa seperti dianaktirikan dalam akses pendidikan tinggi,” ujarnya lugas dengan nada suara bergetar.

Diskusi semakin berbobot dengan kehadiran Kepala LLDikti Wilayah VIII, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VIII, Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T., M.T., IPU, ASEAN.Eng, serta sejumlah pimpinan kampus ternama di Bali. Di antaranya Rektor Universitas Udayana (Unud) Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D., Rektor Primakara University Dr. Made Artana, S.Kom., M.M., Rektor Universitas Warmadewa (Unwar) Prof. Dr. Ir I Gde Suranaya Pandit, M.P., dan Wakil Rektor Bidang Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Institut Seni Indonesia (ISI) Bali Prof. Dr. I Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum. FGD yang berlangsung hangat penuh ide dan gagasan visioner ini dipandu moderator Prof.Dr. Drs. I Nengah Dasi Astawa, M.Si.

Melalui forum ini, Golkar Bali berupaya mendorong lahirnya kebijakan pendidikan yang lebih inklusif dan berkeadilan. Sebuah langkah yang diharapkan menjadi fondasi bagi pemerataan pembangunan sumber daya manusia di seluruh Bali, bukan hanya di pusat, tetapi juga hingga ke pinggiran.

Dalam forum FGD ini sejumlah perguruan tinggi di Bali menyatakan komitmennya untuk membangun Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) di Kabupaten Karangasem dan daerah lain di luar Bali Selatan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendorong pemerataan akses pendidikan tinggi di Bali, yang selama ini dinilai masih terpusat di wilayah Bali Selatan. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini