Foto: Suasana kebersamaan pada RAT ke-10 dan HUT ke-11 KPRK pada Senin (23/2/2026) di Puri Setyaki, Denpasar.
Denpasar, KabarBaliSatu
Memasuki usia ke-11 tahun, Koperasi Perempuan Ramah Keluarga (KPRK) Provinsi Bali semakin meneguhkan jati dirinya sebagai “Koperasi Ramah Keluarga” yang berfokus pada pemberdayaan perempuan. Beralamat di Jalan Tukad Batanghari XI C No.17, Panjer, Denpasar, koperasi ini terus menunjukkan pertumbuhan signifikan, terutama pada unit simpan pinjam dan perdagangan.
Momentum tersebut ditegaskan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2025 yang dirangkaikan dengan peringatan HUT ke-11 KPRK yang juga mengusung spirit Sinergi Pang Pade Payu pada Senin (23/2/2026) di Puri Setyaki, Denpasar.
Mengusung tema “Melalui RAT KPRK ke-10 dan HUT ke-11 Kami Berkomitmen KPRK Bersama UMKM dan Anggota untuk Lebih Semangat Berkoperasi”, kegiatan ini menjadi ajang refleksi sekaligus penguatan komitmen untuk tumbuh bersama anggota dan pelaku UMKM.
Ketua KPRK Dr. Gung Tini Gorda, mengapresiasi kinerja manajemen dan pengurus yang mampu menyelenggarakan RAT ke-10 bertepatan dengan hari jadi ke-11 koperasi. Ia menegaskan, sejak awal KPRK lahir dengan misi besar: memberdayakan perempuan agar mampu menjadi pemimpin, mandiri secara ekonomi, dan saling menguatkan dalam semangat gotong royong.
“KPRK berdiri untuk membersamai perempuan agar maju bersama. Kita ingin perempuan tidak hanya menjadi pelaku usaha, tetapi juga leader dalam keluarganya dan di masyarakat,” ujarnya.
KPRK memiliki visi mencerdaskan dan memberdayakan perempuan lewat koperasi serba usaha dengan empat bidang utama, yaitu simpan pinjam, dagang, jasa, dan diklat. Ekosistem ini diharapkan mampu membentuk sosok perempuan yang mandiri secara finansial dan berdaya secara ekonomi.
Untuk penguatan KPRK ke depannya, Gung Tini Gorda menegaskan akan lebih memantapkan usaha unit dagang termasuk merambah ke pemasaran online atau digital, salah satunya mengoptimalkan WA Bisnis.
“Jadi kami sudah bersepakat di RAT bahwa unit dagang akan kami coba untuk push kembali melalui penjualan secara online khususnya di WA Bisnis,” ungkap Gung Tini Gorda.
KPRK juga akan menguatkan konsolidasi internal agar semakin banyak anggota yang aktif beroperasi, bukan sekedar namanya saja yang tercantum sebagai anggota. Saat ini ada 85 orang anggota aktif dan 180 orang anggota yang kurang aktif.
Mindset berkoperasi yang benar akan ditekankan kembali lewat berbagai agenda sosialisasi dan edukasi, termasuk dalam merekrut anggota baru. Selain itu ditekankan pula KPRK ini memang dilahirkan untuk keberhasilan bersama perempuan untuk menyelamatkan satu generasi.
“Mindset dari anggota yang berkoperasi masih hanya sekedar karena kenal terhadap pengurus, mungkin pengawas dan sebagainya. Tetapi kami mencoba untuk mengedukasi bahwa ketika perempuan ingin mendapatkan edukasi yang tepat itu bersama kami dari unit diklat dan ketika dia mempunyai produk akan kami bersamai dari unit dagang dan ketika dia perlu modal, kami akan bersamai dari unit simpan pinjam dan itu akan menjadi gerakan bersama,” pungkas Gung Tini Gorda.
Sementara itu Manajer KPRK, Anak Agung Rai Tirtawati, menjelaskan bahwa koperasi kini memiliki 10 kelompok dengan sistem tanggung renteng. Setiap anggota berada dalam kelompok yang dipimpin ketua kelompok untuk memastikan kedisiplinan administrasi, pembayaran simpanan, hingga cicilan pinjaman berjalan tertib.
Ia mengajak lebih banyak perempuan bergabung. Syaratnya cukup sederhana: memiliki KTP, membayar simpanan pokok Rp1 juta (sekali saat bergabung), serta simpanan wajib Rp25 ribu per bulan atau Rp300 ribu per tahun.
“Kami ingin koperasi ini menjadi rumah bersama. Hak anggota adalah memberi masukan dan mendapatkan akses permodalan. Kewajibannya disiplin dalam iuran agar permodalan dan SHU terus berkembang,” jelasnya.
RAT tahun ini juga menjadi momentum evaluasi. Dari total anggota, tercatat sekitar 85 orang aktif dan 180 kurang aktif. Ke depan, KPRK akan memperkuat edukasi agar anggota tidak sekadar bergabung karena kedekatan personal, tetapi memahami esensi berkoperasi sebagai gerakan ekonomi bersama.
Salah satu fokus utama 2026 adalah mendorong unit dagang agar tidak bergantung pada simpan pinjam sebagai sumber utama SHU. Penjualan produk UMKM akan diperkuat melalui platform online, termasuk optimalisasi WhatsApp Business. Targetnya, setiap anggota aktif berbelanja minimal Rp300 ribu per bulan di lingkungan KPRK. Jika terealisasi maksimal, omzet diproyeksikan bisa mencapai Rp120 juta per tahun.
Ketua Bidang Jasa dan Perdagangan, Ni Luh Putu Gunatri, menegaskan konsep “dari kita, oleh kita, untuk kita” akan menjadi strategi utama promosi dan penjualan produk anggota. Di Buleleng, ia menargetkan penambahan anggota aktif dari tiga menjadi minimal lima orang pada 2026, disertai pendampingan intensif bagi UMKM.
Dukungan juga datang dari Pengawas KPRK, Desak Ketut Sulitri, yang berharap koperasi terus bertumbuh dan semakin menyejahterakan anggota. “Koperasi sehat, anggota sejahtera,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu anggota baru, Nyoman Westri, mengaku sangat terbantu dengan sistem permodalan KPRK yang berbunga ringan, yakni 1 persen tetap ditambah biaya administrasi 1 persen.
Sebagai pelaku usaha fesyen di e-commerce, ia kerap menghadapi kendala arus kas akibat sistem pembayaran tertunda. “KPRK menjadi solusi ketika saya butuh tambahan modal cepat. Saya justru menyesal baru bergabung sekarang,” ujarnya.
Dengan filosofi kekeluargaan dan gotong royong, KPRK membawa visi mencerdaskan serta memberdayakan perempuan melalui empat unit utama: simpan pinjam, dagang, jasa, dan diklat. Motto Bekerja Cerdas, Kerja Ikhlas, dan Kerja Tuntas terus digaungkan sebagai semangat kolektif.
Memasuki dekade kedua, KPRK berkomitmen memperkuat kolaborasi dan memperluas jaringan, termasuk dengan gerakan koperasi lainnya. Dengan semangat kebersamaan, koperasi ini diharapkan tidak hanya menjadi penggerak ekonomi perempuan di Bali, tetapi juga inspirasi pemberdayaan perempuan di tingkat nasional. (kbs)

