BerandaDaerahHIPPI Bali dan Pendopo Gelar “Karya Untuk Ibu”, 19 UMKM Perempuan Bali...

HIPPI Bali dan Pendopo Gelar “Karya Untuk Ibu”, 19 UMKM Perempuan Bali Lolos Kurasi

Foto: HIPPI Bali berkolaborasi dengan Pendopo dan disupport oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI menghadirkan sebuah persembahan bertajuk “Karya Untuk Ibu” sebagai Pelestari Budaya dan Ruang Tumbuh UMKM Perempuan, di Pendopo Living World Denpasar, Senin, 22 Desember 2025.

Denpasar, KabarBaliSatu

Dalam rangka memperingati Hari Ibu ke-97 pada tahun 2025, HIPPI Bali berkolaborasi dengan Pendopo dan disupport oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI menghadirkan sebuah persembahan bertajuk “Karya Untuk Ibu” sebagai Pelestari Budaya dan Ruang Tumbuh UMKM Perempuan, di Pendopo Living World Denpasar, Senin, 22 Desember 2025.

Inisiatif ini lahir dari semangat kebersamaan untuk menghadirkan ruang apresiasi bagi para ibu dan perempuan yang selama ini memegang peran penting, tidak hanya dalam lingkup keluarga, tetapi juga sebagai pelaku usaha, kreator, serta penggerak ekonomi lokal.

Melalui kolaborasi ini, Pendopo dan HIPPI Bali membuka ruang temu yang mempertemukan pelaku UMKM perempuan, komunitas, para pemangku kepentingan, serta masyarakat luas. “Karya Untuk Ibu” dirancang sebagai wadah bersama untuk menampilkan karya-karya UMKM perempuan yang sarat nilai budaya, ketekunan, dan keberlanjutan, sekaligus mendorong perluasan jejaring serta akses pasar yang lebih inklusif.

Sebanyak 19 produk terkurasi ditampilkan di Pendopo Indonesia yang berlokasi di Living World Denpasar. Pendopo Denpasar berada di bawah alam sutra, yaitu di Living World Alam Sutera, yang berfokus pada penyediaan kurasi produk lokal, termasuk makanan dan minuman tradisional, melalui kerja sama dengan UMKM di seluruh Nusantara. Mengusung slogan “Ragam Satu Negeri”, Pendopo terus berkomitmen memelihara serta mempromosikan kekayaan budaya Indonesia.

Acara dibuka dengan sebuah persembahan seni dari Sanggar Surya Candra Puri Gede Karangasem yang memukau para hadirin. Penampilan pembuka tersebut mengangkat sinopsis bertajuk Ibu dan Tridatu Wastra Pribumi, yang sarat makna dan nilai spiritual.

Dalam narasi pertunjukan ini, sosok Ibu digambarkan sebagai perwujudan hidup dari Tri Datu itu sendiri. Ia menciptakan kasih sayang, menjaga kesucian keluarga, sekaligus menjadi benteng pelindung bagi anak-anaknya. Melalui wastra yang dikenakannya, terpancar keindahan spiritual yang tak lekang oleh waktu, sebagai simbol penghormatan kepada Ibu yang senantiasa menyeimbangkan semesta kecilnya dengan kelembutan sutra dan keteguhan iman.

Selain itu juga penampilan tidak kalah memukau dari Jegeg Bagus Bangli yang menampilkan karya lokal, serta Kids Parade Fashion Show dari BBS Bali Billingual School yang berhasil membius para tamu dan pengunjung Living World Denpasar.

Selain itu, digelar pula podcast HIPPI Bali yang mengusung tema “Membangun Ekosistem Pengusaha: Dari Embrio, UMKM, hingga Naik Kelas – Karya Untuk Ibu sebagai Pelestari Budaya dan Ruang Tumbuh UMKM Perempuan dalam Rangka Perayaan Hari Ibu ke-97 Tahun 2025.”

Podcast inspiratif ini menghadirkan empat narasumber, yakni Ketua Umum DPD HIPPI Bali, Dr. Gung Tini Gorda; Head of Pendopo, Ni Luh Putu Laura Sarassita; Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Hak Perempuan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Bali, Ni Nyoman Cahayawati, S.E., M.Si.; serta Kepala Sekolah SMKN 1 Mas Ubud, I Komang Purwata, S.Pd., M.Pd. Podcast ini dipandu oleh I Dewa Ayu Eka Taris Wahyuniati, M.Pd.

Selain rangkaian acara utama, pameran UMKM juga berlangsung hingga 31 Desember 2025 di Pendopo Living World Denpasar. UMKM yang telah lolos kurasi dan tampil hingga akhir Desember berpeluang untuk ditetapkan sebagai UMKM binaan Pendopo. Bahkan, tidak menutup kemungkinan sebagian di antaranya dapat berkembang menjadi vendor permanen.

Selama periode pameran berlangsung, pihak Pendopo juga melakukan kurasi lanjutan terhadap UMKM yang dinilai layak untuk dibina secara berkelanjutan. Semakin banyak pihak yang terlibat dalam proses pendampingan, maka percepatan UMKM untuk naik kelas akan semakin optimal. HIPPI Bali memandang kolaborasi sebagai kunci utama dalam membangun ekosistem UMKM yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan.

Ketua Panitia kegiatan yang juga Ketua Umum DPC HIPPI Bangli, Dewa Ayu Supartini, menyampaikan bahwa kegiatan kolaboratif antara HIPPI dan Pendopo merupakan wujud nyata sinergi lintas sektor dalam mendukung penguatan UMKM, khususnya UMKM pribumi Bali.

“Kegiatan ini adalah bentuk kolaborasi nyata antara HIPPI dan Pendopo dalam upaya mendukung dan memperkuat UMKM, terutama UMKM pribumi Bali,” ujar Dewa Ayu Supartini.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta berbagai elemen lainnya sehingga acara dapat terselenggara dengan baik.

“Kami bersyukur kegiatan ini mendapat dukungan dari Kementerian PPPA dan berbagai pihak lain yang turut berkontribusi, sehingga acara bisa berjalan dengan lancar,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, HIPPI memfasilitasi sejumlah pelaku UMKM yang telah berhasil lolos proses kurasi. Langkah ini sejalan dengan komitmen HIPPI untuk terus membuka ruang dan kesempatan bagi UMKM agar dapat berkembang dan naik kelas di setiap momentum yang ada.

“HIPPI berkomitmen untuk terus membuka ruang dan kesempatan bagi UMKM agar bisa berkembang dan naik kelas melalui setiap momentum yang tersedia,” jelasnya.

Dewa Ayu Supartini juga menjelaskan bahwa Pendopo memberikan kesempatan yang sangat terbuka bagi UMKM binaan HIPPI Bali untuk menampilkan produk-produknya kepada publik. Bahkan, UMKM diberikan ruang strategis di area depan untuk memperkenalkan produk, baik yang baru dirintis maupun yang telah berjalan, kepada para undangan dan pengunjung Living World Denpasar.

“Pendopo memberikan ruang yang sangat strategis bagi UMKM binaan HIPPI Bali, sehingga produk mereka bisa langsung diperkenalkan kepada pengunjung dan para undangan,” ungkapnya.

Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan eksposur produk sekaligus mendorong minat beli masyarakat.

“Kami berharap langkah ini dapat meningkatkan eksposur produk UMKM dan mendorong minat beli masyarakat,” imbuhnya.

Menurutnya, tujuan utama dari kegiatan ini adalah memfasilitasi dan mengangkat UMKM yang berada di Bali. Sebagai organisasi Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia, HIPPI berkomitmen memperkenalkan dan memperkuat posisi UMKM pribumi Bali agar semakin dikenal luas oleh masyarakat.

“Tujuan utama kami adalah mengangkat UMKM Bali agar semakin dikenal dan memiliki posisi yang kuat di tengah masyarakat,” tegasnya.

Ke depan, HIPPI berharap pihak Pendopo, Living World, serta seluruh pihak pendukung dapat terus membuka kesempatan serupa, tidak hanya pada kegiatan ini, tetapi juga pada agenda-agenda berikutnya.

“Kami berharap kesempatan seperti ini dapat terus dibuka secara berkelanjutan, sehingga UMKM pribumi Bali memiliki ruang yang konsisten untuk tumbuh dan berkembang,” tutup Dewa Ayu Supartini.

Ketua Umum DPD HIPPI Bali, Dr. Gung Tini Gorda, menilai pertemuan yang digelar di Pendopo dengan pengawalan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai momentum penting dalam mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan.

“Pertemuan ini merupakan momentum yang sangat penting untuk mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan,” ujar Dr. Gung Tini Gorda.

Meski HIPPI merupakan organisasi lintas gender dan bukan organisasi perempuan, fakta bahwa seluruh 19 UMKM yang lolos kurasi dikelola oleh perempuan dinilai sebagai bukti nyata peran strategis perempuan dalam menggerakkan ekonomi.

“Walaupun HIPPI bukan organisasi perempuan, kenyataannya 19 UMKM yang lolos kurasi seluruhnya dikelola oleh perempuan. Ini membuktikan peran strategis perempuan dalam menggerakkan perekonomian,” tegasnya.

Dr. Gung Tini Gorda menjelaskan, selama satu tahun terakhir HIPPI berproses secara intens bersama Pendopo dalam mengimplementasikan nota kesepahaman (MoU) yang telah disepakati. Proses tersebut penuh dinamika, namun akhirnya membuahkan hasil pada 22 Desember 2025, bertepatan dengan peringatan 97 tahun Hari Ibu.

“Selama satu tahun terakhir kami berproses secara intens bersama Pendopo untuk mengimplementasikan MoU yang telah disepakati. Prosesnya penuh dinamika, namun akhirnya bisa terwujud pada 22 Desember 2025 yang bertepatan dengan peringatan 97 tahun Hari Ibu,” jelasnya.

Dari proses kurasi internal HIPPI dan kurasi Pendopo tersebut, terpilih 19 UMKM yang kini diperkenalkan secara langsung kepada masyarakat.

“Hasil dari proses kurasi internal HIPPI dan kurasi Pendopo menetapkan 19 UMKM yang hari ini kami perkenalkan langsung kepada masyarakat,” katanya.

UMKM yang ditampilkan tidak hanya dinilai oleh tim kurator, tetapi juga dibuka untuk penilaian publik melalui survei. UMKM terbaik berpeluang langsung menjadi vendor Pendopo.

“UMKM yang tampil tidak hanya dinilai oleh kurator, tetapi juga oleh publik melalui survei. UMKM terbaik berpeluang langsung menjadi vendor Pendopo,” ungkapnya.

Menurutnya, menjadi vendor Pendopo memiliki tantangan tersendiri karena harus memenuhi standar kualitas dan tata kelola yang ketat.

“Menjadi vendor Pendopo tidak mudah karena harus memenuhi standar kualitas dan tata kelola yang ketat, bahkan lebih disiplin dibandingkan ketika berada dalam lingkup organisasi,” tambahnya.

Dalam proses persiapan kegiatan, tantangan utama berasal dari keterbatasan anggaran organisasi. Namun, hal tersebut tidak boleh menghambat semangat kerja dan komitmen terhadap UMKM.

“Memang tantangan terbesar kami adalah keterbatasan anggaran organisasi, tetapi hal itu tidak boleh mengurangi semangat dan komitmen kami untuk terus bekerja nyata bagi UMKM,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa HIPPI menempatkan kerja nyata di lapangan sebagai prioritas utama, sementara aspek administratif tetap dijalankan secara bertanggung jawab.

“Bagi HIPPI, kerja nyata di lapangan adalah prioritas utama, sementara aspek administratif tetap kami jalankan secara bertanggung jawab,” katanya.

Kesempatan yang diberikan Pendopo dinilai sangat penting bagi UMKM untuk naik kelas. Oleh karena itu, HIPPI berharap pihak Living World dapat memperluas dan menempatkan ruang tampil UMKM di lokasi yang lebih strategis dan mudah diakses pengunjung.

“Kami berharap Living World dapat menyediakan ruang tampil UMKM yang lebih strategis dan mudah diakses, sehingga peluang transaksi UMKM bisa lebih optimal,” ujarnya.

Sebagian besar dari 19 UMKM yang tampil merupakan pelaku usaha yang belum pernah mendapatkan kesempatan pameran dari pemerintah.

“Sebagian besar UMKM ini bahkan belum pernah mendapat kesempatan pameran dari pemerintah, sehingga kegiatan ini menjadi pengalaman pertama bagi mereka,” katanya.

Kehadiran berbagai pihak, termasuk perwakilan perbankan dan mitra strategis, diharapkan tidak hanya bersifat seremonial.

“Kami berharap kehadiran perbankan dan mitra strategis tidak sekadar seremonial, tetapi diwujudkan dalam dukungan nyata, termasuk pembelian produk UMKM,” tegasnya.

Dengan konsep nuansa Nusantara, Pendopo dinilai menjadi ruang yang tepat bagi UMKM untuk memperkenalkan produk berbasis wastra dan budaya Indonesia.

“Pendopo dengan nuansa Nusantara sangat tepat untuk memperkenalkan produk UMKM berbasis wastra dan budaya Indonesia, tidak hanya dari Bali, tetapi juga dari berbagai daerah di Tanah Air,” jelasnya.

HIPPI Bali juga memberikan perhatian khusus kepada UMKM binaan perempuan, termasuk yang berasal dari lembaga pemasyarakatan dan telah berprestasi di tingkat nasional.

“HIPPI Bali memberi perhatian khusus kepada UMKM binaan perempuan, termasuk dari lembaga pemasyarakatan, yang telah menunjukkan prestasi di tingkat nasional,” ungkapnya.

Hal ini menegaskan bahwa perempuan mampu berkarya dan berdaya di berbagai kondisi dan latar belakang.

“Ini membuktikan bahwa perempuan mampu berkarya dan berdaya di berbagai kondisi dan latar belakang,” imbuhnya.

HIPPI Bali berupaya mengubah pola pikir UMKM dari sekadar pedagang menjadi pengusaha yang menjalankan usaha berbasis sistem.

“Kami mendorong UMKM untuk mengubah pola pikir dari pedagang menjadi pengusaha yang menjalankan usaha berbasis sistem, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga pengendalian,” pungkas Dr. Gung Tini Gorda.

Head of Pendopo, Ni Luh Putu Laura Sarassita, menegaskan bahwa kolaborasi dan aktivitas kurasi yang dilakukan Pendopo bukanlah kegiatan yang bersifat sementara atau sekadar kebiasaan.

“Kolaborasi dan proses kurasi yang kami lakukan di Pendopo bukanlah kegiatan yang bersifat sementara atau hanya rutinitas semata,” tegas Ni Luh Putu Laura Sarassita.

Menurutnya, sejak awal Pendopo dibangun sebagai sebuah konsep yang berfokus pada proses kurasi menyeluruh terhadap UMKM.

“Sejak awal Pendopo dibangun sebagai sebuah konsep yang memang berfokus pada proses kurasi UMKM secara menyeluruh,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Pendopo tidak hanya melakukan kurasi terhadap produk, tetapi juga terhadap kapasitas pelaku usaha, termasuk dari sisi ekonomi dan kesiapan bisnis.

“Kami tidak hanya mengkurasi produknya, tetapi juga mengkurasi pelaku usahanya, mulai dari kapasitas ekonomi hingga kesiapan bisnis,” jelasnya.

Tujuan utama dari pendekatan tersebut, lanjutnya, bukan sekadar menjual produk, melainkan membantu UMKM untuk berkembang, naik kelas, dan terhubung ke dalam ekosistem serta saluran distribusi yang dimiliki Pendopo.

“Tujuan kami bukan hanya menjual produk, tetapi membantu UMKM agar bisa berkembang, naik kelas, dan masuk ke dalam ekosistem serta saluran distribusi yang dimiliki Pendopo,” katanya.

Ni Luh Putu Laura Sarassita juga menyampaikan bahwa Pendopo merupakan unit bisnis yang secara khusus bergerak di bidang kurasi dan pendampingan UMKM.

“Pendopo adalah unit bisnis yang memang bergerak secara khusus di bidang kurasi dan pendampingan UMKM,” ungkapnya.

Berbagai kegiatan yang dijalankan Pendopo, menurutnya, lahir dari kepedulian yang kuat terhadap UMKM.

“Seluruh aktivitas yang kami jalankan lahir dari kepedulian yang kuat terhadap UMKM,” tambahnya.

Ia mengakui bahwa pada awalnya tidak memiliki kedekatan dengan dunia perdagangan dan bahkan sempat bersikap skeptis terhadap produk lokal.

“Terus terang, pada awalnya saya tidak memiliki kedekatan dengan dunia perdagangan dan sempat skeptis terhadap produk lokal,” akunya.

Namun, pengalaman turun langsung ke lapangan, berinteraksi dengan pedagang kecil hingga pelaku UMKM rumahan, mengubah perspektifnya secara mendasar.

“Setelah saya turun langsung ke lapangan dan berinteraksi dengan pedagang kecil, ibu-ibu kantin, hingga pelaku UMKM rumahan, perspektif saya berubah secara mendasar,” katanya.

Jika sebelumnya fokus pemikirannya adalah bagaimana membangun merek besar Indonesia agar dikenal di tingkat Asia, kini orientasi tersebut beralih pada upaya memastikan UMKM Nusantara mampu bertahan, berkembang, dan berkelanjutan.

“Jika sebelumnya saya berpikir bagaimana membangun merek besar Indonesia agar dikenal di Asia, kini fokus saya adalah bagaimana UMKM Nusantara bisa bertahan, berkembang, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Pendekatan tersebut menjadi dasar filosofi Pendopo dalam mendampingi UMKM hingga saat ini.

Ketua Umum KADIN Bali yang diwakili oleh Wakil Ketua Umum KADIN Bali bidang Pariwisata dan Investasi, Agus Maha Usadha, menilai kegiatan yang digelar HIPPI Bali sebagai momentum penting untuk mendorong kebangkitan dan penguatan UMKM, khususnya UMKM yang dikelola oleh perempuan.

“Kegiatan yang digelar HIPPI Bali ini merupakan momentum penting untuk mendorong kebangkitan dan penguatan UMKM, khususnya UMKM yang dikelola oleh perempuan,” ujar Agus Maha Usadha.

Ia menyampaikan bahwa kesehatan dan kebersamaan yang terjaga dalam kegiatan tersebut patut disyukuri sebagai modal utama untuk terus bergerak maju.

“Kesehatan dan kebersamaan yang terjaga dalam kegiatan ini patut kita syukuri, karena menjadi modal utama untuk terus bergerak maju,” katanya.

Dari perspektif KADIN, Agus Maha Usadha menegaskan bahwa harapan utama terhadap UMKM adalah kemampuan untuk naik kelas.

“Harapan utama kami terhadap UMKM adalah agar mampu naik kelas,” tegasnya.

Menurutnya, UMKM tidak cukup hanya berfokus pada aktivitas produksi, tetapi harus bertransformasi menuju penguatan merek dan branding.

“UMKM tidak bisa hanya fokus pada produksi, tetapi harus mulai bertransformasi dengan memperkuat merek dan branding,” jelasnya.

Di tengah pasar internasional yang semakin terbuka, nilai tambah melalui branding dinilai menjadi kunci utama agar produk UMKM mampu menembus pasar global.

“Di tengah pasar internasional yang semakin terbuka, branding menjadi nilai tambah utama agar produk UMKM bisa menembus pasar global,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa Bali sejatinya memiliki modal historis yang sangat kuat.

“Bali sesungguhnya memiliki modal historis yang sangat kuat,” ujarnya.

Menurutnya, sejak awal tahun 2000-an, bahkan jauh sebelumnya, Bali telah dikenal dengan aktivitas seni tradisional dan merchandise berbasis budaya.

“Sejak awal 2000-an, bahkan jauh sebelumnya, Bali sudah dikenal dengan aktivitas seni tradisional dan produk merchandise berbasis budaya,” katanya.

Pada fase awal, produk yang dihasilkan masih didominasi oleh material dan karya seni dalam bentuk artefak atau koleksi, sebelum kemudian mengalami proses adaptasi yang signifikan.

“Pada fase awal, produk yang dihasilkan masih didominasi oleh artefak dan karya seni, sebelum kemudian mengalami proses adaptasi yang cukup signifikan,” jelasnya.

Menurut Agus Maha Usadha, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa Bali tidak hanya unggul di sektor pariwisata, tetapi juga memiliki fondasi yang kokoh dalam industri kreatif, desain, dan UMKM berbasis budaya.

“Perjalanan ini membuktikan bahwa Bali tidak hanya unggul di sektor pariwisata, tetapi juga memiliki fondasi yang kuat di industri kreatif, desain, dan UMKM berbasis budaya,” tegasnya.

Tantangan ke depan adalah bagaimana potensi tersebut terus dikembangkan secara konsisten agar UMKM Bali mampu bersaing, tidak hanya di pasar nasional, tetapi juga di tingkat internasional.

“Tantangan ke depan adalah bagaimana potensi ini terus dikembangkan secara konsisten agar UMKM Bali mampu bersaing, tidak hanya di pasar nasional, tetapi juga di pasar internasional,” pungkasnya.

Ketua Dharma Wanita Persatuan LLDikti Wilayah VIII Bali–NTB, I Gusti Ayu Ngurah Eva Intan Swandhewi, mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh HIPPI Bali.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh HIPPI Bali ini,” ujar I Gusti Ayu Ngurah Eva Intan Swandhewi.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam peringatan Hari Ibu, yang ditandai dengan lolosnya sebanyak 19 UMKM binaan HIPPI Bali dalam proses kurasi di Pendopo Living World Denpasar.

“Kegiatan ini menjadi momentum yang sangat bermakna dalam peringatan Hari Ibu, terlebih dengan lolosnya 19 UMKM binaan HIPPI Bali dalam proses kurasi di Pendopo Living World Denpasar,” katanya.

Ia berharap momentum positif ini dapat terus berlanjut sehingga UMKM yang digerakkan oleh kaum perempuan mampu naik kelas dan sejajar dengan UMKM yang dikelola oleh kaum pria.

“Kami berharap momentum positif ini dapat terus berlanjut, sehingga UMKM yang dikelola oleh perempuan mampu naik kelas dan sejajar dengan UMKM yang dikelola oleh kaum pria,” harapnya.

Para pelaku UMKM yang telah lolos kurasi juga diharapkan dapat terus mengembangkan potensi usahanya secara berkelanjutan.

“UMKM yang telah lolos kurasi diharapkan terus mengembangkan potensi usahanya secara berkelanjutan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa penguatan UMKM perempuan tidak hanya berdampak pada peningkatan kapasitas usaha, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap perekonomian keluarga.

“Penguatan UMKM perempuan tidak hanya berdampak pada peningkatan kapasitas usaha, tetapi juga memberikan kontribusi langsung terhadap perekonomian keluarga,” jelasnya.

Dengan usaha yang semakin berkembang, UMKM diharapkan mampu memberikan dukungan ekonomi yang lebih baik, terutama bagi pemenuhan kebutuhan dan masa depan anak-anak.

“Ketika usaha UMKM berkembang, tentu akan semakin memperkuat dukungan ekonomi keluarga, khususnya untuk memenuhi kebutuhan dan masa depan anak-anak,” pungkasnya.

Momen bahagia ini disambut suka cita oleh para pelaku UMKM yang berhasil lolos kurasi di Pendopo Living World Denpasar. Kesempatan tersebut menjadi tonggak penting bagi UMKM untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas jejaring usaha.

Pelaku UMKM Lapak Teten Baju Anak, Ari Martini, menyampaikan rasa haru dan bangganya atas kesempatan yang diperoleh.

“Saya merasa sangat haru dan bangga bisa mendapatkan kesempatan ini,” ujar Ari Martini.

Ia mengaku sangat bersyukur dapat lolos proses kurasi dan menilai pendampingan yang dilakukan HIPPI Bali memberikan dampak positif bagi pengembangan usahanya.

“Saya sangat bersyukur bisa lolos proses kurasi. Pendampingan dari HIPPI Bali sangat membantu pengembangan usaha kami, baik dari sisi kualitas produk maupun tata kelola usaha yang kini lebih profesional,” katanya.

Selain menyampaikan apresiasi kepada HIPPI Bali atas dukungan yang diberikan selama ini, Ari Martini juga berharap Pendopo dapat terus membuka peluang yang lebih luas bagi UMKM lainnya.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada HIPPI Bali atas pendampingan yang diberikan, dan berharap Pendopo terus membuka peluang yang lebih luas bagi UMKM lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, semakin banyak pelaku usaha kecil yang mendapatkan akses ke ekosistem ritel modern, maka peluang UMKM untuk berkembang, memperluas pasar, dan naik kelas secara berkelanjutan akan semakin terbuka.

“Semakin banyak UMKM yang mendapatkan akses ke ekosistem ritel modern, maka peluang kami untuk berkembang, memperluas pasar, dan naik kelas secara berkelanjutan akan semakin terbuka,” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ni Komang Ega Mahesa Rani dari YEC SMKN 1 Mas Ubud. Ia mengaku sangat bangga dan bahagia karena produk yang dihasilkan berhasil lolos kurasi di Pendopo Living World Denpasar.

“Saya merasa sangat bangga dan bahagia karena produk kami bisa lolos kurasi di Pendopo Living World Denpasar,” ujar Ni Komang Ega Mahesa Rani.

Menurutnya, capaian tersebut tidak lepas dari pembinaan yang dilakukan oleh HIPPI Bali.

“Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari pembinaan dan pendampingan yang kami terima dari HIPPI Bali,” katanya.

Oleh karena itu, ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada HIPPI Bali atas pendampingan yang diberikan kepada YEC SMKN 1 Mas Ubud, sehingga mampu memenuhi standar kurasi dan mendapatkan kesempatan tampil di ruang ritel modern.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada HIPPI Bali atas pendampingan yang diberikan kepada YEC SMKN 1 Mas Ubud, sehingga kami mampu memenuhi standar kurasi dan mendapatkan kesempatan tampil di ruang ritel modern,” pungkasnya.

Owner Dewata Oleh-oleh Bali, Kadek Imawati, mengaku sangat senang karena produknya berhasil lolos kurasi di Pendopo Living World Denpasar.

“Saya sangat senang dan bersyukur karena produk kami bisa lolos kurasi di Pendopo Living World Denpasar,” ujar Kadek Imawati.

Ia menilai kesempatan tersebut sebagai peluang berharga untuk memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas.

“Kesempatan ini menjadi peluang yang sangat berharga bagi kami untuk memperkenalkan produk ke pasar yang lebih luas,” katanya.

Kadek Imawati berharap ke-19 UMKM yang telah lolos kurasi dapat terus memperoleh kepercayaan dari pihak Pendopo.

“Saya berharap ke-19 UMKM yang telah lolos kurasi ini dapat terus mendapatkan kepercayaan dari pihak Pendopo,” ujarnya.

Dengan kepercayaan tersebut, para pelaku UMKM diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih besar sehingga produk-produk yang dihasilkan dapat lebih cepat diterima dan laku di pasaran.

“Dengan adanya kepercayaan tersebut, kami berharap produk UMKM bisa menjangkau pasar yang lebih besar dan semakin cepat diterima serta laku di pasaran,” pungkasnya.

Pelaku UMKM Olahan Pangan Kering, Vidya Prama Suganda, mengaku sangat bahagia karena produk-produknya berhasil lolos kurasi di Pendopo Living World Denpasar.

“Saya merasa sangat bahagia karena produk-produk olahan pangan kering yang kami hasilkan berhasil lolos kurasi di Pendopo Living World Denpasar,” ujar Vidya Prama Suganda.

Ia menilai capaian tersebut sebagai langkah penting dalam memperluas jangkauan pemasaran.

“Capaian ini merupakan langkah yang sangat penting bagi kami untuk memperluas jangkauan pemasaran,” katanya.

Vidya Prama Suganda berharap, melalui kesempatan ini, produk-produknya dapat semakin dikenal oleh masyarakat luas dan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang di pasar ritel modern.

“Melalui kesempatan ini, kami berharap produk olahan pangan kering kami semakin dikenal oleh masyarakat luas dan memiliki peluang yang lebih besar untuk berkembang di pasar ritel modern,” pungkasnya.

Melalui kolaborasi “Karya Untuk Ibu”, HIPPI Bali dan Pendopo tidak hanya menghadirkan ruang apresiasi, tetapi juga membuka jalan nyata bagi UMKM perempuan untuk tumbuh, dipercaya, dan naik kelas. Momentum Hari Ibu ini menjadi penegasan bahwa ketika perempuan diberi ruang dan ekosistem yang tepat, UMKM lokal mampu menjadi penggerak ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan. Pribumi Berkarya Indonesia Jaya! (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini