BerandaLingkunganHARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA 5 JUNI 2025, KEGAGALAN MENJAGA LINGKUNGAN

HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA 5 JUNI 2025, KEGAGALAN MENJAGA LINGKUNGAN

Oleh: Ketut Gede Dharma Putra

(PemerhatiLingkungan Bali, Ketua Yayasan Pembangunan Bali Berkelanjutan)

Perayaaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang digagas oleh Lembaga Lingkungan Hidup Dunia (UNEP)  tanggal 5 Juni 1972 ( 53 tahun yang lalu), setiap tahun secara terus menerus diperingati masyarakat pemerhati lingkungan di seluruh dunia dengan berbagai tema. Pada tahun 2025, tema yang dicanangkan adalah #Beat Plastic Pollution, yakni upaya mengakhiri polusi plastik global. Permasalahan sampah plastik memang sudah menjadi momok bagi dunia karena dampaknya sudah mengancam kesehatan umat manusia secara global.

Plastik ditemukan pertama kali oleh ahli kimia Alexander Parkes yang dipatenkan pada tahun 1862. Pembuatannya dilakukan dengan mereaksikan selulosa dengan asam nitrat menghasilkan piroksilin lalu dilarutkan dalam alkohol menjadi bahan polimersintetis untuk dibentuk menjadi bahan yang diinginkan.  Pada awalnya,plastik merupakan pengganti bahan alam seperti gading atau kulit penyu yang lebih mahal dan susah didapatkan. Selanjutnya pada tahun 1869, John Wesley Hyatt mengembangkan penemuan polimersintetis tersebut untuk berbagai macam kebutuhan lainnya, yang dilanjutkan pada tahun 1907, Leo Baekeland  mulai memproduksi secara besar-besaran produk-produk berbahan plastik sehingga dikenal sebagai “bahan seribu kegunaaan”. Berbagai macam kebutuhan manusia akhirnya mulai dibuat dengan menggunakan plastik, karena sifatnya yang tahan lama, elastis, kuat dan mudahdibentuk.

Seiring dengan meningkatnya permintaan bahan kebutuhan manusia di dunia,berbagai produk plastik menyebar keseluruh dunia. Karena sifatnya yang tidak mudah didegradasi, maka plastik yang muncul jauh melebihi daripada plastik yang hilang. Kalaupun plastik sudah dibuang sebagai sampah, namun di alam seperti tanah, sungai, danau, lautan dan di udara masih tersimpan secara permanen. Karena sifatnya yang tidak mampu dihancurkan oleh mikroba, sehingga menjadi masalah global yang tidak mudah untuk dimusnahkan. Bahkan, sampah plastik di alam bentuknya menjadi semakin kecil dan memasuki rantai makanan, hingga ditemukan mencemari air susu ibu yang diberikan kepada bayi.

Sebagai hasil penemuan bidang kimia yang luarbiasa, keberadaan plastik dirasakan sangat membantu umat manusia karena bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.Namun permasalahan yang muncul adalah rendahnya kesadaran terhadap manajemen pengelolaan sampah plastik di beberapa negara sehingga keberadaan sampah plastik yang tidak bisa dikendalikan. Minimnya proses daur ulang maupun pemusnahan menggunakan incinerator, sampah plastik menyebar ke berbagai Kawasan yang biasanya akhirnya berada di perairan laut. Bahkan Indonesia pada tahun 2021 dinyatakan oleh UNEP sebagai negara penyumbang sampah plastik kelaut terbesa rnomor dua di dunia, setelah China.

Bali sebagai destinasi pariwisata  yang sangat terkenal di dunia ternyata gagal juga mengatasi sampah plastik. Hal ini dapat denga nmudah kita lihat dari keberadaan TPA Suwung yang menjadi monumen kegagalan Bali dalam mengatasi sampah. Hampir semua  TPA di kabupaten/kota di Bali mengalami masalah yang sama, sampah yang menggunung  dan menimbulkan dampak  negatif bagi lingkungan di sekitarnya. Padahal sejak tahun 2000-an,(hampir 25 tahun yang lalu)  permasalahan sampah ini sudah menjadi rekomendasi berbagai hasil kajian untuk segera diatasi, namun Bali seolah-olah tidak berdaya menghadapi hegemoni sampah ini. Seolah-olah tidak ada kekuatan baik dari Masyarakat,Lembaga resmi, terutama pemerintah daerah untuk memenangkan perang melawan penyebaran sampah khususnya sampah plastik di Bali.

Padahal teknologi pengolahan sampah, khususnya sampah plastik sudah lama tersedia, yang di beberapa negara tetangga bisa di daur ulang menjadi energi Listrik. Di beberapa tempat di Indonesia, seperti Surabaya, Banyumas, Solo dan beberapa kota lainnya sudah mulai terlihat progress positif pengelolaan sampah yang baik. Anehnya di Bali, sampai sekarang di tahun 2025, pembicaraaan mengenai permasalahan sampah masih sama seperti yang dibicarakan 25 tahun yang lalu. Sungguh kondisi yang sangat menyedihkan, mengingat Masyarakat Bali yang memiliki nilai-nilai kearifan lokal  di bidang lingkungan yang sangat terkenal di dunia seperti tidak mampu mengimplementasikan nilai-nilai indah tersebut dalam praktik berkehidupan sehari-hari.

Berbagai kebijakan pemerintah mulai dari Undang-Undang No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang diikuti dengan berbagai peraturan lainnya seolah menjadi pajangan saja tanpa ada implementasinya. Berbagai program di Bali yang berkeinginan untuk mengatasai masalah sampah telah dicanangkan, dibahas dalam ruang-ruang nyaman berpendingin, dengan paparan berbusa-busa dari para  pakar dan ahli, tetap saja  TPA dipenuhi tumpukan sampah, demikian juga Kawasan aliran sungai, selokan, saluran drainase, lahan-lahan kosong, ujung gang gang, hingga pesisir pantai dipenuhi sampah. Sepertinya Masyarakat Bali gagal menjaga lingkungan/palemahannya bila dihadapkan dengan permasalahan sampah, khususnya sampah plastik ini. Sehingga sangatlah tepat tema peringatan Hari Lingkungan SeduniaT ahun 2025 ini mengangkat #BeatPlastikPollution.

Program pengelolaan sampah memang harus dikelola secara bersama-sama. Setiap  orang, Lembaga maupun Kawasan yang menghasilkan sampah harus mampu mengelola sampahnya dengan baik. Sampah organik bisa dijadikan kompos, ecoenzym, dan bahan yang bermanfaat lainnya, demikian juga sampah anorganik bisa dijual ke Bank Sampah yang sudah banyak tersedia. Demikian juga sampah residu memang harus dimusnahkan dengan teknologi yang memenuhi baku mutu lingkungan. Namun, pemegang kebijakan yakni pemerintah daerah yang dipimpin oleh Bupati/Walikota dan Gubernur harusnya menjadi jenderal perang dalam perang menghadapi sampah. Sungguh memalukan kalau perang melawan “bendamati” yang tidak mampu berpikir seperti sampah ini saja kita di Bali harus menyerah kalah. Akhirnya yang mampu dilakukan hanyalah berdoa, semoga kita mampu mengatasi masalah sampah ini bersama-sama. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini