Foto: Suasana kemeriahan “Kartini Day 2026” yang digelar HIPPI Bali di Buleleng.
Buleleng, KabarBaliSatu
Dalam semangat memperingati Hari Kartini 21 April 2026, Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Provinsi Bali kembali menggelar “Kartini Day 2026” dengan konsep yang lebih progresif dan berorientasi pada pendidikan budaya. Tahun ini, kegiatan tersebut mengusung tema “KARTINI Goes to EDU – CULTURE TOURISM”, sebuah gerakan yang memadukan semangat emansipasi perempuan dengan penguatan literasi, budaya, serta pariwisata berkelanjutan di Buleleng.
Kegiatan yang digelar di Singaraja, Kabupaten Buleleng, pada 21 April 2026 itu menjadi kolaborasi lintas sektor antara HIPPI Bali, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Satya Dharma, Rotary Club of Bali Bersinar, serta Kelurahan Kendran. Acara ini mendapatkan dukungan penuh dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VIII Bali dan Nusa Tenggara Barat dan Anggota DPD RI Perwakilan Bali Ni Luh Djelantik.
Acara ini juga melibatkan kolaborasi dengan Pusat Studi Undiknas, Coca-Cola Europacific Partners (CCEP), Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Bali dalam rangka menyambut HUT ke-6 PBI Bali, dan Cahaya Ladara Nusantara (CLN) Bali dalam rangka menyambut HUT pertama Cahaya Ladara Nusantara Bali.
Turut hadir berbagai organisasi lainnya bagian tim kolaborasi seperti Perempuan Pemimpin Indonesia (Perpina) Bali, Forum Komunikasi Dosen (FKD) Bali, Komunitas Perempuan Bali Utara dan lainnya.
Melalui momentum Kartini Day 2026 ini, HIPPI Bali yang identik dengan himpunan pengusaha ini terus mendorong perempuan mandiri secara ekonomi dan menjadi motor penggerak pariwisata budaya.
Rangkaian kegiatan berlangsung di sejumlah titik bersejarah dan pusat budaya di Kota Singaraja, mulai dari Kampus STIE Satya Dharma, Museum Gedong Kirtya, puri-puri di Buleleng, Pasar Buleleng, hingga Sasana Budaya.
Berbagai kegiatan kreatif dan edukatif pun dihadirkan dalam Kartini Day 2026. Salah satunya “Sight Seeing Heritage “, yakni napak tilas kawasan heritage Kota Singaraja menuju Museum Gedong Kirtya, Puri Gede Singaraja, Puri Kanginan, Pasar Buleleng, hingga Sasana Budaya.
“Sight Seeing Heritage” ini dibuka langsung Ketua Umum Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Buleleng, Nyonya Hermawati Supriatna. Kegiatan tersebut tidak sekadar wisata sejarah menelusuri heritage yang ada dk Singaraja, tetapi menjadi ruang refleksi lintas generasi untuk menggali kembali semangat literasi dan perjuangan perempuan Bali.
Peserta menuangkan pengalaman dan perspektif mereka ke dalam buku bunga rampai bertajuk “Setelah Terang Terus Bersinar”.
Dari sunyinya lontar di Gedong Kirtya peserta belajar bahwa literasi adalah senjata. Dari pasar rakyat para peserta melihat denyut perjuangan perempuan dalam ekonomi.
Ajang Lomba Seight Seeing Heritage berlangsung meriah dengan persaingan yang ketat antarregu peserta.
Regu Srikandi dari Universitas TRIATMA Mulya – Kampus Buleleng berhasil tampil sebagai Juara I setelah meraih poin tertinggi, yakni 409 poin. Posisi Juara II diraih Regu T Rexplorers dari STIKES Buleleng, sementara regu UNIPAS I dari Universitas Panji Sakti menempati peringkat ketiga.
Pada kategori juara harapan, Elara Untrim dari Universitas TRIATMA Mulya – Kampus Buleleng berhasil meraih Juara Harapan I. Disusul Calestial Being dari STIKES Buleleng sebagai Juara Harapan II, serta STKIP Gliders dari STKIP Agama Hindu Singaraja yang menempati Juara Harapan III.
Tak hanya itu, Kartini Day 2026 juga menjadi momentum peresmian Patung Monumen YRG sebagai penghormatan terhadap pemikiran dan dedikasi almarhum Prof. Dr. I Gusti Ngurah Gorda dan almarhum Ratyni Gorda dalam dunia pendidikan dan pengembangan karakter berbasis budaya. Patung Monumen YRG ini menjadi simbol pengabdi yang utama dan mulai melalui pendidikan yang dikelola Yayasan Ratyni Gorda.
Di sisi lain, denyut ekonomi rakyat juga dihidupkan melalui Senggol Kuliner UMKM Kendran yang menghadirkan berbagai kuliner lokal khas Buleleng dengan konsep pasar rakyat modern berbasis pemberdayaan UMKM. Pusat Studi Undiknas (PSU) dan Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) mengahdirkan UMKM dalam senggol UMKM disinkronkan dengan pelatihan tentang ngebranding melalui sosial media.
Ketua DPD HIPPI Bali, Dr Gung Tini Gorda, mengatakan Kartini Day 2026 hadir sebagai upaya menerjemahkan kembali perjuangan Raden Ajeng Kartini ke dalam tantangan zaman modern.
Menurutnya, jika dahulu Kartini melawan keterbatasan akses pendidikan dan budaya patriarki, maka perempuan masa kini menghadapi tantangan baru berupa tekanan dunia digital, kompleksitas sosial, hingga tuntutan kemandirian ekonomi.
“Kami percaya emansipasi hari ini berarti penguasaan teknologi, ketangguhan mental, dan kemandirian finansial. Perempuan harus mampu menjadi inovator sekaligus penjaga budaya,” ujar Tini Gorda.
Ia menjelaskan, HIPPI Bali sengaja mengangkat tema “Edu-Culture Tourism” karena ingin mengintegrasikan pemberdayaan perempuan dengan ekonomi kreatif serta pelestarian budaya lokal dalam sektor pariwisata Bali, khususnya di Buleleng.
Menurutnya, arah pariwisata dunia kini bergerak menuju sustainable tourism dan experience tourism, di mana budaya dan pendidikan menjadi nilai utama yang dicari wisatawan.
“Kami ingin perempuan Bali hadir sebagai motor penggerak perubahan itu,” katanya.
Bagi HIPPI Bali, Kartini Day bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan gerakan sosial dan budaya yang terus tumbuh sejak pertama kali dideklarasikan pada 2024.
Jika pada 2024 mengangkat tema “Kolaborasi Aksi Kartini Berdaya, Indonesia Maju” dan tahun 2025 bertema “Semangat Kartini, Perjuangan dan Budaya Sinergi Pang Pada Payu”, maka tahun 2026 menjadi fase baru untuk memperkuat posisi perempuan dalam pendidikan, budaya, dan ekonomi kreatif berbasis pariwisata.
Dalam pidatonya yang penuh emosional, Tini Gorda juga membagikan kisah pribadi tentang perjuangannya melanjutkan cita-cita sang ayah setelah wafat pada 2007.
Ia menyebut semangat “Aku Mau” dari tulisan Kartini menjadi kekuatan yang terus mendorong dirinya bertahan dan memperjuangkan pendidikan perempuan.
“1 perempuan terdidik, 1 generasi terselamatkan,” tegasnya.
Ia berharap Kartini Day 2026 menjadi momentum lahirnya perempuan-perempuan tangguh yang mampu membangun generasi masa depan Indonesia Emas 2045.
“Buleleng adalah daerah bersejarah. Dari sini semangat literasi dan pendidikan perempuan harus kembali menyala,” pungkas Gung Tini Gorda.
Anggota DPD RI, Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik atau yang akrab disapa Ni Luh Djelantik, memberikan apresiasi dan dukungan penuh kepada HIPPI Bali atas penyelenggaraan Kartini Day 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum penting untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan perempuan Indonesia di tengah perkembangan zaman.
Dalam pernyataannya, Ni Luh Djelantik menegaskan bahwa Hari Kartini harus dimaknai lebih luas, bukan hanya mengenang sosok Raden Ajeng Kartini, tetapi memastikan perjuangan dan nilai-nilai yang diwariskannya tetap hidup dan relevan hingga masa kini maupun masa depan.
“Melalui Kartini Day 2026 dengan tema Kartini Goes to Edu Culture Tourism, kita tidak hanya merayakan, tetapi juga menguatkan arah. Mari jadikan Singaraja sebagai pusat pendidikan tradisi dan pariwisata budaya, heritage yang hidup, edukatif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menilai perempuan masa kini memiliki peran strategis sebagai penjaga tradisi, agen pendidikan, sekaligus penggerak pariwisata berbasis budaya. Bagi Ni Luh Djelantik, perempuan modern bukanlah mereka yang melupakan akar budaya, melainkan mereka yang mampu menjadikan tradisi sebagai identitas dan kekuatan bangsa.
Menurutnya, semangat itu terlihat nyata dalam pelaksanaan Kartini Day 2026 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Satya Dharma Singaraja. Melalui kolaborasi lintas organisasi dan lintas provinsi, peserta diajak menyusuri berbagai warisan budaya, mulai dari museum, pasar tradisional, hingga ruang-ruang budaya yang sarat nilai sejarah dan identitas lokal.
“Kita memahami kisah leluhur bangsa dan menghubungkannya dengan semangat perjuangan Kartini. Ini menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran generasi muda terhadap budaya bangsa,” katanya.
Ni Luh Djelantik juga mengingatkan pesan besar R.A. Kartini tentang pentingnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kecerdasan, tetapi juga pembentukan karakter dan budi pekerti. Karena itu, ia mendorong perempuan Indonesia untuk berani mengambil peran dalam ruang-ruang pendidikan maupun sektor ekonomi kreatif berbasis budaya.
“Perempuan harus berani bergerak, terutama di sektor pariwisata budaya. Mengemas keunikan lokal, menjaganya, dan menjadikannya kekuatan ekonomi kreatif yang mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia berharap Kartini Day 2026 menjadi titik awal lahirnya gerakan perempuan yang semakin aktif dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat sektor pendidikan dan pariwisata di Bali, khususnya di Singaraja.
Menutup pernyataannya, Ni Luh Djelantik menyampaikan ucapan selamat Hari Kartini kepada seluruh perempuan Indonesia. Ia mengajak seluruh perempuan tangguh dan para srikandi bangsa untuk terus bergandengan tangan, berjuang bersama, dan menghadirkan perubahan positif demi Indonesia yang lebih maju.
“Selamat merayakan Hari Kartini. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk terus bergerak bersama demi bangsa dan tanah air tercinta. Kartini Berkarya, Indonesia Jaya,” pungkasnya.
Sementara itu Ketua STIE Satya Dharma Singaraja Dr. Ni Nyoman Juli Nuryani juga memberikan dukungan dan apresiasi kepada HPPI Bali yang telah menyelenggarakan acara Kartini Day 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya seremoni tahunan semata, melainkan sebuah aksi nyata dalam memperkuat peran perempuan di tengah kehidupan masyarakat modern saat ini.
Semangat yang dibangun dalam kegiatan itu dinilai mampu menjadi ruang inspirasi bagi perempuan untuk terus berkembang, berkarya, dan berani mengambil peran penting di berbagai bidang kehidupan.
Perjuangan emansipasi yang diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini harus terus dihidupkan melalui kegiatan positif yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Kegiatan Kartini Day 2026 dapat menjadi momentum mempererat kolaborasi antarorganisasi, institusi pendidikan, dan komunitas perempuan di Bali. Dengan dukungan semua pihak, perempuan Bali diyakini mampu semakin maju, mandiri, serta menjadi motor penggerak perubahan sosial yang positif. (kbs)

