BerandaDaerahGubernur Koster Integrasikan Sad Kerthi dan Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun ke...

Gubernur Koster Integrasikan Sad Kerthi dan Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun ke Dunia Pendidikan lewat Pergub 7/2026

Siapkan Generasi Penerus Cintai Kearifan Lokal, Paham Nafas Pembangunan Bali Berkelanjutan

Foto: Ilustrasi menjaga budaya Bali.

Denpasar, KabarBaliSatu

Gubernur Bali Wayan Koster semakin memperkuat fondasi pembangunan Bali berbasis budaya melalui sektor pendidikan. Melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 7 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Mata Pelajaran Muatan Lokal pada Pendidikan Formal dan Pendidikan Berbasis Masyarakat, nilai-nilai Sad Kerthi dan visi Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125 kini resmi menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran generasi muda Bali.

Kebijakan ini menandai langkah strategis Pemerintah Provinsi Bali dalam memastikan pembangunan Bali tidak hanya berorientasi pada kemajuan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga bertumpu pada kekuatan budaya, spiritualitas, serta kearifan lokal yang menjadi identitas Pulau Dewata.

Dalam regulasi tersebut, Mata Pelajaran Kearifan Lokal Bali ditetapkan sebagai salah satu muatan lokal wajib yang diajarkan secara khusus di seluruh satuan pendidikan formal. Materi pembelajaran tidak hanya memuat nilai-nilai adat dan tradisi Bali, tetapi juga mengintegrasikan filosofi Sad Kerthi sebagai fondasi pembangunan Bali yang berkelanjutan.

Sad Kerthi merupakan konsep pembangunan Bali yang menekankan upaya menjaga kesucian dan keharmonisan alam semesta beserta seluruh isinya. Filosofi ini mencakup enam aspek utama, yakni Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, dan Jagat Kerthi yang menjadi pedoman dalam menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.

Melalui Pergub tersebut, nilai-nilai Sad Kerthi tidak lagi hanya menjadi konsep pembangunan daerah, tetapi juga ditanamkan secara sistematis kepada peserta didik sejak usia dini. Pemerintah berharap generasi muda Bali memahami filosofi tersebut sebagai panduan hidup sekaligus landasan dalam menghadapi tantangan global di masa depan.

Selain Sad Kerthi, regulasi ini juga mengintegrasikan visi besar Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125 ke dalam materi pembelajaran. Haluan pembangunan tersebut merupakan arah jangka panjang yang disusun untuk memastikan Bali tetap tumbuh sebagai daerah yang maju, berdaya saing, dan berkelanjutan tanpa kehilangan identitas budaya yang menjadi kekuatannya.

Melalui pendidikan, visi pembangunan satu abad Bali itu diperkenalkan sejak dini agar generasi penerus tidak hanya menjadi pelaku pembangunan, tetapi juga memahami arah dan tujuan besar yang ingin dicapai Bali dalam jangka panjang.

Gubernur Wayan Koster menegaskan bahwa pendidikan merupakan instrumen paling strategis untuk menjaga keberlanjutan peradaban Bali. Menurutnya, penguatan bahasa, aksara, sastra, serta nilai-nilai Sad Kerthi harus dilakukan secara terstruktur agar mampu membentuk sumber daya manusia Bali yang unggul sekaligus berkarakter.

“Dengan mewajibkan internalisasi bahasa, aksara, sastra, dan filosofi Sad Kerthi sejak dini secara terstruktur, kita sedang mencetak generasi masa depan, SDM Bali unggul, yang tidak hanya berdaya saing global tetapi juga tetap mengakar kuat pada tanah leluhur dan kearifan adi luhung Bali,” tegas Koster.

Ia menambahkan, modernisasi dan perkembangan teknologi tidak boleh mengikis jati diri masyarakat Bali. Justru di tengah perubahan global yang semakin cepat, nilai-nilai budaya dan kearifan lokal harus menjadi fondasi utama dalam membangun masa depan.

Melalui Pergub Nomor 7 Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali ingin memastikan bahwa filosofi Sad Kerthi dan arah pembangunan Bali Era Baru tidak berhenti sebagai dokumen kebijakan semata. Keduanya harus hidup, dipahami, dan diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan yang terstruktur dan berkelanjutan.

Dengan langkah tersebut, Bali tidak hanya mempersiapkan generasi yang mampu bersaing di tingkat global, tetapi juga generasi yang memiliki kesadaran kuat untuk menjaga alam, budaya, dan identitas Bali sebagai warisan luhur yang harus terus dijaga sepanjang perjalanan pembangunan 100 tahun ke depan. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini