Foto: Gubernur Koster usai menjadi pembicara dalam Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) ke-14 di Aula Pascasarjana Universitas Udayana, Kampus Sudirman, Denpasar, Jumat (4/9).
Denpasar, KabarBaliSatu
Maraknya pergeseran gaya bangunan menuju arsitektur modern yang mengancam keberadaan arsitektur tradisional Bali mendapat perhatian serius dari Gubernur Bali Wayan Koster. Hal itu diungkapkannya saat menghadiri Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) ke-14 di Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (4/9).
Koster menyoroti kecenderungan masyarakat yang mulai meninggalkan arsitektur khas Bali demi mengejar kepraktisan dan efisiensi. Untuk mengantisipasi hilangnya identitas daerah, Pemerintah Provinsi Bali mewajibkan seluruh lembaga dan instansi pemerintah untuk konsisten menerapkan karakter arsitektur tradisional Bali pada setiap pembangunan gedung.
“Jangan sampai arsitektur Bali hilang karena tergerus pola pikir praktis dan efisien. Kita harus mempertahankan hal-hal fundamental dan otentik agar Bali tidak kehilangan akarnya,” kata Koster.
Ia menegaskan pentingnya melakukan modernisasi berbasis kebudayaan. Konsep ini bukan berarti mengajak masyarakat kembali ke masa lalu, melainkan menggali prinsip kearifan lokal seperti arsitektur tradisional, sistem Subak, dan Usada, lalu mentransformasikannya menjadi solusi relevan bagi masa depan melalui riset dan teknologi.
“Tugas kita bukan sekadar mempertahankan bentuk lama, tetapi menggali prinsip pengetahuan di dalamnya dan mentransformasi menjadi solusi masa depan. Inilah modernisasi berbasis kebudayaan,” ungkap Koster.
Gubernur Koster juga mengingatkan bahwa ruang publik harus dikembalikan fungsinya sebagai wadah interaksi sosial, kebudayaan, dan kreativitas yang berkarakter. Penyelamatan warisan leluhur ini dinilai vital agar generasi mendatang tetap dapat mengenali dan menghayati identitas Bali secara utuh. (kbs)

