Foto: Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa bersama Sekda Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya saat menyaksikan penampilan Sekehe Gong Kebyar Wanita (GKW) Swara Ratna Kencana, Banjar Anyar-Anyar, Desa Ubung Kaja, Duta Kota Denasar pada Utsawa (Parade) Gong Kebyar Wanita yang digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center, Provinsi Bali, Sabtu (20/6/2026) malam.
Denpasar, KabarBaliSatu
Duta Kesenian Kota Denpasar kembali menorehkan penampilan gemilang pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Kali ini, Sekehe Gong Kebyar Wanita (GKW) Swara Ratna Kencana dari Banjar Anyar-Anyar, Desa Ubung Kaja, sukses memikat perhatian ribuan penonton saat tampil dalam Utsawa (Parade) Gong Kebyar Wanita di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Sabtu (20/6) malam.
Tampil mebarung bersama Duta Kabupaten Buleleng, GKW Swara Ratna Kencana menyuguhkan pertunjukan yang enerjik, penuh penghayatan, dan mendapat sambutan meriah berupa tepuk tangan serta sorak kagum dari penonton. Tiga garapan utama ditampilkan dalam pementasan tersebut, yakni Tabuh Kreasi Kebyar-Kebyar Rong, Tari Kreasi Jaran Teji, dan Sandya Gita berjudul Mati Tan Tumut Pejah.
Dukungan terhadap penampilan duta Kota Denpasar tampak hadir langsung dari Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Anggota DPRD Kota Denpasar I Wayan Sutama dan I Made Mudra, Sekda Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya, serta sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah. Turut hadir pula Ketua GOW Kota Denpasar Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa dan Ketua DWP Kota Denpasar Ny. Suwandewi Eddy Mulya.
Koordinator GKW Swara Ratna Kencana, I Nyoman Suarsa, menjelaskan bahwa seluruh materi pertunjukan dipersiapkan secara matang selama berbulan-bulan untuk menghadirkan karya yang tidak hanya memukau secara artistik, tetapi juga kaya makna.
Menurutnya, Tabuh Kreasi Kebyar-Kebyar Rong mengangkat filosofi kehidupan yang penuh dinamika. Karya tersebut menggambarkan bagaimana manusia senantiasa dihadapkan pada pilihan yang dapat mengantarkan pada kemuliaan ataupun kehancuran sesuai hukum alam. Gagasan itu diterjemahkan melalui komposisi gamelan yang dinamis, atraktif, dan penuh energi.
Sementara itu, Tari Kreasi Jaran Teji yang merupakan karya maestro tari Bali I Wayan Dibia mengisahkan perjalanan Dewi Sekar Taji yang menyamar sebagai laki-laki demi mencari kekasihnya, Raden Panji Inu Kertapati. Tarian ini menampilkan perpaduan karakter maskulin dan feminin yang merepresentasikan keberanian, kesetiaan, perjuangan, sekaligus kelembutan dalam sebuah pencarian cinta yang heroik.
Sebagai penutup, Sandya Gita Mati Tan Tumut Pejah tampil dengan semangat patriotisme yang kuat. Karya tersebut terinspirasi dari nilai-nilai perjuangan para pahlawan dan mengajak generasi muda untuk meneladani semangat pengabdian kepada bangsa. Selain itu, pesan tentang pentingnya kepemimpinan, penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi juga menjadi bagian dari narasi yang diusung demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Atas suksesnya pementasan tersebut, Suarsa menyampaikan apresiasi kepada seluruh penabuh, pembina, panitia, dan berbagai pihak yang telah mendukung proses latihan hingga pementasan. Ia mengungkapkan rasa syukur karena seluruh materi dapat ditampilkan secara maksimal setelah melalui proses persiapan yang berlangsung sekitar delapan bulan.
“Penampilan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berkarya sekaligus menjaga dan melestarikan seni budaya Bali agar tetap hidup dan berkembang,” ujarnya.
Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa turut memberikan apresiasi tinggi atas penampilan GKW Swara Ratna Kencana. Menurutnya, sajian yang ditampilkan mencerminkan kualitas seni, kreativitas, dan semangat pelestarian budaya yang terus tumbuh di Kota Denpasar.
Arya Wibawa mengaku terkesan dengan konsep garapan yang disuguhkan dalam setiap materi pementasan. Mulai dari filosofi kehidupan dalam Tabuh Kreasi Kebyar-Kebyar Rong, kisah perjuangan dan kesetiaan dalam Tari Kreasi Jaran Teji, hingga semangat patriotisme dalam Sandya Gita Mati Tan Tumut Pejah. Seluruhnya dikemas harmonis melalui perpaduan tabuh, tari, vokal, dan penghayatan yang kuat sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton.
“Penampilan yang ditunjukkan malam ini sangat maksimal dan luar biasa. Menariknya, sebagian besar penampil merupakan generasi muda yang mampu menghadirkan karya berkualitas dengan makna yang mendalam. Ini membuktikan bahwa semangat berkesenian dan kreativitas seniman Kota Denpasar terus berkembang dan layak menjadi kebanggaan bersama,” kata Arya Wibawa. (kbs)

