BerandaDaerah"Gempuran AI Menggila", PWI Bali Dorong Wartawan Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme

“Gempuran AI Menggila”, PWI Bali Dorong Wartawan Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme

AI Harus Jadi Penguat, Bukan Ancaman bagi Jurnalisme

Foto: Ketua PWI Provinsi Bali I Wayan Dira Arsana.

Denpasar, KabarBaliSatu

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu tantangan serius yang dihadapi dunia kewartawanan. Di tengah tuntutan kecepatan produksi informasi, AI dinilai perlu ditempatkan bukan semata-mata sebagai ancaman, melainkan sebagai teknologi yang dapat memperkuat karya jurnalistik.

Ketua PWI Provinsi Bali I Wayan Dira Arsana mengatakan, perkembangan AI harus disikapi dengan meningkatkan kualitas dan profesionalisme wartawan. Menurutnya, kecepatan yang ditawarkan AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses produksi karya jurnalistik, tanpa menghilangkan peran dan tanggung jawab wartawan.

“AI sebagai penguat karya jurnalistik, AI sebagai tantangan untuk memacu profesionalisme,” kata Dira Arsana saat diwawancarai di sela-sela kegiatan OKK PWI Bali 2026 di Gedung PWI Bali, Denpasar, Kamis (20/8/2026).

Dira Arsana menilai tantangan yang dihadapi dunia pers saat ini tidak hanya berasal dari perkembangan teknologi. Industri media juga berhadapan dengan persoalan permodalan, tanggung jawab profesi, beban hukum hingga tekanan ekonomi.

“AI memang menjadi tantangan serius. Dunia kewartawanan saat ini menghadapi tantangan yang tidak hanya serius, bahkan sangat serius. Baik dari permodalan, tanggung jawab, beban hukum, dan beban ekonomi,” ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, ia menekankan pentingnya penguatan profesi sebagai strategi menghadapi persaingan. Wartawan yang memiliki kompetensi dan kualitas, menurutnya, akan mampu menghasilkan produk jurnalistik yang memiliki nilai lebih bagi masyarakat.

“Wartawan yang berkualitas akan melahirkan produk yang berkualitas. Karena kualitas itulah media massa kembali menjadi pilihan masyarakat untuk dijadikan rujukan informasi,” tegasnya.

Ia mengakui pers selama ini menghadapi persaingan ketat dengan media sosial yang menawarkan kecepatan informasi serta content creator yang lebih banyak mengedepankan sisi hiburan.

Namun, Dira Arsana menegaskan pers memiliki fungsi yang lebih luas. Pers tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mencerdaskan masyarakat, memberikan edukasi, serta memperkuat nasionalisme.

Menurutnya, fungsi tersebut menjadi semakin penting di tengah dinamika sosial yang berkembang. Pers, khususnya di Bali, juga memiliki peran dalam menjaga situasi sosial agar tetap kondusif dan mencegah pemberitaan justru menjadi pemicu konflik.

“Jangan sampai produk-produk pers itu memicu konflik sosial,” katanya.

Karena itu, ia mengingatkan setiap karya jurnalistik harus lahir melalui proses jurnalistik yang benar. Wartawan dituntut tetap berpegang pada Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan Kode Perilaku Wartawan (KPW).

Dira Arsana menilai penggunaan AI dalam proses jurnalistik juga harus ditempatkan secara proporsional. Teknologi tersebut dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi kualitas jurnalistik tetap ditentukan oleh kecerdasan, ketelitian, tanggung jawab, serta profesionalisme wartawan.

“Kalau dipandang ancaman, semua peluang kerja mungkin akan lebih luas didapat oleh pembaca di AI. Maka di sanalah kecerdasan itu kita harus padukan,” ujarnya.

Menurutnya, masa depan pers bukan ditentukan oleh seberapa cepat wartawan mampu menghasilkan berita, tetapi juga seberapa kuat media menghadirkan informasi yang akurat, berimbang, beretika, dan memiliki nilai bagi masyarakat.

Dengan demikian, AI seharusnya tidak membuat wartawan kehilangan relevansi. Sebaliknya, kehadiran teknologi menjadi momentum bagi insan pers untuk meningkatkan kompetensi dan membuktikan bahwa karya jurnalistik profesional tetap memiliki tempat penting di tengah derasnya arus informasi digital. (darren/kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini