BerandaDaerahDibully Bertubi-tubi di Medsos, Gubernur Koster Tetap Bekerja Lascarya Sekala Niskala Majukan...

Dibully Bertubi-tubi di Medsos, Gubernur Koster Tetap Bekerja Lascarya Sekala Niskala Majukan Bali

Bali Kebanjiran Infrastruktur Strategis! Shortcut Titik 9–10 Dikerjakan, Underpass Jimbaran Menyusul!

Foto: Gubernur Bali Wayan Koster saat menghadiri upacara Adat Ngeruak dan Ground Breaking Pembangunan Jalan Perbaikan Geometrik Batas Kota Singaraja–Mengwitani (Shortcut Titik 9 dan 10) Paket 1 dan Paket 2. Kegiatan ini digelar di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Rabu (7/1/2026).

Buleleng, KabarBaliSatu

Serangan terhadap Gubernur Bali Wayan Koster di media sosial tak pernah benar-benar berhenti. Polanya berulang: meremehkan, memelintir fakta, lalu menarik kesimpulan seolah-olah pemerintah absen bekerja. Namun di lapangan, narasi itu justru runtuh oleh kenyataan.

Pembangunan Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani kini resmi berlanjut ke Titik 9 dan 10. Setelahnya, proyek strategis Underpass Jimbaran dipastikan menyusul. Hal ini membuktikan Bali di bawah tangan dingin kepimpinan Gubernur Koster di periode kedua ini semakin kebanjiran proyek infrastruktur strategis untuk mempercepat pemerataan pembangunan Pulau Dewata.

Di tengah cibiran dan bully-an yang bertubi-tubi dilayangkan pihak tidak bertanggung jawab di media sosial, Gubernur Koster memilih iklas dan tetap tulus, fokus, lurus, lascarya sekala niskala berkerja memajukan Bali.

Alih-alih terpancing, Koster memilih membiarkan bully berlalu. Ia tak menjadikan serangan verbal sebagai panggung balasan.

“Biarkan saja dibully, kita tetap kerja,” menjadi sikap politik yang konsisten ia tunjukkan. Di tengah riuh linimasa, Koster justru mengunci agenda pembangunan Bali di tingkat pusat agar tidak terganggu oleh kebisingan yang tak produktif.

Shortcut Singaraja–Mengwitani menjadi bukti paling kasat mata. Proyek ini kini masuk ke Titik 9 dan 10—segmen terberat secara teknis—setelah titik-titik sebelumnya rampung dan manfaatnya langsung dirasakan masyarakat.

Jalan ini memotong tanjakan ekstrem, menurunkan risiko kecelakaan, serta memangkas waktu tempuh secara signifikan. Jika ini masih disebut “tidak bekerja”, maka kerja telah disempitkan sekadar urusan tampil di media sosial.

Paket pekerjaan Titik 9 dan 10 mencakup hampir empat kilometer jalan dan jembatan di medan curam, dengan nilai ratusan miliar rupiah dan masa pelaksanaan lebih dari dua tahun.

Pemerintah Provinsi Bali bahkan telah lebih dulu menuntaskan pembebasan ratusan bidang tanah agar proyek pusat tidak tersandera konflik. Ini kerja sunyi—mahal, rumit, dan jauh dari sorotan—namun justru paling menentukan.

Di saat bully terus diproduksi, proyek strategis lain juga dipersiapkan. Underpass Jimbaran, yang selama ini dinanti sebagai solusi kemacetan kronis di Bali selatan, telah masuk dalam agenda lanjutan pemerintah pusat. Ini menegaskan bahwa kebijakan infrastruktur Bali tidak berjalan reaktif, melainkan terencana, bertahap, dan berlapis.

Manfaatnya pun nyata, bukan asumsi. Shortcut menurunkan kelandaian jalan, menghemat waktu tempuh, menekan biaya logistik, dan mengurangi emisi. Underpass Jimbaran kelak diarahkan untuk mengurai simpul kemacetan terpadat di jalur pariwisata. Semua dikerjakan bukan untuk memuaskan algoritma, melainkan menjawab persoalan riil masyarakat.

Sebab infrastruktur tak bisa dipermalukan oleh ejekan. Ia hanya bisa diuji oleh waktu dan manfaat. Koster tampaknya memahami betul itu. Ia membiarkan serangan berlalu, dan memilih memastikan proyek berjalan tepat waktu dan berkualitas.

Di Bali, kerja sering kalah bising oleh nyinyir. Namun ketika jalan tersambung dan kemacetan terurai, publik akan tahu: yang benar-benar bekerja tak sibuk membalas bully, ia sibuk membangun. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini