Foto: Gubernur Bali, Wayan Koster.
Denpasar, KabarBaliSatu
Gubernur Bali Wayan Koster meminta pelaku usaha pariwisata di Pulau Dewata memberikan dukungan penuh terhadap langkah Pemerintah Provinsi Bali dalam memperjuangkan tambahan anggaran dari pemerintah pusat untuk pembangunan infrastruktur strategis.
Ajakan tersebut disampaikan Gubernur Koster saat menghadiri Bali Economic Investment Forum (BEIF) di Denpasar, Rabu 18/2/2026). Menurutnya, keberlanjutan pariwisata Bali sangat bergantung pada kesiapan dan kualitas infrastruktur yang memadai.
“Saya mengajak semua pelaku usaha, terutama pariwisata karena paling berkepentingan dengan infrastruktur, agar mendukung. Jangan merecoki. Ini berkaitan langsung dengan masa depan Bali,” tegas Koster.
Saat ini, Pemprov Bali tengah menjajaki sejumlah kementerian untuk memperoleh tambahan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Koster menilai, skema penganggaran infrastruktur selama ini masih bersifat normatif dan belum sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan spesifik daerah, khususnya Bali sebagai destinasi wisata unggulan nasional.
“Kita tidak pernah minta menjadi daerah wisata. Bali tumbuh secara alami sebagai destinasi dunia dan memberi kontribusi besar bagi Indonesia. Karena itu, jangan dibiarkan. Kita tidak mungkin membangun infrastruktur skala besar hanya mengandalkan APBD,” ujarnya.
Gubernur Koster memaparkan berbagai persoalan pembangunan yang kini dihadapi Bali, mulai dari alih fungsi lahan pertanian yang mencapai sekitar 700 hektare per tahun, persoalan sampah, kemacetan lalu lintas, ketersediaan air bersih, energi, hingga kesenjangan infrastruktur antarwilayah.
Menurutnya, persoalan tersebut menjadi ancaman serius bagi sektor pariwisata. Jika tidak ditangani secara cepat dan terintegrasi, Bali berpotensi mengalami penurunan kualitas lingkungan dan daya saing.
“Kalau tidak didukung APBN, kondisinya akan terus menurun. Macet, sampah, masalah air—daya saing turun. Wisatawan bisa beralih ke negara lain seperti Malaysia atau Thailand. Kalau itu terjadi, pelaku usaha pariwisata di Bali tidak bisa tersenyum lagi,” katanya.
Dalam memperjuangkan dukungan pemerintah pusat, Pemprov Bali tidak sekadar mengajukan permohonan anggaran. Gubernur Koster juga membeberkan capaian konkret Bali sebagai dasar argumentasi.
Sepanjang 2025, Bali mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,82 persen, tertinggi kelima secara nasional, hanya berada di bawah provinsi yang ditopang sektor pertambangan seperti emas dan nikel. Capaian tersebut, kata Koster, merupakan hasil kerja kolektif antara masyarakat, pelaku usaha pariwisata, dan pemerintah daerah.
Pada tahun yang sama, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali mencapai 7,05 juta kunjungan atau sekitar 45,8 persen dari total wisatawan asing ke Indonesia yang mencapai 15,39 juta orang.
Sementara pada 2024, Bali menyumbang devisa pariwisata sebesar Rp167 triliun dari 6,3 juta kunjungan wisatawan mancanegara. Gubernur Koster optimistis kontribusi tersebut akan meningkat signifikan pada 2025.
Data dan capaian inilah yang terus disuarakan Gubernur Koster kepada pemerintah pusat sebagai dasar kuat perlunya keberlanjutan pembangunan infrastruktur di Bali, demi menjaga peran strategis pariwisata sebagai penggerak ekonomi daerah dan nasional. (kbs)

