BerandaDaerahDemer Desak Pemerintah Percepat Pembangunan Bandara Bali Utara: “Jika Tidak, Pertumbuhan Bali...

Demer Desak Pemerintah Percepat Pembangunan Bandara Bali Utara: “Jika Tidak, Pertumbuhan Bali Akan Terhenti”

Foto: Anggota Komisi VI DPR RI Dapil Bali, yang juga Ketua DPD Golkar Bali, Gde Sumarjaya Linggih alias Demer.

Denpasar, KabarBaliSatu

Anggota Komisi VI DPR RI Dapil Bali, Gde Sumarjaya Linggih atau Demer kembali menegaskan pentingnya percepatan pembangunan bandara baru di Bali Utara. Ia menilai kebutuhan tersebut sudah masuk kategori mendesak dan tidak bisa lagi ditunda, mengingat kapasitas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai saat ini hampir mencapai titik maksimal.

“Segera pemerintah daerah harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Kenapa harus segera? Karena kondisi bandara yang ada sekarang sudah mendekati kapasitas penuh,” tegas Demer saat ditemui dalam agenda diskusi strategis pembangunan wilayah Bali Utara.

Menurut Ketua DPD Golkar Bali ini, data dan komunikasi yang ia lakukan dengan pemangku kebijakan penerbangan telah menunjukkan bahwa Bandara Ngurah Rai hanya memiliki kelonggaran operasional hingga tahun 2030. Setelah itu, pertumbuhan jumlah penumpang diperkirakan tidak dapat lagi diakomodasi.

“Saya sudah sering berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk dengan pengelola rute penerbangan, dan informasi yang saya terima jelas: kapasitas bandara yang ada saat ini hanya mampu bertahan sampai tahun 2030. Setelah itu, bandara tidak lagi dapat menampung pertumbuhan penumpang,” kata Demer.

Anggota Fraksi Golkar DPR RI itu kemudian memaparkan bahwa jika kondisi itu tidak segera direspons, maka Bali akan menghadapi situasi yang dapat mengganggu sektor pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi daerah.

“Kalau ini dibiarkan, apa yang terjadi? Bali akan menghadapi persaingan ruang bagi wisatawan. Hotel-hotel akan berebut tamu karena jumlah wisatawan yang masuk semakin sulit akibat keterbatasan akses penerbangan. Mencari tiket pesawat pun akan semakin sulit, bahkan sekarang saja kita sudah merasakannya. Infrastruktur ini vital,” ujarnya.

Demer mengingatkan bahwa kemajuan Bali selama beberapa dekade terakhir tidak lepas dari keberadaan bandara internasional. Karena itu, ketika bandara mencapai titik jenuh, maka pertumbuhan ekonomi otomatis akan terhambat.

“Kenapa Bali maju? Karena kita punya bandara. Tetapi ketika bandara mencapai titik jenuh, maka pertumbuhan ekonomi otomatis ikut terhenti,” tambahnya.

Dalam rencana pembangunan bandara baru, terdapat dua lokasi yang dipertimbangkan. Namun Demer menilai kawasan Kubutambahan, Buleleng, merupakan pilihan yang paling tepat.

“Terkait rencana bandara baru, ada dua opsi lokasi: di kawasan Kubutambahan dan satu lagi di lokasi alternatif lainnya. Menurut saya, yang paling tepat adalah penambahan bandara baru di Kubutambahan, karena lokasinya strategis. Area tersebut dekat dengan Bangli, Kintamani, Bedugul, dan destinasi wisata lainnya,” jelasnya.

Ia juga menolak perbandingan pembangunan ini dengan Bandara Kertajati di Jawa Barat yang dinilai gagal berkembang.

“Jangan membandingkan dengan Bandara Kertajati. Kertajati tidak tumbuh karena tidak ada ekosistem pendukungnya. Namun jika bandara dibangun di Kubutambahan, saya yakin sejak groundbreaking dimulai, hotel berbintang lima akan langsung bermunculan. Jadi jangan berpikir bahwa karena saat ini belum ada apa-apa, maka tidak layak. Justru bandara yang akan menggerakkan pembangunan,” tuturnya.

Di tengah perdebatan publik mengenai akses jalan menuju Buleleng, Demer menyebut kekhawatiran itu tidak berdasar. Menurutnya, keberadaan bandara justru akan membuka peluang pertumbuhan destinasi dan infrastruktur baru di wilayah utara dan timur.

“Soal konektivitas, banyak yang mempersoalkan jarak dan akses jalan dari Denpasar ke Buleleng. Menurut saya, itu tidak perlu dikhawatirkan. Ketika bandara dibangun, fasilitas pariwisata di wilayah utara otomatis berkembang,” kata Demer.

Baginya, seorang wisatawan justru akan mendapatkan keuntungan karena dekat dengan banyak destinasi unggulan.

“Kenapa? Karena lebih dekat dengan destinasi seperti Bedugul, Kintamani, Tulamben, hingga kawasan wisata alam lainnya. Bagi wisatawan, mendarat di Buleleng justru lebih praktis untuk mengakses banyak destinasi alam Bali Utara dan Bali Timur,” jelasnya.

Ia optimis bandara baru akan menjadi gateway pariwisata dan menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru.

“Ketika hotel dan kawasan penunjang sudah tersedia, bandara ini akan menjadi pintu masuk wisata yang sangat potensial,” ucapnya.

Demer menegaskan bahwa pembangunan bandara baru bukan proyek seremonial atau ambisi politik, melainkan investasi jangka panjang untuk keberlanjutan Bali.

“Karena itu, pemilihan lokasi jangan sampai keliru. Salah memilih titik pembangunan dapat membuat bandara mangkrak seperti yang dikhawatirkan banyak pihak,” katanya.

Ia juga menyatakan siap berdiskusi dengan pihak yang menilai pembangunan ini tidak layak.

“Jadi saya tegaskan, proyek bandara ini harus dilihat sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar infrastruktur. Dan bila ada yang ingin berdebat bahwa bandara ini akan menjadi ‘kuburan’ tanpa akses atau fasilitas, saya siap berdiskusi. Karena justru bandara inilah yang akan menciptakan pertumbuhan dan membuka akses pembangunan, bukan sebaliknya,” pungkasnya. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini