Foto: BPBD Provinsi Bali memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026 dengan memantau potensi kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan. Sebanyak 529 KK tercatat terdampak kekeringan, sementara distribusi air bersih terus dilakukan ke sejumlah wilayah di Bali.
Denpasar, KabarBaliSatu
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026. Sejumlah wilayah dipantau secara intensif untuk mengantisipasi kekeringan, krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga kebakaran permukiman dan fasilitas pengelolaan sampah.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya mengatakan pemantauan dilakukan secara berkelanjutan, termasuk terhadap titik panas atau hotspot. Pemantauan hotspot bahkan dilakukan selama 24 jam untuk mendeteksi sedini mungkin potensi kebakaran.
“Ya memantau hotspot 24 jam nonstop,” kata Teja saat dikonfirmasi, Selasa (25/8/2026).
Selain memantau hotspot, BPBD Bali terus melakukan konsolidasi lintas sektor. Kesiapsiagaan mencakup sektor pertanian, penyediaan air bersih, kehutanan, hingga tempat pemrosesan akhir (TPA).
“Sudah terus dilakukan konsolidasi agar setiap sektor siaga. Di pertanian, air bersih, kehutanan dan TPA,” ujarnya.
Untuk kawasan hutan, pengawasan dilakukan bersama polisi hutan (Polhut) dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan. Sementara itu, fasilitas pengelolaan sampah juga menjadi perhatian karena berpotensi mengalami kebakaran akibat kondisi kering.
“TPA secara reguler melakukan pendinginan. Hutan sudah dijaga oleh Polhut dan masyarakat sekitar hutan. Air bersih sudah terus distribusi,” jelas Teja.
Meski ancaman meningkat selama musim kemarau, kondisi Bali hingga saat ini masih terkendali. Berdasarkan pemantauan terakhir, tidak ditemukan hotspot di wilayah Bali.
“Saat ini hotspot tidak ada,” ungkapnya.
529 KK Terdampak Kekeringan
BPBD Bali mencatat kekeringan mulai berdampak di sejumlah wilayah, terutama Kabupaten Buleleng, Jembrana dan Karangasem.
Berdasarkan data kejadian sejak 11 April hingga 23 Agustus 2026, sebanyak 529 kepala keluarga (KK) tercatat terdampak kekeringan.
Di Buleleng, wilayah terdampak meliputi Desa Sinabun dan Desa Madenan. Sementara di Jembrana, kekeringan terjadi di Kelurahan Pendem, Desa Asahduren, Desa Pergung, Kelurahan Bale Agung, Desa Berangbang, Desa Yeh Embang Kauh, Desa Tukadaya dan Desa Manistutu.
Di Karangasem, wilayah yang terdampak meliputi Desa Baturinggit, Desa Tianyar Timur dan Desa Tianyar.
Untuk mengantisipasi krisis air bersih, BPBD Bali terus mengirimkan bantuan air ke wilayah terdampak. Hingga 23 Agustus 2026, total 521.000 liter air bersih telah disalurkan.
Rinciannya, sebanyak 233.000 liter dikirim ke Buleleng, 285.000 liter ke Jembrana dan 30.000 liter ke Karangasem.
Distribusi masih berlanjut pada pekan terakhir. Dalam periode 17-23 Agustus 2026, BPBD Bali kembali menyalurkan 78.000 liter air bersih, terdiri atas 63.000 liter untuk Jembrana, 10.000 liter untuk Buleleng dan 5.000 liter untuk Karangasem.
Di Jembrana, bantuan air disalurkan ke sejumlah lokasi, antara lain Lingkungan Dewa Sana dan Pancardawa di Kelurahan Pendem, Br. Sekar Kejula di Desa Yeh Embang Kauh, Br. Brawantangi Taman dan Br. Sarikuning di Desa Tukadaya, SDN 5 Berangbang, Banjar Pendem Desa Manistutu, Br. Pangkung Manggis Kelurahan Bale Agung, hingga Br. Sambong Desa Tukad Aya.
Sementara di Buleleng, masing-masing 5.000 liter air bersih disalurkan ke Dusun Menase dan Banjar Dinas Jero, Desa Sinabun, Kecamatan Sawan.
Adapun di Karangasem, sebanyak 5.000 liter air bersih disalurkan ke Banjar Dinas Eka Adnyana, Desa Tianyar, Kecamatan Kubu.
Selain distribusi air melalui mobil tangki, BPBD Bali juga menyiagakan 292 unit sumur dalam yang tersebar di seluruh Bali. Seluruh sumur tersebut disebut dalam kondisi aktif dan siap digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat apabila krisis air semakin meningkat.
Waspadai Karhutla
Musim kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. BPBD Bali mencatat sejumlah kejadian karhutla dengan luasan cukup signifikan di berbagai kabupaten.
Di Buleleng, kebakaran tercatat terjadi di Kecamatan Gerokgak dengan luas sekitar 91,52 hektare dan di Kecamatan Seririt seluas lima hektare.
Di Karangasem, kebakaran terjadi di Kecamatan Kubu dengan luas sekitar lima hektare yang mencakup lahan pertanian dan lahan kosong. Sementara di Kecamatan Abang, sekitar dua hektare lahan kosong terbakar.
Kebakaran juga terjadi di Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, dengan luas sekitar 15 hektare. Di Kecamatan Gunaksa, tercatat dua hektare lahan kosong terdampak kebakaran.
Di Jembrana, kebakaran lahan kosong di Desa Pekutatan tercatat sekitar 1,5 hektare. Sedangkan di Bangli, kebakaran hutan di Kecamatan Kintamani mencapai sekitar 1,33 hektare.
Tak hanya hutan dan lahan, BPBD Bali juga meningkatkan pengawasan terhadap potensi kebakaran bangunan, permukiman serta fasilitas pengelolaan sampah.
Sejumlah fasilitas yang menjadi perhatian di antaranya TPST 3R Culik, Kecamatan Abang, Karangasem, dengan area terdampak sekitar 10 are, serta TPST 3R Tejakula di Buleleng.
TPA Suwung di Jalan Bypass Ngurah Rai, Desa Sanggaran, Kecamatan Denpasar Selatan, juga masuk dalam pemantauan. Area yang terdampak kebakaran di lokasi tersebut tercatat sekitar dua are.
Kewaspadaan BPBD Bali juga tergambar dalam laporan situasi mingguan periode 17-23 Agustus 2026. Dalam kurun waktu tersebut, tercatat 15 kejadian bencana, terdiri atas delapan kebakaran gedung dan permukiman, enam kebakaran hutan dan lahan, serta satu kejadian gelombang pasang.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa peningkatan kesiapsiagaan perlu dilakukan secara bersama-sama, terutama selama puncak musim kemarau. Pemantauan hotspot, pengawasan kawasan rawan kebakaran, distribusi air bersih dan kesiapan sumber air menjadi langkah penting untuk menekan dampak bencana di Bali. (kbs)

