BerandaDaerahAwal 2026, Padangsambian Bergetar dengan Cahaya Kemanusiaan!

Awal 2026, Padangsambian Bergetar dengan Cahaya Kemanusiaan!

Pejuang Kemanusiaan Ngurah Aryawan Geber Pasar Murah Gas Melon, Operasi Katarak hingga Bantuan Kasur untuk Korban Kebakaran

Foto: Suasana aksi kemanusiaan di Desa Padangsambian, Denpasar yang diinisiasi oleh tokoh Muda Padangsambian yang juga Anggota DPRD Kota Denpasar dari Fraksi Partai Gerindra, I Ketut Ngurah Aryawan.

Denpasar, KabarBaliSatu

Awal tahun 2026 dibuka dengan denyut harapan dari Padangsambian, Denpasar. Di tengah denyut kehidupan kota yang terus bergerak cepat, seorang tokoh muda memilih berhenti sejenak—menoleh ke warga, menyapa yang lelah, dan mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan. Dialah I Ketut Ngurah Aryawan, tokoh Muda Padangsambian yang juga Anggota DPRD Kota Denpasar dari Fraksi Partai Gerindra, yang kembali menggebrak dengan aksi nyata sosial kemanusiaan.

Bukan sekadar seremoni. Bukan pula pencitraan. Pada Jumat, 9 Januari 2026, Balai Desa Padangsambian menjadi saksi bagaimana pengabdian diwujudkan dalam kerja konkret. Bantuan kasur untuk korban kebakaran rumah, operasi katarak gratis, hingga pasar murah gas LPG 3 kilogram atau gas melon digelar dalam satu tarikan napas kepedulian. Semuanya hadir, menyatu, dan menyentuh langsung denyut kehidupan warga.

Kegiatan sosial ini terbangun dari sinergi yang kuat. Bersama Bendesa Adat Padangsambian, I Made Sumawa, Ngurah Aryawan merajut kolaborasi lintas pihak—Bebek Belus Group, SMK Bintang Persada, John Fawcett Foundation (JFF), hingga Pertamina Cabang Denpasar. Sebuah contoh bahwa kemanusiaan tumbuh subur ketika ego ditanggalkan dan tujuan bersama diletakkan di depan.

Operasi katarak gratis menjadi salah satu titik paling menyentuh. Bekerja sama dengan John Fawcett Foundation, organisasi kemanusiaan yang konsisten membantu pemulihan penglihatan dan pencegahan kebutaan di Indonesia, program ini menghadirkan kembali cahaya bagi mereka yang selama ini hidup dalam kabut. Bagi warga yang penglihatannya perlahan memudar, operasi ini bukan hanya tindakan medis—melainkan pintu untuk kembali melihat dunia, keluarga, dan masa depan dengan lebih terang.

“Ini tentang harapan,” begitu makna yang terasa di ruang-ruang sunyi tempat operasi berlangsung. Harapan untuk kembali mandiri. Harapan untuk kembali bekerja. Harapan untuk kembali menjalani hidup dengan utuh.

Di sudut lain, bantuan kasur diserahkan kepada warga korban kebakaran rumah. Benda sederhana, namun sarat makna. Kasur itu menjadi alas baru bagi mereka yang kehilangan tempat bernaung, sekaligus simbol bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa musibah bukan akhir dari segalanya. Bahwa selalu ada tangan yang siap membantu mereka bangkit.

Sementara itu, pasar murah gas LPG 3 kilogram menjadi denyut ekonomi kecil yang mengguncang Padangsambian. Sebanyak 200 tabung gas dijual dengan harga Rp 18 ribu—jauh di bawah harga pasaran. Dalam hitungan menit, seluruh tabung ludes diserbu warga. Subsidi penuh berasal dari kantong pribadi Ngurah Aryawan, sebagai bentuk empati di tengah isu kelangkaan gas dan tekanan ekonomi yang masih dirasakan masyarakat.

“Saya ingin menempatkan diri sebagai pelayan,” ujar Ngurah Aryawan. Baginya, menjadi wakil rakyat bukan sekadar duduk di kursi parlemen, tetapi hadir di tengah masyarakat, merasakan langsung denyut persoalan, dan menggerakkan solusi. Sejak masih menjadi Ketua Karang Taruna Denpasar, kegiatan kemanusiaan—terutama di bidang kesehatan mata—sudah rutin ia lakukan. Kini, sebagai legislator, langkah itu diperluas dan dibuat berkesinambungan.

Ia menekankan pentingnya sinergi antara desa adat, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan. Kesehatan, menurutnya, adalah fondasi utama produktivitas dan kualitas hidup. Kebutaan akibat katarak harus dituntaskan. Begitu pula persoalan kesehatan lain seperti kolesterol dan asam urat yang kian meningkat akibat pola hidup yang tidak sehat.

“Kita ingin tujuan pemerintah pusat dan daerah benar-benar dirasakan di tingkat bawah,” tegasnya. Di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, kehadiran negara—melalui wakil-wakilnya—harus terasa nyata.

Apresiasi pun datang dari Bendesa Adat Padangsambian, I Made Sumawa. Ia menilai aksi kemanusiaan ini sebagai bentuk pelayanan tulus bagi warga yang kurang mampu, khususnya mereka yang mengalami gangguan penglihatan dan masalah kesehatan lainnya. “Tujuan kami sederhana, membantu masyarakat agar mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Semoga kegiatan ini sukses dan benar-benar berguna,” ujarnya.

Suara terima kasih juga mengalir dari warga. Yuyun Yunisih mengaku sangat terbantu dengan pasar gas murah. “Biasanya saya beli gas Rp 25 ribu, sekarang cukup Rp 18 ribu. Semoga program seperti ini terus ada,” katanya penuh harap.

Musana, salah satu peserta operasi katarak, tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Operasi berjalan lancar, pelayanan dinilainya sangat baik. “Saya berharap ke depan semakin banyak program yang membantu masyarakat seperti ini,” tuturnya dengan mata yang kini kembali menatap terang.

Dari Padangsambian, awal 2026 terasa berbeda. Di sana, kemanusiaan tidak hanya dibicarakan, tetapi dikerjakan. Tidak hanya membantu, tetapi juga menginspirasi. Mengingatkan kita semua bahwa politik, ketika dijalankan dengan hati, dapat menjadi jembatan cahaya bagi banyak kehidupan. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini