BerandaDaerahPemprov Bali Siapkan 49 Kampung Nelayan Merah Putih, Jadi Pusat Ekonomi Pesisir

Pemprov Bali Siapkan 49 Kampung Nelayan Merah Putih, Jadi Pusat Ekonomi Pesisir

Seraya Timur Jadi Titik Awal, Diperluas ke Seluruh Bali

Foto: Ilustrasi Kampung Nelayan Merah Putih di Bali yang disiapkan sebagai pusat pengembangan ekonomi pesisir. Program ini menargetkan pembangunan 49 kampung nelayan, dengan Seraya Timur, Karangasem, sebagai titik awal sebelum diperluas ke seluruh wilayah Bali.

Denpasar, KabarBaliSatu

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali terus memperkuat sektor kelautan dan perikanan melalui pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih. Program ini dirancang menjadi kawasan ekonomi pesisir terpadu yang menghubungkan aktivitas penangkapan, pengolahan, hingga pemasaran hasil perikanan dalam satu lokasi.

Kabupaten Karangasem menjadi daerah pertama di Bali yang mengembangkan program tersebut melalui Kampung Nelayan Merah Putih di Seraya Timur sejak 2025. Keberhasilan pengembangan kawasan ini diharapkan menjadi model bagi perluasan program serupa ke sejumlah wilayah pesisir lainnya.

Pemprov Bali bahkan menyiapkan pengembangan 26 kampung nelayan pada 2027 dan 23 kampung pada 2028. Perluasan tersebut merupakan bagian dari percepatan program nasional yang menjadi salah satu arahan Presiden Prabowo Subianto.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Putu Sumardiana, mengatakan tujuan utama pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih adalah menyatukan nelayan dan berbagai aktivitas usaha perikanan dalam satu kawasan sehingga kegiatan ekonomi masyarakat pesisir dapat berjalan lebih terintegrasi.

“Tujuan awal niki kan untuk mempersatukan nelayannya,” kata Sumardiana di Denpasar, Selasa (3/11/2026).

Menurutnya, konsep ideal Kampung Nelayan Merah Putih tidak sebatas menyediakan fasilitas untuk aktivitas penangkapan ikan. Kawasan tersebut juga dirancang memiliki fasilitas pengolahan hasil tangkapan, usaha kuliner, budidaya perikanan, hingga potensi pengembangan pariwisata.

“Kalau cita-citanya dari pusat, ada penangkapannya di sana jadi satu. Terus ada pengolahannya juga, kulinernya di situ. Terus ada budidayanya,” ujarnya.

Seraya Timur Jadi Percontohan

Kampung Nelayan Merah Putih Seraya Timur dibangun dengan dukungan anggaran APBN 2026 sebesar Rp22 miliar. Kawasan seluas sekitar satu hektare ini diarahkan menjadi sentra pengelolaan ikan tongkol yang berasal dari Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 713.

Program tersebut menyasar 15 Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang menaungi sekitar 350 nelayan. Pengelolaan kawasan dilakukan melalui koperasi yang terintegrasi dengan Koperasi Desa Merah Putih Seraya Timur.

Berbagai fasilitas disiapkan untuk memperpendek rantai aktivitas usaha perikanan, mulai dari penangkapan, pendaratan ikan, penanganan hasil tangkapan, pengolahan, hingga pemasaran.

Fasilitas yang tersedia antara lain tambatan perahu, tempat pendaratan ikan, docking kapal, bengkel mesin kapal, kios perbekalan melaut, serta balai nelayan. Kawasan ini juga dilengkapi sarana pendukung pengolahan dan pemasaran hasil perikanan.

Dengan konsep tersebut, nelayan diharapkan tidak lagi harus berpindah-pindah tempat untuk mendapatkan kebutuhan operasional maupun mengelola hasil tangkapannya.

“Tujuannya mengintegrasikan antara penangkapan ikan, nelayan, pengolah ikan, pemasar dalam suatu lokasi. Termasuk juga ada bengkel kapal. Diharapkan nelayannya itu enggak pusing ke mana-mana, jadi sekomplek,” jelas Sumardiana.

Meski berbagai bangunan dan sarana pendukung telah tersedia, belum seluruh fasilitas beroperasi secara optimal. Aktivitas pengolahan ikan, misalnya, masih dalam tahap uji coba.

Cold Storage Jaga Mutu dan Stabilitas Harga Ikan

Salah satu fasilitas penting yang telah tersedia di Kampung Nelayan Merah Putih Seraya Timur adalah cold storage dengan kapasitas sekitar 10 ton.

Fasilitas ini berfungsi menampung hasil tangkapan ketika produksi ikan melimpah. Dengan demikian, nelayan tidak harus menjual seluruh hasil tangkapannya dalam waktu bersamaan, terutama ketika pasokan di pasar sedang tinggi.

“Jadi kalau melimpah dicakup di sana, di cold storage. Tujuannya apa? Untuk menjamin mutu ikannya tetap baik,” ujar Sumardiana.

Ikan yang disimpan dapat dikeluarkan kembali ketika hasil tangkapan mulai berkurang. Mekanisme ini diharapkan mampu menjaga ketersediaan pasokan sekaligus membantu menstabilkan harga ikan di pasaran.

“Nah, di saat ikan mulai berkurang, baru di sana dikeluarkan sehingga ikannya stabil,” katanya.

Ke depan, pengembangan fasilitas juga akan diperkuat dengan gudang beku portabel berkapasitas 20 ton, Air Blast Freezer (ABF) berkapasitas satu ton, pabrik es portabel, serta sarana pengolahan pascapanen.

Dukungan infrastruktur lainnya mencakup penyediaan air bersih melalui pipanisasi sumur bor dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Kawasan ini juga direncanakan memiliki kios pemasaran ikan, gapura, jalan lingkungan, pedestrian, MCK, hingga Pura Segara.

Menurut Sumardiana, seluruh fasilitas tersebut dirancang untuk membangun ekosistem usaha perikanan yang lebih kuat. Tidak hanya membantu nelayan dalam aktivitas melaut, tetapi juga memberikan nilai tambah terhadap hasil tangkapan melalui penanganan dan pengolahan yang lebih baik.

Ia menegaskan, keberhasilan program pada akhirnya harus diukur dari peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

“Ada enggak adanya Kampung Nelayan berapa pun, diharapkan peningkatan tujuan akhirnya kan bagaimana nelayan yang di sana itu sejahtera. Itu aja intinya,” tegasnya.

Lima Lokasi Masuk Pengembangan 2026

Selain Seraya Timur, Pemprov Bali juga menyiapkan pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih di lima lokasi lainnya pada 2026.

Lokasi tersebut tersebar di tiga kabupaten, yakni Kabupaten Jembrana meliputi Desa Air Kuning dan Candi Kusuma, Kabupaten Buleleng mencakup Pejarakan dan Patas, serta Kabupaten Karangasem di wilayah Manggis.

Sumardiana menjelaskan, kelima lokasi tersebut telah masuk dalam proses pengembangan, termasuk tahapan pengusulan dan verifikasi. Namun, belum seluruhnya memasuki tahap pembangunan fisik.

Ia menambahkan, kebutuhan fasilitas setiap kampung nelayan tidak harus seragam. Perencanaan akan disesuaikan dengan karakteristik wilayah serta kebutuhan masyarakat nelayan setempat.

Sejumlah usulan dukungan di antaranya pengadaan alat tangkap, fasilitas penunjang kegiatan melaut, hingga akses terhadap bahan bakar bersubsidi.

Dengan perluasan program secara bertahap, Pemprov Bali berharap Kampung Nelayan Merah Putih tidak hanya menjadi pusat aktivitas perikanan, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem ekonomi pesisir yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan.

Target akhirnya adalah meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan, memperkuat daya saing produk perikanan, serta menghadirkan kesejahteraan yang lebih baik bagi nelayan dan keluarganya. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini