BerandaDaerahLebih dari 65 Persen Ekonomi Bali Bergantung pada Pariwisata, Gubernur Koster dan...

Lebih dari 65 Persen Ekonomi Bali Bergantung pada Pariwisata, Gubernur Koster dan Kapolda Bali Ajak Masyarakat Perkuat Keamanan Digital

Dorong Digitalisasi Jadi Kekuatan Baru Pariwisata Bali

Foto: Gubernur Bali Wayan Koster saat menghadiri pembukaan Seminar Literasi Digital 2026 bertajuk “Bali Cerdas Digital, Bali Aman Digital” di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Kamis (29/10/2026).

Denpasar, KabarBaliSatu

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital harus dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat sektor pariwisata dan mendorong pertumbuhan ekonomi Bali. Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, teknologi digital juga menyimpan potensi risiko yang perlu diantisipasi bersama.

Pesan tersebut disampaikan Koster saat membuka Seminar Literasi Digital 2026 bertajuk “Bali Cerdas Digital, Bali Aman Digital” di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Kamis (29/10/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kapolda Bali Brigjen Pol. Dr. Pasma Royce, S.I.K., M.H., Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Putra Widiastawa, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Bali.

Koster mengatakan, Bali memiliki posisi strategis sebagai salah satu destinasi pariwisata dunia. Selain menjadi penggerak utama perekonomian daerah, Bali juga menjadi wajah Indonesia di mata internasional. Karena itu, stabilitas dan keamanan Bali harus dijaga bersama, termasuk di ruang digital.

“Bali ini merupakan salah satu destinasi pariwisata dunia. Pariwisata menjadi penggerak perekonomian daerah sekaligus wajah Indonesia di mata dunia. Jadi, sangat penting posisi Bali ini yang harus kita jaga,” tegasnya.

Kunjungan Wisatawan Terus Meningkat

Koster memaparkan, sektor pariwisata Bali menunjukkan tren pemulihan yang kuat setelah melewati masa pandemi Covid-19. Pada 2025, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara melalui jalur udara mencapai sekitar 7,05 juta orang, melampaui capaian sebelum pandemi.

Sebagai perbandingan, pada 2019 jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali melalui jalur udara tercatat sekitar 6,3 juta orang. Angka tersebut saat itu telah menjadi capaian tertinggi sebelum pandemi.

Menurut Koster, peningkatan tersebut menunjukkan bahwa Bali kembali menjadi destinasi yang semakin menarik perhatian masyarakat dunia.

Tren positif berlanjut pada 2026. Hingga September, kunjungan wisatawan mancanegara melalui jalur udara telah mencapai sekitar 5,2 juta orang. Dengan mempertimbangkan perkembangan kunjungan harian, Koster memperkirakan jumlah tersebut dapat meningkat menjadi 7,1 juta hingga 7,2 juta orang sampai akhir tahun.

“Setelah Covid, Bali semakin menarik perhatian masyarakat dunia. Karena itu, kita harus menjaga momentum pemulihan ini agar pariwisata Bali terus tumbuh dan tidak kembali mengalami gangguan,” ujarnya.

Ekonomi Bali Tumbuh di Atas Nasional

Pertumbuhan pariwisata turut memberikan kontribusi terhadap kinerja ekonomi Bali. Koster menyebutkan, perekonomian Bali tumbuh sebesar 5,82 persen pada 2025, menempatkan Bali di posisi kelima secara nasional.

Ia menilai capaian tersebut istimewa karena struktur ekonomi Bali tidak bertumpu pada sumber daya alam seperti pertambangan, minyak, gas, batu bara, atau emas. Sebaliknya, aktivitas ekonomi Bali sangat bergantung pada sektor pariwisata dan berbagai usaha yang tumbuh di sekitarnya.

Pada 2026, pertumbuhan ekonomi Bali juga menunjukkan tren positif. Koster menyampaikan bahwa ekonomi Bali tumbuh 5,5 persen pada triwulan I dan 5,7 persen pada triwulan II. Untuk triwulan III, ia memperkirakan pertumbuhan berada pada kisaran 5,8–5,9 persen.

Ia berharap tren tersebut dapat berlanjut hingga akhir tahun sehingga perekonomian Bali tetap tumbuh kuat dan berada di atas rata-rata nasional.

Koster menilai, pemanfaatan teknologi digital turut berperan dalam mendorong produktivitas dan mempercepat berbagai aktivitas ekonomi. Digitalisasi memungkinkan masyarakat dan pelaku usaha menjalankan kegiatan secara lebih efektif, sekaligus memperluas peluang pengembangan usaha.

Namun, menurutnya, kemajuan tersebut harus diimbangi dengan upaya menjaga keamanan dan stabilitas daerah.

Keamanan Digital Menentukan Keberlanjutan Pariwisata

Koster mengingatkan bahwa pemulihan pariwisata Bali setelah pandemi masih relatif baru. Karena itu, seluruh pemangku kepentingan perlu menjaga situasi tetap kondusif agar kepercayaan wisatawan dan pelaku usaha tidak terganggu.

Ia menegaskan, ketergantungan ekonomi Bali terhadap pariwisata membuat keamanan dan keberlangsungan sektor tersebut menjadi kepentingan bersama.

Lebih dari 65 persen perekonomian Bali, menurut Koster, bersumber dari sektor pariwisata. Ketika aktivitas pariwisata terganggu, dampaknya akan langsung dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat dan sektor usaha.

Pengalaman pandemi Covid-19 menjadi pelajaran penting. Pada 2020, ketika mobilitas dan interaksi dengan dunia luar dibatasi, ekonomi Bali mengalami kontraksi hingga 9,3 persen. Pada 2021, kontraksi berhasil ditekan menjadi 2,46 persen, sebelum perekonomian berangsur pulih pada 2022 dan tahun-tahun berikutnya.

Kini, setelah kembali mencatat pertumbuhan positif, Bali harus menjaga capaian tersebut melalui kerja sama pemerintah, aparat keamanan, pelaku industri pariwisata, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan.

Koster menekankan bahwa pemanfaatan teknologi digital tidak cukup hanya berorientasi pada kemudahan dan kecepatan. Ruang digital juga harus dijaga agar tidak menjadi sarana penyebaran informasi yang merugikan, penipuan, maupun aktivitas yang dapat mengganggu citra dan keamanan pariwisata Bali.

Kapolda Bali: Rasa Aman Melahirkan Kepercayaan

Sementara itu, Kapolda Bali Brigjen Pol. Pasma Royce mengatakan, perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat, mulai dari komunikasi, pekerjaan, transaksi, hingga aktivitas ekonomi.

Bagi Bali yang mengandalkan pariwisata sebagai salah satu penggerak utama perekonomian, transformasi digital kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ekosistem industri tersebut.

Digitalisasi telah dimanfaatkan dalam berbagai tahapan perjalanan wisatawan, mulai dari promosi destinasi, pemesanan hotel dan vila, penyediaan transportasi, hingga pembayaran layanan wisata.

Menurut Pasma Royce, pemanfaatan teknologi tersebut memberikan peluang bagi pelaku usaha untuk memperluas jangkauan promosi, meningkatkan kualitas pelayanan, serta membuka kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat.

Meski demikian, perkembangan ruang digital juga perlu diiringi kesadaran mengenai keamanan siber. Upaya perlindungan terhadap masyarakat dan wisatawan menjadi penting agar kemudahan teknologi tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang melakukan kejahatan.

“Pariwisata yang berkualitas membutuhkan rasa aman. Rasa aman melahirkan kepercayaan. Kepercayaan merupakan modal utama untuk menjaga keberlanjutan pariwisata Bali,” tegas Pasma Royce.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat membangun budaya saling mengingatkan, saling melindungi, dan berani melaporkan setiap indikasi kejahatan siber.

Masyarakat dapat menyampaikan laporan melalui Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), kanal pengaduan resmi Polri, maupun layanan Polisi 110.

Menurutnya, kecepatan pelaporan menjadi salah satu faktor penting untuk membantu aparat melakukan penanganan dan mencegah munculnya korban berikutnya.

Melalui seminar literasi digital tersebut, Pemerintah Provinsi Bali bersama jajaran terkait berharap masyarakat semakin cakap memanfaatkan teknologi sekaligus memahami risiko yang menyertainya.

Bali diharapkan tidak hanya dikenal karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keramahan masyarakatnya, tetapi juga sebagai destinasi pariwisata dunia yang aman dan terpercaya, baik di ruang fisik maupun digital. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini