Foto: Gubernur Bali Wayan Koster menghaturkan punia saat menghadiri Puncak Karya Panca Wali Krama di Pura Ulun Danu Batur, Songan, Kabupaten Bangli, Sabtu (26/9/2026).
Bangli, KabarBaliSatu
Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri Puncak Karya Panca Wali Krama di Pura Ulun Danu Batur, Songan, Kabupaten Bangli, Sabtu (26/9/2026). Prosesi ritual keagamaan yang digelar setiap sepuluh tahun sekali dan bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat ini berlangsung khidmat serta sarat makna keharmonisan alam.
Turut hadir mendampingi Gubernur dalam persembahyangan tersebut, Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta dan Danrem 163/Wira Satya Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, bersama para pemangku, pengempon pura, tokoh masyarakat, serta umat Hindu setempat.
Bagi Koster, Karya Panca Wali Krama di Pura Ulun Danu Batur yang dikenal sebagai salah satu pusat spiritual Bali sekaligus kawasan sumber air, memiliki makna jauh melampaui ritual keagamaan biasa. Momentum ini menjadi wujud nyata penerapan nilai-nilai Sad Kerthi, khususnya Wana Kerthi (pemuliaan hutan) dan Danu Kerthi (pemuliaan sumber air).
“Hutan dan air tidak hanya dipandang sebagai bagian dari alam yang harus dimanfaatkan, tetapi sebagai sumber kehidupan yang mesti dimuliakan dan dijaga keberlangsungannya,” ujar Koster di sela-sela kegiatan.
Ia menegaskan bahwa semangat pemuliaan alam ini sejalan dengan fondasi pembangunan daerah melalui visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang menempatkan keharmonisan antara alam, manusia, dan kehidupan sebagai prioritas utama.
“Kalau kita menjaga alam, sesungguhnya kita sedang menjaga kehidupan kita sendiri. Menjaga Bali bukan hanya tentang membangun dan memajukan daerah, tetapi juga tentang merawat kesucian alam, menghormati sumber kehidupan, dan memastikan nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman,” tegasnya.
Pelaksanaan Karya Panca Wali Krama ini melalui tahapan panjang yang berlangsung selama hampir dua bulan, dimulai sejak 12 Agustus 2026 dan akan diakhiri pada 7 Oktober 2026 mendatang. Seluruh prosesi dilaksanakan secara bertahap dan ketat sesuai aturan wariga serta dresta Bali.
Beberapa tahapan krusial yang telah dilewati meliputi prosesi Danu Kerthi atau Mapag Toya pada 8 September, dilanjutkan dengan ritual Malasti, Mapekelem ring Danu, dan Pakelem ring Gunung pada 18 September.
Adapun tahapan inti diawali melalui Tawur Manca Wali Krama yang bertempat di Genah Peyadnyan pada 21 September. Memasuki hari puncak pada Sabtu (26/9), umat melaksanakan persembahyangan di sejumlah pura sebelum dilanjutkan dengan prosesi Ida Bhatara Tedun ke Peselang, Perayungan, Pedanaan, hingga Ngaturin Ageng di Pura Ulun Danu Batur.
Pascapuncak karya, rangkaian upacara akan dilanjutkan dengan pelaksanaan Bhakti Penganyar yang digelar secara bergiliran oleh pemerintah daerah bersama masyarakat dari seluruh kabupaten dan kota se-Bali hingga penutupan pada 7 Oktober 2026. (kbs)

