Foto: Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Golkar daerah pemilihan Bali sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Bali, Gde Sumarjaya Linggih saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Desa Pering, Gianyar, Sabtu (12/9/2026).
Gianyar, KabarBaliSatu
Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Golkar daerah pemilihan Bali sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Bali, Gde Sumarjaya Linggih yang akrab disapa Demer, kembali menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Desa Pering, Gianyar, Sabtu (12/9/2026).
Namun, sosialisasi kali ini dikemas berbeda. Tak hanya membahas nilai-nilai kebangsaan, kegiatan tersebut diarahkan untuk mendorong pemberdayaan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar mampu berkembang dan naik kelas di tengah pesatnya perubahan ekonomi digital.
Dalam pemaparannya, Demer menegaskan bahwa Empat Pilar Kebangsaan bukan sekadar materi yang bersifat teoritis. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus menjadi landasan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika masyarakat menjalankan aktivitas ekonomi dan membangun usaha.
Menurut Demer, Pancasila menjadi dasar penting dalam membangun ekonomi rakyat yang mengedepankan keadilan sosial dan semangat gotong royong. Sementara Undang-Undang Dasar 1945 memberikan landasan konstitusional bagi warga negara untuk memperoleh penghidupan yang layak dan memiliki kesempatan untuk berusaha.
Selanjutnya, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi wadah untuk menyatukan seluruh potensi daerah demi kemakmuran bersama. Sedangkan Bhinneka Tunggal Ika, kata Demer, menjadi kekuatan dalam membangun kolaborasi di tengah keberagaman masyarakat dan pelaku usaha.
“UMKM adalah tulang punggung perekonomian kita. Memahami nilai kebangsaan harus sejalan dengan memperkuat ekonomi warga. Melalui pelatihan digital marketing ini, kita ingin memastikan UMKM kita tidak hanya bertahan, tapi benar-benar naik kelas,” ujar Demer di hadapan para peserta.
Sebagai bentuk dukungan nyata, kegiatan tersebut juga diisi dengan pelatihan digital marketing bagi para pelaku UMKM. Peserta dibekali pemahaman mengenai pemanfaatan media sosial hingga optimalisasi platform e-commerce untuk memperluas jangkauan pemasaran.
Demer menilai, perkembangan teknologi digital telah membuka peluang yang jauh lebih besar bagi UMKM. Produk yang sebelumnya hanya dipasarkan di lingkungan sekitar kini dapat diperkenalkan kepada konsumen di berbagai daerah, bahkan berpotensi menembus pasar nasional dan internasional.
Namun, menurutnya, kemampuan menggunakan teknologi saja belum cukup. UMKM juga harus memiliki manajemen usaha yang baik, legalitas dan administrasi yang tertata, pencatatan keuangan, kualitas produk, branding, inovasi, serta kemampuan membangun jaringan dan kolaborasi.
“Naik kelas tidak sekadar berarti omzet meningkat atau jumlah produk bertambah. UMKM naik kelas berarti usaha menjadi semakin profesional, inovatif, kompetitif, adaptif, dan berkelanjutan,” demikian pesan yang ditekankan dalam materi sosialisasi.
Teknologi Harus Memperkuat Jati Diri
Dalam konteks ekonomi digital, Demer juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan karakter kebangsaan.
Teknologi, menurutnya, merupakan alat untuk mempercepat perkembangan usaha. Sementara nilai menjadi arah agar kemajuan tersebut tetap berjalan dalam koridor yang benar.
Karena itu, pelaku UMKM didorong untuk menjadikan kejujuran, tanggung jawab, keadilan, gotong royong, kepedulian sosial, serta kecintaan terhadap produk Indonesia sebagai bagian dari praktik usaha sehari-hari.
Nilai gotong royong, misalnya, dapat diwujudkan melalui kolaborasi antarpelaku UMKM. Pelaku usaha kuliner dapat bekerja sama dengan petani lokal, produsen kemasan dengan pengusaha makanan, sementara pelaku pariwisata dapat membangun kemitraan dengan perajin dan produsen lokal
Begitu pula dengan nilai keadilan sosial yang dapat diterapkan melalui pemberian upah yang layak, perlakuan yang adil terhadap pekerja, serta pelayanan yang baik kepada konsumen.
Sementara kecintaan terhadap produk Indonesia dapat diwujudkan dengan mengoptimalkan bahan baku lokal sekaligus memperkenalkan produk daerah kepada pasar yang lebih luas.
Demer juga mengingatkan agar digitalisasi tidak membuat UMKM kehilangan identitas lokal. Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat budaya dan kearifan lokal yang menjadi keunggulan produk Indonesia, khususnya Bali.
Produk kerajinan tradisional, kuliner khas daerah, fesyen, hingga produk berbasis budaya dapat dikemas secara modern melalui foto, video, branding, dan storytelling yang menarik tanpa menghilangkan nilai serta jati diri di balik produk tersebut.
UMKM Harus Siap Menghadapi Persaingan
Di sisi lain, transformasi digital juga membawa tantangan baru. Pelaku UMKM kini tidak hanya berhadapan dengan kompetitor di lingkungan sekitar, tetapi juga dengan produk dari berbagai daerah bahkan negara lain.
Literasi digital menjadi salah satu kebutuhan penting agar pelaku usaha mampu memanfaatkan teknologi secara optimal. Selain itu, konsistensi kualitas produk, keamanan transaksi, perlindungan konsumen, etika berkomunikasi di ruang digital, hingga kemampuan membaca perubahan tren juga menjadi faktor penting.
Untuk itu, pelaku UMKM didorong terus meningkatkan kualitas produk, membangun merek yang kuat, memanfaatkan media digital secara strategis, meningkatkan literasi keuangan, memperkuat storytelling, serta memperluas kolaborasi.
“Naik kelas bukan berarti meninggalkan jati diri,” menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan tersebut.
UMKM, lanjut materi sosialisasi, boleh memanfaatkan teknologi paling modern, berjualan melalui marketplace, memiliki pelanggan dari berbagai daerah maupun negara, serta menggunakan strategi pemasaran digital yang semakin canggih. Namun, seluruh proses tersebut harus tetap dibangun di atas kejujuran, tanggung jawab, gotong royong, kepedulian terhadap masyarakat, dan kecintaan terhadap produk lokal.
Dengan demikian, UMKM masa depan bukan hanya UMKM yang mampu meningkatkan omzet, tetapi juga memiliki kualitas, integritas, inovasi, dan kontribusi yang semakin besar terhadap masyarakat.
Bagi Demer, membangun UMKM pada akhirnya bukan semata-mata membangun bisnis. Penguatan UMKM merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat, membuka lapangan pekerjaan, menjaga produk dan budaya lokal, sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tengah persaingan global.
UMKM naik kelas, ekonomi tumbuh. UMKM berkarakter, bangsa semakin kuat. UMKM digital, Indonesia semakin kompetitif.
Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Desa Pering, Gianyar, tersebut berlangsung hangat dan interaktif. Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama Demer dan seluruh peserta. (kbs)

