BerandaDaerahGubernur Koster: SDM Bali Harus Unggul, Berkarakter dan Berjati Diri

Gubernur Koster: SDM Bali Harus Unggul, Berkarakter dan Berjati Diri

Foto: Gubernur Bali, Wayan Koster.

Denpasar, KabarBaliSatu

Gubernur Bali Wayan Koster resmi membuka Utsawa Dharma Gita (UDG) XXXIII Provinsi Bali Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Art Center Denpasar, Jumat (11/9/2026). Pembukaan ditandai dengan pemukulan kulkul.

Mengusung tema “Dharmagita Atmanam Dharma”, UDG XXXIII berlangsung hingga 16 September 2026. Pembukaan kegiatan turut dimeriahkan sasolahan Sanggar Seni KOKAR bertajuk “Sandyagita Jaratkaru”.

UDG tahun ini menjadi ruang bagi generasi muda hingga masyarakat umum untuk mengasah kemampuan sekaligus memperkuat nilai-nilai budaya dan spiritual Hindu. Sebanyak 11 bidang lomba dengan 37 kategori dipertandingkan, mulai dari membaca sloka, palawakya, kakawin, kidung, nyanyian keagamaan Hindu, gaguritan, dharmawacana Bahasa Bali, dharmawacana Bahasa Inggris, menghafal sloka, dharmawiwada hingga dharmacarita.

Peserta berasal dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak, remaja hingga dewasa, termasuk kalangan pelajar dan masyarakat umum.

Dalam sambutannya, Koster menegaskan pembangunan sumber daya manusia (SDM) Bali tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik. Menurutnya, generasi Bali ke depan harus tumbuh dengan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, karakter, moral, etika, integritas dan jati diri sebagai orang Bali.

“Nature-nya orang Bali itu adalah orang-orang unggul,” ujar Koster.

Namun, Koster mengingatkan perkembangan zaman juga membawa tantangan terhadap karakter dan kesejatian manusia Bali. Ia menyoroti potensi munculnya berbagai perilaku negatif, seperti korupsi, kesombongan, kenakalan dan tindakan buruk lainnya yang dinilai dapat menggerus nilai-nilai kehidupan masyarakat Bali.

Karena itu, penguatan karakter dan identitas lokal, kata Koster, harus menjadi nilai tambah bagi SDM Bali dalam menghadapi persaingan di tingkat nasional maupun global.

Ia menilai kemampuan akademik antardaerah relatif mudah dibandingkan karena sistem pendidikan menggunakan kurikulum dan mata pelajaran yang sama. Yang membedakan, menurut Koster, adalah karakter, integritas, etika, budaya dan identitas yang melekat pada setiap individu.

“Orang Bali yang kita desain ini tidak saja matematik 8, tapi plus plus plus plus plus. Yang ada cuma di Bali,” tegasnya.

Koster menyebut penggunaan aksara Bali, bahasa Bali, busana adat Bali, penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali hingga Utsawa Dharma Gita merupakan bagian dari strategi besar untuk memperkuat identitas generasi muda Bali.

Dalam konteks tersebut, UDG dinilai memiliki posisi strategis. Ajang ini bukan semata-mata kompetisi untuk mencari pemenang, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter, memperkuat identitas budaya dan menanamkan jati diri Bali kepada generasi muda.

Di sisi lain, Koster meminta jumlah peserta UDG di masing-masing kabupaten/kota dievaluasi. Hal itu menyusul adanya penurunan jumlah peserta dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.

Ia meminta Dinas Kebudayaan Bali mencari penyebab penurunan tersebut, termasuk mengevaluasi apakah persoalan anggaran menjadi salah satu faktor.

“Kalau uangnya kurang kan tidak berarti harus mengurangi peserta. Ada cara lain yang harus bisa dijalankan,” katanya.

Koster juga menekankan agar setiap kegiatan kebudayaan di Bali tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pelestarian budaya, tetapi sekaligus mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.

Ia mendorong penyelenggaraan UDG turut memberikan ruang bagi pelaku UMKM lokal. Salah satunya melalui penggunaan busana adat serta produk kerajinan Bali yang dapat dipakai oleh para peserta selama mengikuti rangkaian kegiatan.

Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Kebudayaan diharapkan menjadi kekuatan yang hidup—membentuk karakter generasi muda sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat Bali. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini