BerandaDaerahMengangkat Taksu Wastra Bali dari Panggung Daerah Menuju Industri Fesyen Dunia

Mengangkat Taksu Wastra Bali dari Panggung Daerah Menuju Industri Fesyen Dunia

Putri Koster Tekankan Nilai Filosofis Kain Tradisional dan Potensi Endek Bali Menembus Pasar Global

Foto: Ny. Putri Koster saat menghadiri gelaran Road show “Wastra Hitakara” yang berlangsung di Alun-Alun Kota Bangli, Kamis (10/9/2026).

Bangli, KabarBaliSatu

Kain tradisional Bali tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga menyimpan taksu, motif, dan nilai filosofis mendalam yang mencerminkan identitas serta warisan budaya masyarakat. Nilai-nilai luhur inilah yang menjadi pendorong utama Dekranasda Provinsi Bali untuk terus mengenalkan wastra Bali ke panggung industri fesyen yang lebih luas, baik nasional maupun global.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, di sela-sela peragaan busana “Wastra Hitakara” yang berlangsung di Alun-Alun Kota Bangli, Kamis (10/9/2026). Road show ini dimanfaatkan sebagai sarana mengedukasi masyarakat mengenai kekayaan karakter kain tradisional di setiap daerah di Bali.

Putri Koster mencontohkan makna mendalam di balik kain geringsing. Secara etimologis, kata “gering” berarti sakit dan “sing” berarti tidak, yang merepresentasikan doa serta harapan akan kesehatan dan keselamatan yang diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi menenun. Karakter spiritual dan identitas seperti inilah yang menjadi daya pikat utama kain tenun Bali.

Kekuatan filosofis dan estetika wastra Bali terbukti telah diakui oleh dunia internasional. Putri Koster mengingatkan bahwa pada periode sebelumnya, rumah mode ternama dunia, Dior, telah memilih enam motif kain endek Bali untuk diaplikasikan ke dalam koleksi busana perancang dunianya.

“Hal ini tentu menjadi kebanggaan bagi kita semua. Oleh karena itu, saya mengajak para perajin kain endek untuk terus menenun dan melakukan regenerasi. Sementara itu, para desainer muda Bali agar terus berkreasi dan berinovasi menghasilkan busana untuk ditampilkan di atas panggung, sekaligus menjadi rekomendasi pakaian yang dapat digunakan pada hari kerja,” tegas Putri Koster.

Melalui rangkaian program berkelanjutan, karya-karya kreatif desainer Bali didorong agar tidak berhenti sebagai tontonan di atas panggung peragaan saja, tetapi mampu merambah ruang kreatif serta pasar digital yang lebih luas. Wastra Bali diarahkan menjadi bagian integral dari perkembangan industri fesyen modern tanpa mengikis spirit dan nilai budayanya.

Keberagaman dan potensi busana daerah tersebut ditunjukkan secara nyata dalam gelaran di Bangli, di mana 30 model memperagakan karya dari tujuh desainer muda Bali. Merek dan desainer yang tampil meliputi A Tiga by Turah Mayun, Taksu Design by Adhi Taksu, Agung Bali Collection by Agung Indira, Limas Boutique by Yenni Limas, Deluxe Design by Dayu Dian, Ipong Design by Ipong, serta Body & Mind Bali by Dayu Karang. Menariknya, A Tiga by Turah Mayun juga menampilkan variasi pakaian adat seperti Payas Agung Kabupaten Karangasem, Payas Ningrat Kabupaten Buleleng, dan Payas Agung Kota Denpasar.

Dukungan penuh turut disampaikan oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Bangli, Ny. Sariasih Sedana Arta. Ia berharap perhelatan ini mampu memacu motivasi para pelaku UMKM dan IKM kerajinan di Bangli untuk memperluas jangkauan pasar serta menumbuhkan rasa bangga di kalangan masyarakat dalam menggunakan produk lokal Bali.

Putri Koster menegaskan kembali bahwa Bali tidak hanya tumbuh sebagai destinasi pariwisata utama, tetapi juga sebagai pusat inspirasi dunia. Denyut perekonomian daerah terus digerakkan oleh tangan-tangan terampil para perajin, desainer, dan seniman yang konsisten melestarikan kekayaan budaya Bali. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini