Foto: Gubernur Koster saat menghadiri Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) ke-14 di Aula Pascasarjana Universitas Udayana, Kampus Sudirman, Denpasar, Jumat (4/9).
Denpasar, KabarBaliSatu
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa kemajuan teknologi Artificial Intelligence (AI) tidak boleh mengikis identitas dan nilai-nilai lokal. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara kunci sekaligus membuka Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) ke-14 di Aula Pascasarjana Universitas Udayana, Kampus Sudirman, Denpasar, Jumat (4/9).
Di hadapan para peneliti dan akademisi, Koster menyampaikan bahwa kecerdasan buatan sejatinya harus diposisikan sebagai instrumen untuk memperkuat kecerdasan manusia dan kebudayaan lokal, bukan malah menggantikannya. Kemampuan teknologi dalam mengolah data besar, menyusun alternatif desain, hingga menganalisis lingkungan tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan.
“Kemampuan teknologi tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan. AI dapat membantu menjawab pertanyaan bagaimana, tetapi manusia tetap harus menentukan untuk apa, untuk siapa, di mana, dan dengan nilai apa pembangunan itu dijalankan,” ujar Koster.
Ia mengingatkan bahwa tanpa kecerdasan budaya, pemanfaatan teknologi berisiko melahirkan lingkungan binaan yang efisien secara fisik namun kehilangan makna dan identitas. Oleh karena itu, pembangunan di Bali harus mengintegrasikan kecerdasan buatan dengan karakteristik sosial, ekologis, dan nilai tradisi setempat.
Koster juga mendorong para peneliti untuk membangun ekosistem data digital lingkungan binaan serta merancang AI berbasis konteks lokal. Langkah ini dinilai penting agar teknologi mampu menghadirkan solusi presisi yang menjawab kebutuhan wilayah tanpa menciptakan keseragaman. (kbs)

